Jejak Kakiku Untuk Ayahku

IMG_1557

Air mata ini enggan untuk berhenti bak mata air dimusim pengujan. Deras, dan baru kali ini mengalir sehebat ini. Di ruang tunggu bandara, terjulur lemas kaki ini. Seolah tak percaya dengan berita pagi ini. Biasanya sebelum mentari terbit, kaki ini kokoh melibas 10Km aspal namun kali ini seperti tak ada tenaga untuk melangkah.

Pukul 04.30 seperti biasa, ponsel saya sudah berisik memekakan telinga. Sebuah peringatan untuk terjaga dalam hangatnya tidur. Dengan malas tangan ini mematikan sumber suara berisik tadi. Entah mengapa, ingin kembali menarik selimut yang semalam membungkus tubuh kedinginan ini. Tak berselang lama, suara ponsel itu muncul kembali dan kali ini dengan nada yang berbeda.

Aneh, kenapa sepagi ini ibu dari seberang pulau sana menelpon saya. Dengan berdemen sebelumnya, agar tak kelihatan baru bangun tidur saya memencet tombol hijau. Terdengar suara tangisan orang banyak yang menjadi latar suara. Ada apa ini gerangan ?. Tiba-tiba terdengan suara yang asing ditelinga saya dan ini bukan suara ibu. “Nang papimu tidak ada dan kabari yang lain, kalo bisa kamu pulang tut…tut…tut..”. Itu yang terdengar sebelum mentari menampakan diri.

Seolah tak percaya, dan air mata ini mengalir deras tapi tak bisa menangis. Jejak kaki pertama adalah ke kamar kecil untuk mendinginkan diri dan mencari ketengan. Ini bukan pukulan, tetapi tendangan berat yang membuat saya seolah terhempas ke dimensi lain yang tak saya mengerti. Setelah kepala dingin, mencoba berpikir harus bagaimana.

Kubuka komputer jinjing ini untuk berselancar kedunia maya. Mengabarkan hingga berburu tiket pesawat dengan penerbangan paling pagi. Akhirnya tiket sudah ditangan segera meluncur menuju bandara.

13580478471505258916

Dalam kabin pesawat, jejak kaki ini seperti tak ada daya. Remahan biskuit dalam lantai pesawat sepertinya tak remuk terinjak oleh sepatu. Saya seolah melayang dengan kaki yang ringan, namun hati ini sungguh berat rasanya. Tetesan air mata kadang menitik membasahi karpet lantai saat kepala tertunduk menahan hempasan ujian dari Tuhan.

Turbulensi pesawat yang kadang menakutkan seolah tak saya pedulikan. Diluar jendela pesawat yang menggelitik dengan pemandangan dari angkasa tak saya pedulikan. Pikiran saya hanya pada jejak kaki ini saat menuruni tangga pesawat.

1358047892506602685

Harumnya udara borneo, inilah yang saya rasakan setelah 22 tahun tak mengunjunginya. Setelah pintu pesawat terbuka, dan setapak demi setapak menuruni tangga kaki ini seolah tertinggal dan tak berdaya. Air mata ini terus aja mengalir walau kini tak sederas tadi. Akhirnya sampai juga menginjak tanah yang ku impikan selama ini.

Desember, hati ini mengajak tubuh untuk kembali ke kalimantan. Namun apa daya, menjelang keberangkatan harus rela istirahat karena sakit. Kepergian kesana akhirnya batal entah sampai kapan hati kecil ini mampu membujuk saya untuk kesana.

13580479541840791416

Dalam kendaraan menuju rumah, kaki ini sudah tak mampu lagi menapak. Tubuh lemas ini tersandar tak berdaya di kursi belakang mobil. Merebahkan badan, karena duduk serasa mengangkat ransel yang berat. Sembari melihat bintik-bintik air yang membasahi kaca mobil, karena di luar sana sedang hujan lebat. Sepertinya langit menggantikan saya untuk menangis.

Mata ini ingin terpejam, namun sepertinya ada selumbar yang membuat selalu terjaga. Ingin rasanya sampai rumah, namun penanda KM jalan masih  lebih dari seratus Km untuk sampai rumah. Goncangan roda mobil saya acuhkan tak beda jauh dengan turbulensi pesawat yang menggoyang tubuh ini.

13580480061745778882

Mobil berhenti, aneh langkah kaki terasa ringan saat melihat wajah-wajah  duka menatap saya. Ada apa dengan saya, saat jabat tangan mengampiri dan pelukan entah dari siapa begitu erat ditubuh ini. Separuh bagian depan sepatu saya yang berpijak, saat tubuh ini bersujud didepan sepatu yang mengkilap.

Tak berani aku memanang wajahnya yang tersenyum bahagia. Aku takut membuatnya kecewa, aku takut membuatnya sedih karena jejak-jejak kakiku.  Saya tak mau menangis buat engkau, air mataku tak layak untuk menghantar kepergianmu. Saya mencoba sekuat mungkin agar tak cengeng didepan wajahmu saat seperti engkau menghajar pakai sandal hingga saya menangis jera gara-gara tak taat aturan mainmu.

Tubuh yang sudah kaku itu, bersama saya angkat dalam peti dan senyumanmu membuat saya semakin kuat mengantar kepergiamu. Jejak-jejak kaki ini mengantar ketempat peristirahatanmu dengan tengah Borneo yang menjadi tanah impian dan kebanggaanmu. Ratusan mereka yang berempati berbondong dari belakang menghantar untuk terakhir kalinya.

1358048064563235104

Kini engkau sudah kembali ke asal dalam pangkuan pertiwi. Saat tubuh ringkihmu beristirahat, sukmamu ke nirwana dan jiwa serta semangatmu ada bersamaku. Saya tahu yang kau mau, sebab engkau tidak mau apa-apa daripadaku, namun engkau mau aku berbuat apa untuk sesama dan itulah yang kau mau. Itu yang selalu ku ingat dan akan kulakukan seperti apa yang kau teladankan padaku. Selamat jalan Papi…

Advertisements

4 thoughts on “Jejak Kakiku Untuk Ayahku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s