Salib Putih Mempertemukan Para Mitra

Gunung itu selalu di depan mata, namun hanya impian belaka.

Gunung itu selalu di depan mata, namun hanya impian belaka.

Secara geografis, rumah saya bisa dikatakan di lereng gunung. Dengan ketinggian 1100mdpl, setidaknya bisa membuat kangen hawa gunung itu bagaimana. Dari depan rumah saya bisa memandang gunung gajah mungkur, ungaran, andong dan telomoyo. Dari samping kanan rumah, nan jauh disana berdiri gunung lawu. Tepat di belakang rumah berdiri dengan megah gunung merbabu. Semenjak SD hingga SMP hanya angan dan impian untuk sampai ditempat tersebut.

Inilah yang kudapat saat SMA

Inilah yang kudapat saat SMA

SMA, tahun 1998 saat pertama kali mendaftar mata ini melirik pada majalah dinding. Sebuah poster dengan siluet orang memanjat tebing dengan peralatan lengkap. Tulisan PLG JB Diksar VIII, diikuti tulisan kecil dibawahnya. “nah ini dia yang saya cari“, masalahnya sekarang adalah bagaimana lolos seleksi 900an pendaftar dan hanya 360 saja yang diterima. Saban hari melihat jurnal, dan sementara masih diposisi aman. Akhirnya angka 341 menjadi milik saya, artinya saya diterima.

Selembar formulir seharga 500 rupiah saya tebus dan langsung saya isi. Inilah formulis seleksi masuk PLG JB dengan nomer urut 72. 4 Hari seleksi dan akhirnya diterima dengan nomor urut 12 untuk laki-laki, dari sekitar 125 pendaftar. 25 orang yang diterima akhirnya ikut diksar selama 3 hari 2 malam.

Sebuah catatan dari gunung ke gunung.

Sebuah catatan dari gunung ke gunung.

Pamitran Lelana Giri Jaga Bhumi, membuat saya mendaki 36 kali semenjak duduk di bangku SMA. Semua gunung di Jawa Tengah sudah saya libas habis. Mendaki entah sendiri, bersama PLG JB, atau hanya bersama teman senasib seperjuangan itu adalah kisah-kisah yang terangkum dalam buku catatan perjalanan saya. Buku setebal 230 adalah catatan dari mengerti gunung hingga menyelesaikan 7 puncak, dari Sumatra hingga Nusa Tenggara Barat. Ada 72 bab yang menceritakan masing-masing kisah setiap kali mendaki. Hingga saat ini tercatat ada 126kali pendakian dan belum sempat dibukukan.

Malam itu kita dipertemukan.

Malam itu kita dipertemukan.

30 Desember 2012, momen paling spesial dimana saya bertemu dengan mereka yang membuat saya menjadi seperti ini. Para senior, sesepu, kang mas, mbak yu yang begitu saya hormati. Merekalah cikal bakal karakter dalam diri saya yang saya temukan setelah mendaki lebih dari 100 kali. Mereka kini duduk didepan saya. bercanda, bercengkrama, berbagi suka dan duka.

Kesederhanaan inilah kekayaan kita sebenarnya.

Kesederhanaan inilah kekayaan kita sebenarnya.

Karakter mereka yang nguwongke, nyedulur, ramah, rendah hati, bersahabat telah menampar saya dengan pikiran buruk dengan yang namanya senioritas. Rasa segan, sungkan, hilang sudah dengan jabat tangan hangat tanpa membedakan kasta angkatan. Tawa renyah, hangatnya pembicaraan mereka telah menghancurkan ketakutan diri menghadapi mereka yang lebih tua. Membaur lintas angkatan, tanpa mengkotak-kotakan diri dalam sekat angkatan, itulah yang mereka lakukan. Berbeda dengan ekspektasi saya, dimana semua menggrombol seperti gengster, membicarakan kesuksesan dirinya, memamerkan prestasi dan kekayaannya, bahkan mengumbarkan keangkuhannya. Namun, mereka luar biasa tampil dengan kesahajaan dan kesederhanaannya, dan itulah kekayaan mereka yang sebenarnya.

Beragam mode kehangatan dan hanya satu tujuan "merem".

Beragam mode kehangatan dan hanya satu tujuan “merem”.

Malam makin larut dalam pembicaraan yang saya katakan kongres PLG JB. Malam itu dibicarakan mau dibawa kemana pamitran ini. Beberapa resolusi untuk tahun depan tercapai sudah dan disusun hingga pukul 1 malam. Sembari mengobrol dengan kakak yang ada di Bali, kami terus mengobrol membicarakan organisasi ini. Tak terasa sudah jam setengah tiga pagi, dan harus kami tutup untuk sejenak memejamkan mata. Berselimutkan jarik, selimut tebal, kantung tidur, hingga ada yang cuma nebeng walau cuma kakinya, semua satu tujuan yakni merem.

Hangatnya tenda menghantar mimpi indah dari dunia nyata.

Hangatnya tenda menghantar mimpi indah dari dunia nyata.

Diluar sana beridiri beberapa tenda yang cukup hangat sepertinya. Niat hati ingin bergabung, namun saya urungkan karena kapan lagi tidur satu atap dengan para pendiri pamitran ini. Sepintas mata melihat mereka yang meringkuk dalam tenda dan alas kasur busa, sudah meninggalkan dunia nyata menuju alam mimpi. Mungkin ini adalah tidur paling nyenyak menjelang akhir tahun. Lampu remang-remang menghantar mereka menikmati kehangatan dini hari.

Rembulanpun tak mau kalah. dengan sinarnya menemani malam ini.

Rembulanpun tak mau kalah. dengan sinarnya menemani malam ini.

Cahaya bulam yang temaran sambil sesekali tertutup awan memapari deretan tenda-tenda yang basah oleh guyuran air hujan malam ini. Sang Purnama malam ini sepertinya ingin menemani kami dari atas cakrawala. Sinarnya yang hangat dan lembut membuat malam ini terasa singkat, sebab di ufuk timur sana sang surya sepertinya mulai menggeliat. Bintang timur memberi tanda, waktu menjelang subuh dan suara-suara panggilan suci sudah berkumandang dilangit. Entah ada yang tergugah untuk menjalankan ibadah atau tetap terpenjara dalam hangatnya selimut malam, itu adalah sebuah keputusan.

Kue lapis legit untuk menu pagi ini.

Kue lapis legit untuk menu pagi ini.

Selamat pagi, itu yang saya bisa ucapkan kepada teman dan rekan yang mendahului saya bangun. Pukul 5.30 badan ini sudah tak nyaman dalam hangatnya kantung tidur. Menikmati air dingin walau harus tersiksa dengan rasanya yang menusuk tulang. Setelah itu, mata ini menyaksikan dari sisi timur jauh. Lapis legit mengaburkan pandangan mata, karena begitu indahnya bukit-bukit terlihat lapis demi lapis. Kabut tipis menja di pembatas atar lembah. Tanpa warna dan kontras, namun begitu lembut dirasakan. Pagi ini luar biasa dan sangat sayang untuk dilewatkan. Saya hanya bisa melukiskan lewat gambar dan tulisan.

Merbabu yang selalu menggelitik mata dan memaksa kamera membuka rana.

Merbabu yang selalu menggelitik mata dan memaksa kamera membuka rana.

Sembari menikmati mentari pagi mata ini tertanam di sisi selatan. Puncak Syarif dengan ketinggian 3119mdpl menggelitik kamera untuk membuka rana. sejauh mata memandang, puncak ini nampah hanya sejengkal saja dari hadapan saya. Orang-orang begitu kerdil, namun acapkali bisa melebihi tingginya Kilualea. Sapa merbabu pagi ini sambil menikmati terpaan hangat sang surya.

Inilah mereka yang ceria walau bagi kami itu terasa menyiksa.

Inilah mereka yang ceria walau bagi kami itu terasa menyiksa.

Keceriaan teman-teman menikmati sajian alam pagi ini membuat saya terkagum. Pagi yang dingin membuat mereka rela mencelupkan tubuhnya dalam air yang tidak bersahabat. Namun keceriaan membuat mereka tak merasakan seperti apa yang saya bayangkan. Mungkin buat saya, pagi-pagi berenang bisa membuat kaki kesemutan, kram bahkan kejang-kejang. Cukup menyenangkan bisa mengabadikan mereka bersenang-senang, walau sebenarnya kedinginan.

Kami yang tahu diri, sudah paham musti bagaimana jaga diri. Cuku dengan teh dan kopi hangat ditemani roti bakar dan pisang goreng.

Kami yang tahu diri, sudah paham musti bagaimana jaga diri. Cuku dengan teh dan kopi hangat ditemani roti bakar dan pisang goreng.

Mereka yang tahu diri, cukup dari tepi itu yang terlintas di pikiran saya. Sambil menikmati sajian kopi dan teh hangat ditemani pisang goreng serta roti bakar sepertinya lebih menyenangkan dari pada harus berenang. Ngobrol sambil sesekali melihat tingkal polah mereka yang sedang berendam. Bagi yang usai berenang dan kedinginan, teh hangat dan pisang goreng membuat sirna penderitaan akibat suhu rendah. Pagi ini masing-masing memiliki agenda sendiri-sendiri. Berenang atau cukup duduk manis diseberang adalah sebuah pilihan.

Menampilkan kegalauan dan kegusaran dalam bentuk slide imaji masa lalu.

Menampilkan kegalauan dan kegusaran dalam bentuk slide imaji masa lalu.

Usai makan pagi, saatnya kembali membuat lingkaran kecil. Sang presenter pagi ini sudah siap memaparkan penderitaan hatinya yang semenjak kemarin gusar. Slide demi slide pendakian awal 90an dikeluarkan dengan sejuta kisah dan kenangan. Saya terpana melihat imaji-imaji lawas yang dipamerkan. Waktu itu saya masih SD mereka sudah berjalan-jalan ditempat impian saya. Kini mereka masih juga berkisah dan tetap bertualang seperti awal cerita mereka.

Lengan panjangnya yang mampu merangkul siapa saja dan mempertemukan kami disini.

Lengan panjangnya yang mampu merangkul siapa saja dan mempertemukan kami disini.

ini kisah dari kakak yang begitu inspiratif. Setiap kata-katanya penuh makna, yang kadang susah dicerna oleh otak saya. Namun kisah-kisahnya yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan begitu mengena untuk dipraktikan. Salah satu senior yang menggugah acara ini ada, an begitu getol untuk menyajikan kisah-kisahnya yang mungkin saat ini tak ada yang mau mengulangi. Bagi saya, orang ini luar biasa karena panjangnya lengan bisa merangkul siapa saja.

Moyot trailnya menghantarnya sepanjang sisi selatan pantai di Pulau Jawa.

Moyot trailnya menghantarnya sepanjang sisi selatan pantai di Pulau Jawa.

Nama mirip anaknya Bimasena ini tak kalah menarik. Melihat kegiatan alam bebas dengan cara yang tak terbatas. bertualang dengan motor trail sepanjang pesisir pantai selatan jawa mengajarinya nilai-nilai luhur kehidupan. Pembawaan tenang dan kalem, menutupi sepak terjangnya dialam bebas. Pengalaman selama bertualang yang kini menjadi pegangan dalam mengarungi kehidupan nyata adalah senjata ampuhnya.

"kowe ora usah melu-melu le..." kata bapaknya.

“kowe ora usah melu-melu le…” kata bapaknya.

Anak pertama, begitu nama yang bisa saya raba. Awal pembicaraan dengan “kowe ora usah melu-melu tho le” sebuah larangan dari orang tuanya tentang kegiatan alam bebas. Dibalik larangan ada usaha berbelit mencuri waktu dan kesempatan dialam bebas. Di balik pembawaanya yang pendiam, kakak yang satu ini bersyukur ikut pamitran ini, karena dia bisa memaknai kehidupan dan menemukan tak lagi teman namun sodara.

Aksen jawa yang khas gado-gado dengan bahasa Indonesia. Telenta untuk ditertawakan menjadikannya point of interest.

Aksen jawa yang khas gado-gado dengan bahasa Indonesia. Telenta untuk ditertawakan menjadikannya point of interest.

Siapa tak mengenalnya dengan aksi kocaknya. Saya ngeh dengan pentolan kasta 21 ini ketika dini dari ditengah-tengah perkebunan teh. Dalam barisan melingkar, saya mencoba menggugah perasaan mereka untuk saling mengumpat keluh kesahnya. Lain daripada yang lain, adik ini membawakan umpatan dalam bahasa jawa populer. Saat yang lain terisak oleh tangis dendam dan penyesalan, saya dalam hati tertawa gembira. Ditengah-tengah adu mulut ini ternyata ada pengisi acara yang memberi warna. Sejak itulah saya memancing-mancing agar anak ini terus berbicara. Ketidaksadaraannya telah menyadarkan, bahwa dia punya telenta untuk membuat orang menertawainya, bukankah itu melebihi dari sebuah ibadah dengan membuat orang lain senang. Dengan gaya khas dan aksen jawa kental, dia memberi warna dalam reuni ini, bisa saya katakan ada point of interest buat dia.

Selamat kepada mereka yang berani mengapresiasikan diri.

Selamat kepada mereka yang berani mengapresiasikan diri.

Siapa bilang orang gunung tak bisa berapresiasi. Lewat gambar, puisi, karikatur semua bisa ditumpahkan walaupun hasilnya bagi saya sangat mengecewakan. Namun apresiasi itu memang layak diapresiasi. Mungkin ini bukan karya mereka yang sebenarnya, namun sebagai pemicu untuk terus berkarya dan membuat semakin apresiatif. Sebagai pengamat dan pengumpat seni, saya bilang karya mereka hancur, namun keberanian merekalah yang mebuat kehancuran itu menjadi sebuah prestasi.

Sosok yang dulu ditakuti yang kini datang menghancurkan ekspetasi paranoid.

Sosok yang dulu ditakuti yang kini datang menghancurkan ekspetasi paranoid.

Saatnya orang yang menjadi momok ini tampil. Dengan gayanya yang khas, kadang serius dan menakutkan, kadang slengekan dan celelekan namun itulah pembawaannya. Ajakan bahwa alam yang akan mengajari mereka menjadi catatan bagi saya. Latihan bersama, selalau saya ingat untuk meleburkan jarak antara yang sudah bisa dan yang baru coba-coba. jauh-jauh dari celebes selatan datang ditempat ini adalah niat yang luar biasa. Sense of belongin yang bisa menjadi suri tauladan buat adik-adik angkatan, dimanapun ingatlah dari mana asalmu.

Yang tua yang muda sebenarnya sama saja, hanya waktu yang menjadi pembeda.

Yang tua yang muda sebenarnya sama saja, hanya waktu yang menjadi pembeda.

Saat semuanya sudah bubar, kini tinggal para sesepuh. Banyolan, ejekan, bullying, hingga pencemaran nama baik terjadi ditempat ini. Keakraban mereka dibalik kisah masa lalu yang selalu manis untuk dikenang dan rasa pahit yang sayang untuk dibuang. Mereka juga seperti kami, namun faktor waktu yang membedakan itu semua. Menjadi pembeda dengan kami, adalah pencapaian mereka yang susah kami tandingi atau kami ulangi. Rasa hormat ini akan selalu ada untuk mereka.

Kami datang dan saatnya kami pulang. sampai jumpa lain kesempatan dan kiranya tetap jadi kenangan.

Kami datang dan saatnya kami pulang. sampai jumpa lain kesempatan dan kiranya tetap jadi kenangan.

Salib Putih mempertemukan kita, akhirnya memisahan kita juga. Selembar imaji kenangan inilah yang akan kami simpan dan akan tayang diwaktu yang akan datang. Selama 2 hari 1 malam, sejuta ceritan dan beribu kenangan akan terus tersimpan dalam album kehidupan ini. Tak ada yang lebih indah selain persaudaraan, dan pamitran ini adalah habitatnya. Terimakasih untuk semuanya dan sampai jumpa dalam kisah masa depan yang penuh dengan kenangan.

4 thoughts on “Salib Putih Mempertemukan Para Mitra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s