33,5Km untuk Rawa Pening

IMG_0886

2/12/12 saat sang surya belum menggeliat dari ufuk timur, saya sudah kalang kabut tidak karuan. Hari ini, bersama dua rekan akan mencoba untuk menaklukan diri dengan lari mengelilingi Rawa Pening. Pukul 4.30 semuanya sudah siap. Kami harus berangkat sepagi mungkin untuk menghindari kepadatan lalu lintas, terutama dijalan besar yang kami lewati. Semula rencana ini akan mengajak beberapa teman lagi, namun pada detik-detik hari pelaksanaan semuanya mundur satu persatu dengan berbagai alasan untuk menutupi ketidak mampuan.

1354488375310817922

Harus meninggalkan Salatiga untuk kali ini (dok.pri)

 

puku 05.00 kami awali langkah mungil nan berat ini dari kota tempat tinggal kami, Salatiga. Sungguh berat awalnya sebab harus bertarung dengan kendaraan-kendaraan besar, terlebih bus dari jakarta yang mengantar penumpangnya ke daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Target kami harus menyelesaikan 9Km untuk sampai dijembatan Tuntang. Inilah cek point pertama kami, yang berhasil kami selesaikan selam 1 jam 5 menit.

13544884771859545540

Kami harus pelan-pelan karena ada perbaikan jalan, lumayan bisa ambil nafas (dok.pri)

 

Sepanjang pelarian sempat kami berhenti untuk mengabadikan beberapa momen-momen yang menarik. Di Km3, kami sampai di Blotongan disana ada sentra patung batu yang dipergunakan untuk hiasan makam cina. Batu-batu besar dihantam dengan palu dan tatah menjadi patung-patung yang bernilai seni. Waktu yang masih pagi kami hanya bisa melihat deretan-deretan patung yang dipajang saja, setidaknya bisa menjadi catatan selama pelarian ini.

1354488427450531887

Menikmati rek kereta api sepanjang 7Km (dok.pri)

 

Sampai di jembatan Tuntang kami memutuskan untuk melewati rel kereta api yang menghubungkan stasiun Tuntang dan Ambarawa. Sengaja kami melewati jalan ular besi ini karena sekaligus menikmati pemandangan Rawa Pening di pagi hari. Memang mungkin kami belum beruntung, saat waktu menunjukan pukul 6 pagi, Rawa Pening masih tertutup kabut. Pemandangan gunung-gunung yang mengeliling danau nyaris tak terlihat begutu juga dengan hamparan airnya.

1354488546384238964

Akhirnya ada juga yang membuat kami makin bersemangat. (dok.pri)

 

Kami terus menyusuri rel yang panjangnya sekitar 6Km. Senganja kami mengurangi kecepatan karena sangat berbahaya berlari diantara bantalan rel dan batu-batu kerikil. Jarak garis finish yang masih jauh mengharuskan kami untuk pintar-pintar menyimpan tenaga. Matahari yang sudah naik mulai membakar tengkuk kami dan menghangatkan kedua kaki kami. Akhirnya sampai juga di cek poin kedua yakni Museum Kereta Api Ambarawa.

13544886921110413735

Loko uap yang sedeng bersiap-siap untuk menyusuri rel saat usia makin senja (dok.pri)

 

Saat kami tiba disana, sepertinya ada kereta uap yang akan dipersiapkan untuk berjalan. Kereta api uap yang tinggal satu-satunya yang berjalan ini memang sangat menarik. Asap tebal yang keluar dari cerobong asap, serta deretan gerbong-gerbong berdinding kayu menjadi daya daya tariknya. Inilah lokomotif dan gerbong peninggalan masa kolonial belanda yang kini masih bisa dinikmati.

Kami tak boleh berlama-lama ada disana, sebab cek poin 2 sudah menunggu didepan kami. Target kami selanjutnya adalah Bukit Cinta, sebab katanya disana sedang ada acara Festival Rawa Pening. 12Km itu jarak yang harus kami tempuh untuk sampai di Bukit Cinta. Sepanjang jalan lalu-lintas cukup lengan tanpa, Matahari semakin tinggi dan teriknya membuat kantung air dipunggung sebentar-sebentar harus disedot. Kami terus berlari karena diuntungkan jalur yang landai dan banyak menurunnya.

1354488942233064805

Bukit Cinta, menjadi cek poin terakhir (dok.pri).

 

Akhirnya sampai juga di Bukit Cinta. Namun kami harus sedikit kecewa, sebab masih 3 jam lagi festivalnya baru dimulai. Tidak mungkin kami menunggu selama itu sebab hari semakin siang dan cuaca semakin panas saja. Istirahat sekitar 13 menit untuk melemaskan otot-otot kaki yang mulai menegang karena kelelahan yang amat sangat. Akhirnya harus lari lagi menuju garis finish sekitar 10,5Km lagi.

Lari menuju etape terakhir cukup berat juga karena meda yang kami lalui bervariasi dengan tanjakan dan turunan. Jika ada tanjakan itupun panjang dan terasa melelahkan, kan kadang harus berjalan daripada pingsan dijalan. Bagi kami yang tak terlatih, ini adalah sebuah tantangan yang berat namun mau tak mau harus ditaklukan juga.

Pemandian muncul kami lewati di Km 27 dan masih panjang untuk sampai di garis finish. Kami belum menyerah dan terus berlari walau pelan dan nyaris lari ditempat karena serasa tidak sampai-sampai. Bagitu melihat trotoar kami sudah lega, artinya sudah masuk kota Salatiga. Garis finish sudah dekat dan kami makin bersemangat untuk terus berlari. Rasa sakit di kaki yang berasa sangat nyeri seolah terhapus dengan target kami untuk sampai di garis finish. Akhirnya GPS menunjuk angka 33,52Km artinya usai juga pelarian kami mengelilingi rawa pening.

13544890551190448498

33,5Km sudah kami selesaikan “lari kemana lagi nanti..?” (www.endomomdo.com)

 

Mungkin bagi orang yang biasa berlari apa yang kami lakukan tidak ada apa-apanya, namun bagi kami adalah sebuah pencapaian diri yang luar biasa. Mencoba mengalahkan diri sendiri, dengan berlari sambik kalungan kamera untuk mengabadikan apa yang kami temui sekaligus menikmati apa yang kami lihat. Hari ini banyak hal yang kami dapat, kami berhasil mengalahkan diri sendiri untuk kali ini. Sambil menikmati buah-buahan seger di garis finish “kemana lagi nanti larinya…?” pertanyaan sederhana dari teman namun begitu berat untuk merealisasikannya. Mari berlari…

8 thoughts on “33,5Km untuk Rawa Pening

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s