Nostalgia Ala Gunung Ungaran

Nostalgia setelah 11 tahun tindak melewati jalur ini.

Setelah 11 tahun tidak menyambangi jalur ini, akhirnya kesampaian juga untuk bernostalgia kembali. 17/11/2012 pukul 6.51 mulai perjalanan dari Jimbaran. Jimbaran adalah titik awal bagi mereka yang ingin mendaki Gunung Ungaran. Dari tempat ini pula perbekalan bisa dibeli untuk teman perjalanan yang cukup jauh, dan pastikan bekal selama perjalanan. Langkah awal untuk kembali bernostalgia melompati Gunung ungaran.

3Km pertama dilalu dengan melewati perkampungan penduduk di Kelurahan Sidomukti. Jalan aspal yang panas mungkin awal langkah yang berat, namun itulah halangan pertama dengan menembus kebosanan jalan aspal. Sekirat 2Km jalan beraspal kini berganti dengan jalan berbatu yang acapakali tak bersahabat dengan kaki. Jika tak hati-hati bisa tergelincir dan terkilir, maka perlu berhati-hati dijalur ini.

13532077041497243457
Jalan yang cukup memanjakan kaki.

Sebelum memasuki Mawar, yakni sebuah tempat yang digunakan sebagai pusat pelatihan pertanian jalan semakin membaik. Jalan terbuat dari semen cor ini sangat membuat kaki nyaman dan mata pun senang sebab pemandangan indah sekali dari sini. Akhirnya setelah 49 menit berjalan sampai juga di Pos Mawar dan dari sini para pengunjung diminta retribusi sebesar Rp 2000,00.

13532080761617324020
Gelondongan batang Pinus yang usai dipanen.

Dari pos Mawar ini, sejenak beristirahat sambil melihat-lihat pohon pinus yang sudah dipotong menjadi gelondongan. Sepertinya pemangku hutan ini sedang panen Pinus merkusii yang sudah tak produktif lagi menghasilkan terpentin. Setelah cuku beristirahat maka perjalanan segera di lanjutkan untuk mengejar waktu.

Masuk hutan awalnya lebat dengan Pinus, namun semakin ke dalam semakin lengang. Bakas-bekan Pinus yang ditebang nampak dengan jelas, namun ironis juga dengan tanaman pinus baru yang baru tumbuh sekitar setengah meter. Entah berapa lagi hutan ini pulih kembali agar tidak segersang saat ini.

13532078471887027256
Pohon terakhir yang akhirnya tumbang juga.

Dua kilo berjalan, akhirnya sampai di pertemuan sungai. Dalu sepanjang jalur ini adalah saluran irigasi dengan aliran sungai yang deras, dingin dan jernih. Siapa saja yang jalan disini dan haus bisa langsung minum dari sungai yang benar-benar masih terjaga kebersihannya. Yang terlihat saat ini, sungai kecil sudah tertimbun, yang ada hanya pipa-pipar paralon. Deru jeram sungai tak terdengar lagi, yang ada hanya suara pipa yang sedang membuang angin untuk menambah tekanan air.

Perjalanan dilanjutkan dan kali ini target selanjutnya adalah kolam penampungan. Bak dengan ukuran besar ini dibuat mirip kolam renang, dan bagi yang berminat bisa berenang. Berjarak 1Km dari pertigaan sungai dapat dilalui dengan cepat, sebab jalan sangat landai dan teduh karena sudah memasuki hutan sekunder yang cukup lebat. tak terasa sudah 1 jam 25 menit kaki ini melangkah.

Istirahat sekitar 20 menit untuk meregangkn otot-otot kaki yang mulai menegang sambil menikmati makanan kecil. Pemadangan perkebunan kopi yang menghijau terhampar luas di sisi barat dan utara. Perjalan harus dilanjutkan karena kabut mulai turun sebab ditakutkan nanti akan kehujanan ditengah jalan. Berjalan dan berlari-lari kecil disepanjang perkebunan kopi adalah sebuah kenikmatan tersendiri, sebab udara yang sejuk, bebas polusi dan yang pasti bebas hambatan lalulintas.

20 menit berjalan sampai juga di pertigaan, yakni jalur menuju Puncak Ungaran dan Candi Peromasan. Disini juga batas kebut kopi dengan teh, dan pemandangan kali ini berganti dengan karpet hijau penuh dengan pucuk teh. Tak ada waktu lagi, sebab harus segera melanjutkan pendakian kali ini. Mendaki melewati jalur setapak, berbatu bahkan kadang harus merangkak atau melompati pohon-pohon yang tumbang melintang di jalan. Napas yang mulai menyesakan dada begitu terasa nikmat bersamaan dengan kucuran keringat yang semakin deras. Mulut ini tak berani jauh-jauh dari selang kantong unta untuk terus mengalirkan air mineral kedalam tubuh.

13532079271178451797
setelah 02:50 dan 8,66Km sampai juga di Puncak.

Sebuah komitmen untuk mengalahkan diri sendiri “bagaimana jika ke puncak tanpa istirahat” itu yang akan coba ditaklukan. Jalan pelan, dan terus merayap menuju puncak. Beberapa kali mata harus terkecoh dengan puncak, yang ternyata hanya batas bukit sebab puncak masih jauh di depan sana. Berjalan terus dan hanya satu tujuan, yakni puncak menjadi motivasi tersendiri.

Setelah berjalan 8,66Km selama 2:50 akhirnya sampai juga di puncak Gunung ungaran. Lega diri ini sudah bisa mengalahkan diri untuk sampai di puncak gunung. Sujud syukur kepada Tuhan untuk pencapaian dan pemandangan yang luar biasa didepan mata. Sejenak beristirahat sambil menunggu teman-teman yang masih jauh dibelakang. Dari bali gunung terdengar teriakan-teriakan, dan sepertinya ada pelatihan anggota Mapala dari salah satu universitas di Semarang.

Satu jam menikmati sejuknya udara di puncak, hangatnya mentari di ketinggian 2050Mdpl sambil menikmati bekal makanan adalah sebuah berkat yang luar biasa. Mata yang dimanjakan pemandangan luas biasa sangat disayangkan jika tak dilukis dengan kamera. Beberapa bidikan dari balik lensa sudah cukup mewakili oleh-oleh untuk turun nanti.

1353208005525268374
Hutan lebat dan berkabut, jalur turun yang menyenangkan.

Suara gemuruh halilintar dari langit sisi utara gunung menandakan akan segera hujan. Segera bergegas kembali turun dan kali ini jalur yang ditempuh adalah jalur candi Gedong Songo. Jalan curam dengan pohon-pohon lebat dengan kabut tebal menyambut kami yang baru saja turun dari puncak. Turun pelan dengan tetap memperhatikan tanda papan petunjuk dan jalur, sebab sudah lebih dari sepuluh tahun tidak lewat jalur ini.

Jalan curam dan licin membuat harus ekstra hati-hati. Acapkali harus jongkok untuk mensiasati turun dari undak-undakan berbatu yang licin. Berpegangan pada dahan, ranting, akar atau semak belukar adalah pilihan untuk menjaga keseimbangan badan. Tak ada waktu untuk bersitirahat sebab langit semakin menghitam dan gemuruh halilintar semakin jelas.

Berjalan dan kadang berlari agar segera keluar dari hutan dan sampai ditempat tujuan.Setelah empat jam lebih perjalanan dan tepat di Km12 rintik hujan datang juga. segera kami mempercepat langkah kaki ini agar segera sampai ditujuan. Hujan sangat menguras tenaga, sebab basah air hujan memaksa tubuh mengeluarkan kalori ekstra untuk menghangatkan tubuh selain diambil energinya untuk berlari. Selain itu, jalur yang becek dan licin sangat berbahaya sebab dapat dengan mudah terpeleset atau terperosok.

1353208412306282062
Selesai sudah, namun masih 6Km lagi ternyata.

Hampir setengah jam kami kehujanan dan lebih dari 3km jalur yang ditempuh akhirnya sampai juga di candi Gedong Songo. Kami tak bisa berlama-lama di sini, sebab hujan belum juga reda. Langkah kaki ini kami teruskan untuk melibas aspal menuju bandungan. Berjarak sekitar 6Km harus kami lalui dengan terus berlari beradu cepat dengan kendaraan bermotor yang hilir mudik. Akhirnya setelah 6 jam 4 menit kaki ini melangkah sejauh 20.95Km sampai juga di Bandungan dan selesai sudah perjalan kali ini. Nostalgia 11 tahun yang lalu sudah kami tebus dan menjadi kenangan baru yang tak terlupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s