Bahasa yang Menghilang

Terkejut dan heran, itu yang saya alami semalam. Tak ada angin tak ada badai, ponsel saya berdering dan ada satu nama teman muncul dari layarnya. Ternyata yang memanggil adalah seorang teman lama. Saya kira teman itu hendak tanya kabar atau kangen-kangenan, ternyata bertanya tentang pekerjaan rumah anaknya.

“eh tolong ini anakku ada PR bahasa jawa, nama lain Janoko itu apa, terus geguritan itu apa..?” dua dari beberapa pertanyaan yang dia lontarkan lewat telepon. Saat ini dia adalah seorang ibu dengan anak yang sudah duduk di bangku SD kelas 4. Sebagai ibu yang baik, mungkin sedang membantu anaknya menyelesaikan PR-nya dan jika sudah tak menemukan jawaban maka berbagai cara dilakukan demi anaknya.

Akhirnya saya memberikan jawaban lewat pesan singkat agar tak salah eja jika lewat telepon. Sekilas memang tak ada yang aneh dari kejadian tersebut, namun jika dicermati ada sesuatu yang hilang darinya dan itu sengaja dia hilangkan dari dalam dirinya. Dahulu kita berteman dalam keseharian hidup dalam budaya Jawa. Bapak ibu teman saya adakag Jawa tulen yang benar-benar (nguri-uri)/melestarika budaya Jawa. Kita diajar  macapat, yakni lagu Jawa dengan 12 jenis tembang, tata bahasa hingga hal sekecil apapun tentang budaya Jawa.

Waktu berubah, dia akhirnya menikah dan memiliki anak. Kemungkinan keadaan lingkungan yang merubah apa yang telah orang tuanya tanamkan sejak kecil. Lingkungan yang heterogen dan tinggal di kota besar, dengan beraneka macam budaya sehingga menggoyang budayanya sendiri. Anaknya tak lagi diajar bahasa jawa krama inggil, macapat, tembang dolanan, nama-nama tookoh wayang, nama bunga, nama anak binatang, dan masih banyak lagi pelajaran yang dia dapatkan dulu. Mungkin demi gengsi dan status sosial harus dikorbankan dan anaknya sejak kecil sudah dicekoki dengan bahasa Indonesia, Inggris dan Mandarin.

National Geographic pernah menulis, bahwa dalam 2 minggu ada satu bahasa punah. Mungkin jika dihitung maka ada sekitar 27 bahasa yang punah dalam satu tahun. Pertanyaan saya, mengapa bahasa tersebut bisa punah. Tidak usah berpikir jauh-jauh, sebab negeri kita memiliki kekayaan bahasa yang melimpah. di Papua ada sekitar 400 bahasa ibu yang lambat laun semakin lenyap karena para penuturnya sudah tak memakainya lagi. Begitu juga daerah-daerah lain mungkin sudah sama sekali hilang bahasa-bahasa ibu karena semakin sedikit penuturnya.

13540585741676639857
Ini di Yogyakarta, mungkin di Bali atau Sumatera juga ada..?

Bahasa Jawa, Sunda mungkin sangat familiar namun bisa juga terancam punah, mengapa demikian?. Disadari atau tidak, anak jaman sekarang tak lagi bisa berbahasa ibu dengan baik dan benar. Disekolah nilai bahasa Inggris mungkin ada yang lebih baik dibanding bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Globalisasi memang menuntut bisa berbahasa bahasa penguasa, seperti Inggris atau Mandarin yang sudah mendunia. Bahkan dalam keseharian kita, bahasa Inggris sudah menjadi barang yang tak asing dalam segala hal dan lambat laun menggeser bahasa Indonesia dan lokal.

Momen sumpah pemuda, seyogyanya menjadi tonggak yang kuat. Kemanapun kita kepelosok tanah air, rerata semua bisa berbahasa Indonesia walau dengan dialek dan modifikasinya masing-masing, setidaknya akar dasarnya masih sama. Tidak terbayangkan jika saya ke mall ketemu anak SD yang tak bisa bahasa jawa atau Indonesia yang terbata-bata namun bahasa Inggrisnya cas cis cus. Saat ini realita itu ada, dan orang tua berlomba-lomba membentuk anaknya seperti itu dan budaya lokalnya semakin tergerus. Tak ada macapat yang terdengar, namun lagu-lagu k-pop beserta gayanya itu lebih trend begitu juga gaya-gaya yang lain.

Entah mengapa budaya yang agung peninggalan nenek moyang ini makin lama makin di goncang saja. Sangat sedikit orang tua berbicara dalam bahasa daerah kepada anak-anaknya. Jangankan di kota, sebab didesa kini anak kecil tak lagi tahu basaha jawa kalaupun bisa itu bahasa yang kasar. Teman saya adalah sebuah realita mengapa bahasa ibunya tak diturunkan kepada anaknya, namun menyerahkan lidah anaknya pada keadaan atas nama gengsi dan globalisasi. Tanggung jawab siapa jika bahasa, budaya itu hilang, jangan salahkan keadaan tapi tanyakan pada diri sendiri. Satu kata bijak “pakai atau hilang”.

10 thoughts on “Bahasa yang Menghilang

  1. mungkin komunitas terkuat yang masih punya bahasa daerahnya sendiri nanti…
    GImana caranya ya biar nggak punah? bukan bahasa saja tapi kesenian daerah juga jangan sampai musnah. Mungkin kita bisa meniru masyarakat bali dengan banjarnya, yang tiap hari mengadakan latihan karawitan dan tari lalu di pentaskan di Pekan Seni dan Budaya Bali.
    SAya sangat kagum dengan para pemuda bali yang masih tekun berlatih tari dan alat musik tradisinal bahkan lagu2 daerahnya sendiri.

    • Nanti waktu yang akan membuktikan, bagaimana dengan daerah lain. Bali mungkin menjadi percontohan bagaimana generasi mudanya mengapresiasi warisan leluhurnya. Saya sepakat untuk itu….

  2. Boso jowo iku unik dan aku kepingin bisa mempelajari lagi tulisan jowo. Janoko iku jeneng liane opo to dik, Arjuna ato permadi? 🙂

  3. Uhuyyy.. bangga aku jadi orang Bali.. hahaha..
    memang kalo di Bali semua berjalan karena KEKUATAN BUDAYA / ADAT WARISAN LELUHUR.. tidak memandang beragamnya Agama,, namun disini ADAT yang berperan banyak menyatukan kami masyarakat BALI..

    *di Bali nama jalan juga pake aksara di bawahnya..

    nb: menyimpang dr ini, denger2 kurikulum 2013 akan ada pengurangan jumlah mata pelajaran,, salah satunya MUATAN LOKAL.. tanya kenapa?? *mentrikoplak..

    • Pak mentri sedang sibuk dengan UN dan go Internasional, padahal mulok adalah yang mengangkat derajat bangsa itu. bukane dengan semua yang berbau impor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s