Dua Penjaga Gunung Ungaran

 

Suara merdu burung liar bersahut-sahutan menyambut pagi ini. 3 November 2012, pagi itu sudah beridiri ditengah-tengah lebatnya gunung Ungaran sisi timur. Sepanjang jalur pendakian dari arah Sidomukti hingga Candi Peromasan kicauan burung menjadi musik alam yang menyenangkan. Embun-embun yang terjebak dalam sarang laba-laba nampak anggun terkena terpaan mentari. Dari sudut hutan nampak cahaya alam berupa ray of light yakni pembiasan dari kabut dengan sinar matahari.

Berhenti disebuat tepian sungai yang tak lagi deras, sebab di sela-selanya terpasang pipa-pipa yang memindahkan aliran air. Semakin merangsek ke dalam, kicauan burung makin terdengar jelas. Aneka rupa suara saling bersahut-sahutan, entah apa arti komunikasi itu. Yang pasti, pagi ini mereka gembira menyambut masa diurnal.

Kelebat bayangan hitam nampak di sela-sela pohon. Inilah raja di angkasa, yang dengan anggun bertengger disebuah pohon. Mungkin sepertinya dia tahu kedatangan saya, maka dengan saya besarnya bertengger membelakangi saya. Dengan kamera dan lensa 250mm kucoba mendekatkan pandangan untuk mencari tahu siapa gerangan yang nangkring di dahan itu.

 

1352783227920519795
Penguasa udara sedang bertengger sambil terus mencari mangsa.

 

“Elang” pekik saya dalam hati. Kepala nampak melenggak-lenggok dengan sorot mata tajam mengawasi sekelilingnya. Sial sekali saya, sebab tak bisa mendekat kearah burung buas ini, apalagi lensa kamera yang sangat terbatas jangkauannya. Alhasil dari balik semak-semak, coba saya lukis sedapatnya saja. Mungkin dengan lukisan ini, setidaknya bisa menjadi barang bukti bahwa disana masih ada mahluk anggun ini.

Berjalan makin keatas, akhirnya berhenti di hamparan kebun kopi. Saat tubuh ini ingin melepas lelah, tiba-tiba suara melengkin dari jauh terdengar. Spontan, diri ini kalang kabut mencari sumber suara tersebut. Dari jauh nampak dengan anggun seekor burung terbang dengan cantiknya. Berputar mengelilingi bukit yang menghijau seolah tak mempedulikan saya yang terpana dibawahnya.

Dari bentuk tubuhnya, langsung bisa sedikit menarik kesimpulan mahluk apa yang melintas didepan mata ini. Warna bulu hitam, dan paruh besar dan kepala menonjol adalah ciri morfologi yang menjadi pembeda dengan burung lain. Inilah burung Rangkong, atau di Kalimantan disebut dengan Enggang. Burung ini sangat khas, dan acapkali menjadi maskot kota-kota di Indonesia.

 

13527832971495182083
Inilah Rangkong atau Enggang di Gunung Ungaran.

 

Dari literatur, burung dari keluarga Bucerotidae ini memiliki 57 spesies yang tersebar di Asia dan Afrika. Di Indonesia ada sekitar 14 spesies, dan ada 3 yang endemik. Paruh besarnya menjadi penanda, burung ini memiliki makanan yang khas. Tipe paruh ini, digunakan untuk menyantap biji-bijian dan bebuahan hutan. Paruh yang besar dan kepak sayap yang lebar, menjadikan burung ini begitu eksotis.

Usai melintas di depan mata, burung ini tak terlihat lagi keberdaannya. Perjalan 3 hari 2 malam, mempertemukan saya dengan 2 mahluk penghuni gunung Ungaran. Dibalik tekanan lingkungan yang semakin mendesak keberadaan satwa liar disana, ternyata masih ada yang tersisa dan mau menampakkan diri pada manusia. Elang dan Rangkong, setidaknya menjadi bukti bahwa di Gunung Ungaran masih memiliki sumber daya alam yang mampu menopang satwa-satwa yang dilindungi ini. Butuh kesadaran bersama untuk menjaga mahluk Tuhan ini agar tetap lestari ditempat asalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s