Cara Alam Menyeimbangkan Dirinya

Membludaknya pendaki di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang berbondong-bondong menuju Ranu Kumbolo hampir 2000an orang menimbulkan pro dan kontra dibeberapa kalangan. Tidak sedikit tudingan miring yang mencari kambing hitam permasalahan berikut rentetan akibat yang ditimbulkan. Ada pula yang tetep kekeh, bahwa kegiatan ini pro lingkungan sebab ada aksi bersih gunung.

Tak akan selesai jika terus berdebat tanpa ada solusi yang tepat. Setiap tempat pasti memiliki daya dukung untuk menyangga seberapa banyak beban yang akan dipikulnya. Alam akan memberikan mekanisme kontrol ekologinya yakni dengan adanya homeostatis, yakni sebuah kondisi stabil dengan menyesuaikan situasi dan kondisinya. Kondisi homeostatis adalah respon alam dalam menyikapi perubahan lingkungan disaat datang tekanan atau guncangan. Manusia adalah aktornya selain bencana alam atau perubahan iklim secara global.

Keadaan setimbang ini adalah kondisi yang terbaik yang diciptakan oleh alam. Kondisi ini mungkin akan terasa baik oleh manusia atau buruk sama sekali, sebab dilihat dari kaca mata manusia. Berbicara dengan gunung, memang sangat miris jika mendengar ada ratusan orang-orang berbondong-bondong mendatanginnya. Bermacam latar belakang pendaki berlomba-lomba untuk menaklukkannya dan satu tujuannya yakni puncak.

13534762011435535906

Vandalisme, buah tangan kreatif yang menyimpang.

 

Semua orang sah dan berhak untuk menancapkan kebanggaannya di puncak tertinggi, namun tetap ada aturan mainnya. Mungkin aturan main ini tidak tertulis, kalaupun tertulis toh juga akan ditumpuki tulisan dan coretan yang disebut vandalisme. Kesepakatan tak tertulis ini adalah kesadaran, yakni tahu apa yang harus dilakukan disana beserta konsekuensi yang dihadapinya.

Mendaki gunung, bukan barang yang baru lagi saat ini dan semakin trend saja. Banyak pabrikan perlengkapan gunung yang berlomba-lomba membuat produk sehingga memudahkan orang selama pendakian. Dibalik kemudahan dan kenyamanan itu, acapkali membuat pendaki terlena dengan yang namanya kesadaran diri.

Dibalik kantung tidur yang hangat, mungkin lupa sampah-sampah yang berceran diluar tenda tidak terurus. Masih dibalik tenda yang hangat bisa bercanda dan berkelakar semalam tanpa menghiraukan kehidupan diluar sana. Suara-suara asing muncul ditengah-tengah gunung dan mengganggu binatang diurnal butuh keheningan untuk istirahat dan nocturnal butuh konsentrasi untuk mencari mangsa. Tindakan tidak hewani kadang muncul dengan memberi makanan kepada binatang dengan makanan yang bukan semestinya.

Tindakan-tindakan yang acapkali tak disadari inilah yang menimbulkan goncangan terhadap alam. Memang tak bisa dipungkiri adanya gangguan dari kita sebagai pendatang, setidaknya bisa diminimalkan gangguan tersebut. Bagaimana rasanya jika melihat Kera Ekor Panjang di Plawangan Sembalun bisa membuka tenda, mengobrak-abrik isi tenda dan menjarah makanan kita. Darimana kera ini menjadi tak asing dengan biskuit, roti, mie instan, padahal jelas-jelas itu bukan makanan mereka. Mungkin niat kita baik dengan memberi makanan, tetapi secara ekologis akan berdampak fatal dan tenda dijarah kera itu adalah salah satunya.

13534747281010815902

Mungkin satria memakai gitar tidak usah konser disini kali ya..?

 

Dibeberapa tempat memang sudah ada himbauan untuk tidak memberikan makanan apapun kepada binatang liar. Ada juga yang melarang membawa radio / tape recoder, gitar atau benda-benda yang menimbulkan suara asing bagi hewan. Mungkin gara-gara mendengar petikan gitar yang romantis di lereng gunung membuat seekor Ayam Hutan enggan bertelur karena berisik, atau burung jadi tunggang langgang mendengar teriakan kita.

Tangan ini kadang risih juga melihat tanaman dengan batang yang mulus. Pisau atau benda tajam acapkali menjadi pena untuk menggoreskan nama atau kelompok sebagai barang bukti pernah kesini. Batuan yang lebar juga tak lepas dari aksi jahil ini. Mungkin tidak ada efeknya bagi tanaman atau batuan, namun bagi mata ini yang tak biasa melihat sepertinya menjadi kesal juga melihat kaligrafi yang tak berseni sama sekali.

Kekesalan ini belum usai, saat hidung ini ingin menghirup udara segar gunung tiba-tiba ada lalat hijau hinggap di muka dibarengi aroma tinja. Memang jahanam sekali mereka yang membuang kotoran dan meninggalkan aroma tidak sedap ini. Apa susahnya berak meniru model kucing, yakni dengan menggali lobang dan menutupnya. Selain tidak menimbulkan bau juga bisa menjadi pupuk organik yang subur bagi tumbuhan. Bayangkan jika kaki sudah lelah berjalan, mata berkunang-kunang dan berat ransel ini serasa tak berkurang lalu teriak “tahi….!!!” sambil menggkat sepatu yang sudah terlanjur menginjak.

Aturan main memang tak perlu dibahas dan ditulis, yang penting dilakukan dengan penuh kesadaran. Mengapa harus menginap saat naik gunung, jika pendakian itu bisa sehari diselesaikan. Mengapa harus memberi makan kera, padahal kita juga butuh makan, berbagi ya berbagi tapi pikirkan efek buruknya, jangan-jangan usai itu kita dipalak atau dirampok oleh kawanan anoman. Santun selama perjalanan dan patuh aturan saat bertindak, setidaknya menjadi bekal untuk kesadaran diri pada alam. Yang pasti, kita naik gunung sudah merusak, setidaknya minimalkan efek tersebut. Jangan lakukan aksi bersih gunung, sebab sebelumnya gunung sudah bersih, namun bersihkan sampah-sampah kita sendiri dan mereka yang meninggalkan. Selamat bertualang, yakinlah kita datang pasti merusak dan alam akan memperbaiki itu, maka jadilah bijak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s