Teh, Satu Kata Sejuta Rasa

Suatu saat di Negeri Tirai Bambu ada seorang kaisar, yakni Shen Nung. Waktu itu dia sedang memasak air minum, tiba-tiba ada daun terbang yang masuk kedalamnya. Entah mengapa air yang direbus tadi memiliki aroma dan rasa yang khas. Dari kejadian itulah awal mula teh dikenal, walau hanya sebatas cerita belaka.

Teh tak asing bagi lidah kita. Hampir setiap jamuan dirumah saat bertandang atau bertamu selalu disuguhi dengan teh. Beraneka bentuk teh ada di pasaran, baik dalam bentuk tubruk, serbuk, kantong atau ekstrak (sari pati). Minum teh seolah sudah menjadi budaya bagi kita, bahkan menjadi sebuah gengsi dibeberaa negara seperti Cina dan Jepang, sebab hanya orang berada yang bisa menikmati minuman ini. Di Cina pada masa kekuasaan Dinasti Sung (937-1279) minum teh adalah seni dah hanya bangsawan yang bisa menikmatinya. Bersyukurlah kita, tanpa harus menjadi bangsawan bisa minum daun kering Camelia sinensis.

1353909472855332492
Dahulunya minuman orang berada dan bangsawan, kini siapa saja bisa menikmati.

Perkembangan teh di Indonesia diawali dari jaman kolonial Belanda. Tahun 1826 tanaman teh yang dibawa dari Jepang diperkenalkan orang Belanda. Sejak itulah dibangun perkebunan teh di Pulau Jawa dan Sumatra. Di Jawa banyak membentang perkebunan teh dari barat hingga timur, sedangkan sumatra yang pernah saya kunjungi di daerah Kersik Tuo  lereng Gunung Kerinci.

1353909567295560236
Dari sinilah teh berasal dan melewati proses yang panjang.

Memang benar kata sebuah produk teh kemasan, apapun makanannya minumnya tetap teh. Teh nama yang tak asing, dimana teh yang kita lafalkan dari bahasa Hokkien, sedang bahasa lain ada yang menyebut; tea, tee, teo, thee, tae dan orang Polandia menyebut herbata (herba dan thea). Bagi kita, apapun tehnya yang penting diseduh dan diminum, selesai perkara.

Mengapa teh menjadi begitu memikat, selain warna, aroma dan rasanya tentu saja dibalik itu ada manfaat positifnya bagi tubuh. Tidak mungkin orang minum teh hanya sebatas enak, nikmat saja jika tidak ada manfaatnya. Pucuk daun teh mengandung polyphenol, kafein, vitamin, betakaroten, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan serat. Mungkin semua sudah paham dengan beberapa manfaat dari apa yang dikandung dalam teh sehingga tidak asing lagi bagi tubuh.

Polyphenol mungkin yang menarik untuk dikaji, sebab materi ini memiliki fungsi yang diyakini bisa menyembuhkan kanker, tumor dan penangkal radikal bebas. Salah satu dari turunan Polypgenol turunan dari katekin adalah Epigallacathechin galat (EGCG) yang mempunyai khasiat diatas. Bagi yang obesitas, teh juga menjadi terapi yang baik untuk menurunkan berat badan. Bagi yang ingin bersantai, teh juga memiliki efek menenangkan karena ada kandungan kafein sebagai anti depresan.

13539099081136632477
Pemetik teh yang memilah dan memilih daun yang berkualitas.

Pertanyaan sekarang, dari mana teh yang ada digelas yang dengan mudah tinggal kita minum. Teh berasal dari perkebunan yang dipetik langsung dari tanaman yang sudah dewasa. Aturan pemetikan pucuk teh ini tidak sembarangan, sebab harus mengikuti aturan yakni 2-3 helai daun saja. Dari pucuk teh inilah kandungan bahan-bahan diatas ada dalam jumlah yang banyak, sehingga itu yang dimanfaatkan.

Peco, atau 2 daun muda 1 tunas ini adalah kualitas yang baik dan menjadi bahan pembuatan teh hijau. Sedangkan burung, yakni puncuk hanya dua daun saja biasanya dijadikan teh hitam. Teh hijau adalah teh yang dibuat setelah melewati masa pelayuan pada suhu tinggi 90-100derajat celcius selama 6 jam lalu digulung diproses dan dikemas. Sedangkan teh hitam, pelayuan daunnya selama 14-18jam pada suhu 26-28derajat celcius lalu digiling dan dikemas. Perbedaan pelayuan, suhu, lama, dan proses reaksi enzimatis inilah yang membedakan teh hijau dan hitam.

1353909702913211063
Teh trasan, pucuk daun segar yang direbuh dengan ditambah garam.

Adalagi teh tradisional yang dibuat seadanya saja, namun tak mengurangi rasa dan aromnya. Di kecamatan Ngablak, Magelang Jawa Tengah dikenal adanya teh trasan. Teh ini berasal dari pucuk daun teh yang langsung direbus dalam air mendidih lalu ditambahkan garam secukupnya. Cara menikmati teh ini adalah diminum selagi hangat sambil mengulum gula merah. Pengolahan lain adalah dengan cara mengsangrai daun teh yang sudah dilayukan dengan kwali tanah. Usai daun teh kering lalu dikemas dan bisa diseduh kapan saja.

13539096412109497270
Teh kini tak lagi seremoni, namun sebuah kenikamatan dengan sejuta manfaat.

Beragam modifikasi teh dengan aneka campuran rasa baik susu atau bebuahan sudah membanjiri pasaran dalam beranekan macam kemasan. Bisa dikatakan teh memang sudah memiliki tempatnya sendiri dan belum bisa digantikan. Sebagai minuman universal dan mewakili segala lapisan, teh bisa menjadi jembatan perbedaan status tanpa memandang siapa saja yang minum. Memang apapun tehnya yang penting tetap minum teh.

 

2 thoughts on “Teh, Satu Kata Sejuta Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s