Senter Kepala Harimau

Dunia makin berkembang, acapkali tak melalui proses yang semestinya namun demi kepraktisan maka cara instan di tempuh. Sekarang bukan jamannya ngracik bumbu tempe, sebab sudah ada bumbu yang instant, bukan jamannya ngaduk es krim sebab racikan instan juga ada tinggal masuk kulkas. Mungkin bagi mereka yang pernah merasakan nuansa ngracik-mengracik dan sekarang tinggal yang instan rasane kok kurangmarem, kata orang Jawa.

Berbicara instant, tidak hanya mie dan bumbu masak yang serba praktis. Salah satu minuman favorit saya, wedang jahe ternyata instant juga. Dulu untuk membuat wedang jahe, musti membakar jahe dulu, setelah itu di keprek atau dipukul agar pipih lalu dituang dan diseduh dengan air panas. Sekarang tidak jamannya mbakar jahe dan ngeprek, tapi cukup beli sachet jahe instant dan tinggal seduh, selesai perkara.

Lampus senter sekarang juga instant. Kebanyakan lampu senter sekarang sudah memakai bohlam LED yang jauh lebih irit. Selain bohlam LED, senter jaman sekarang tidak lagi memakai baterey bulat sekali pake, namun baterey isi ulang. Memang jaman berubah dan semuanya serba praktis dan sangat mudah.

Berbicara tentang lampu senter, tentu saja masih inget senter jaman dulu yang terbuat dari logam. Senter berwarna putih mengkilap, berisi 2,3 hingga 4 batery dari ukuran besar, sedang dan kecil. Senter dengan simbol kepala harimau memang memiliki kenangan tersendiri, sebab itu yang menjadi teman saat malam tiba. Uang logam 100 rupiah dengan gambar gunungan wayang atau 50 rupiah dengan lambang burung cendrawasih selalu tersumpal diatas pegas penyokong batu baterey agar kencang saat dipasang.

Senter kepala harimau inilah yang menemani saya ketika naik gunung dikalam sang surya tenggelam. Malam itu dalam teras tenda, kami asyik bercanda sambil meramu makanan untuk makan malam. Salah satu menu yang menarik adalah wedang jahe, sebab sangat nikmat saat diminum dimalam hari di udara yang dingin.

Waktu itu senter kepala harimau yang menerangi pekerjaan membuat wedang jahe. Awalnya jahe saya bakar di bara perapian api unggun. Disaat sudah agak hangus saatnya di keprek diatas batu. Cari-cari batu yang bersih untuk menindis tak ada, akhirnya pakai batang senter. Prak..prak..prak… sukses kami memipihkan jahe agar keluar sari-sarinya.

Krek..krek..krek saya menggeser saklar senter untuk menyalakan bohlamnya. Sial, sepertinya bohlamnya putus gara-gara batang senter saya gunakan untuk memukul rimpang jahe. Tenang, masih ada satu bohlam cadangan yang tersimpan dibawah pegas tepat dekat uang 100 rupiah untuk mengganjal. Tangan ini mencoba memutar ulir pembuka tempat batery, sekuat tenaga dan hasilnya sia-sia belaka.

Tangan ini meraba, dan inilah nasib kami. Batangan ulir sudah rata, gara-gara untuk menghajar jahe tadi dan tidak bisa diputar. Malam ini kami pasrah menghadi sebuah proses kehidupan. Tak ada jahe instant, bohlam yang tak sekuat LED yang tahan benturan, dan tak ada ulir serta uang pengganjal. Senter kepala harimau yang tak bisa dipaka lagi karena penyok telah memberikan pelajaran luar biasa, bahwa ada sebuah proses dan konsekwensi yang harus dijalani. Wedang jahe gagal dan gelapnya malam begitu terasa hingga esok fajar menyingsing.

4 thoughts on “Senter Kepala Harimau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s