Jeritan Mereka yangTerdengar Merdu

Sang Banteng yang menatap si kera

Semalam saya menyaksikan sebuah film yang berjudul Dolphin Tale. Dikishakan dalam ceritanya tentang penyelamatan seekor lumba-lumba yang terdampar di pantai karena tubuhnya terjerat tali. Film ini diadopsi dari sebuah kisah nyata. Perjuangan mereka yang peduli dengan seekor lumba-lumba naas yang terpaksa diamputasi ekornya karena mengalami infeksi. Perjuangan mereka sungguh luar biasa hingga akhirnya Winter, nama sang lumba-lumba selamat dan diberi ekor palsu.

Kisah nyata dari banyak kisah bagaimana usaha penyelamatan satwa oleh umat manusia. Untung lumba-lumba tersebut terdampar di Amerika dengan kepedulian warga terhadap hewan cukup tinggi, tak terbayang jika di tempat lain mungkin bisa jadi rayahan karena ada daging gratis. Fenomena ini nyata dan ada, dimana ada masyrakat yang begitu peduli dengan hewan dan ada juga yang begitu sadisnya membantai.

1355360492375382998

Dia juga memiliki hak asasi sebagaimana layaknya mahluk hidup (dok.pri)

15 Oktober 1978 diproklamirkan naskah “The Universal Declaration of Animal Rights” bertempat di markas UNESCO, Paris. dari deklarsi ini jelas, bahwa hewan juga memiliki hak yang tak beda jauh dengan manusia. Beragam pro dan kontra berkaitan dengan hak asasi hewan ini. Mungkin bagi penganut antroposentrisme, dimana manusia sebagi penguasa mungkin akan bertentangan dengan heliosentrisme. Perbedaan pandangan mungkin hal yang biasa, namun mahluk hidup tetaplah memiliki hak untuk hidup sewajarnya.

Tidak jauh dari keseharian kita, kicauan burung dalam sangkar yang mungkin sebenarnya jeritan dari sebuah naluri bisa disalah artikan sebagai suara yang merdu. Tak pelak, berapabanyak burung yang dikandangkan hanya untuk dinikmati jeritannya. Tak beda jauh dengan mereka yang beduit, demi menaikan status sosial rela merogoh kantong dalam-dalam untuk mengkandangkan hewan-hewan yang dilindungi.

Selain hobi dan kepedulian, tak lepas dari uang yang menuntut manusia untuk menjagal atau mengandangkan hewan. Urusan suka tidak suka, itu sangat relatif. Mungkin bagi beberapa orang akan bersorak girang saat melihat binatang sirkus beraksi, namun apa benar mereka (binatang) sebahagia penontonnya. Trenyuh lagi saat melihat atraksi topeng monyet, bagi anak kecil itu adalah hiburan yang menyenangkan. Pertanyaannya sekarang, bernakah Macaca fascicularis itu aslinya naik sepeda, memakai payung, naik egrang dengan perut terantai. Disinilah hukum-hukum alam diterjang, dimana yang bukan semestinya ditabrak demi pundi-pundi rupiah.

Tidak sedikit yang menentang praktik-praktik yang menggunakan binatang dalam dunia hiburan. Alasan mendasar adalah uang, karena ini bisnis yang menguntungkan. Masalah kesejahteraan binatang bisa dipikirkan kemudian, yang penting sama-sama cari uang. Tak berbeda jauh dengan hewan ternak yang harus menerima siksaan sebelum ajal menjemput. Praktik kecurangan dengan menyiksa ternak, dengan di gelonggong atau dijejali makanan hanya untuk uang.

13553606051164573292

Jeritan yang menginginkan kebebasan disalahartikan sebagai kemerduan (dok.pri)

Sangat ironis disaat dibeberapa tempat beberapa binatang begitu dipuja, diagungkan dilayani dengan baik, namun dilain tempat harus menerima siksaan dan diperas keringatnya untuk mengatasi permasalahan hidup manusia. Semua memiliki sudut pandangnya masing-masing, dan hewan tetaplah menjadi obyeknya.

Entah mana yang benar dan yang salah. Mabusia dibekali dengan hati nurani yang menjadi pembeda dengan hewan, sehingga bisa menilai bagai mana memperlakukan mereka. Naif sekali jika harus menentang, sedang mereka butuh uang. Pemerintah seharusnya bisa memberikan solusi bagi warga negaranya yang membutuhkan pekerjaan tanpa harus mengeploitasi binatang.

Advertisements

2 thoughts on “Jeritan Mereka yangTerdengar Merdu

  1. Foto monyet di kandang itu mantap banget Dhave.
    Anyway, memang seringkali sedih melihat betapa hewan disiksa dan juga dibunuh hanya demi kesenangan semata. Benar kata Dhave, entah mana yang benar mana yang salah kalau kita melihat lebih dalam permasalahan ini.

    • Makasih Om Krisna….
      Iya ini realitanya Om. Mungkin kita yang berhatinurani harus bisa bijak bagaimana memaknai sebuah kehidupan.
      Mengerikan dan kadang nda tega bagaimana mereka dikuras sumber dayanya demi uang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s