Binatu Raksasa di Mata Air Senjoyo

“Sumber air sudekat” begitu kata orang Nusa Tenggara Timur disaat yang dulu air sulit sekali dijangkau kini sudah mudah didapat hanya dengan memutar kran ledeng. Air memang kebutuhan paling vital sehingga tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan. Pertanyaan kritis sekarang, bagaimana jika sumber kehidupan itu dirusak, dicemari, bahkan diracuni. Mungkin bagi pelakunya tidak menjadi masalah, karena tidak merasakannya. Bagi mereka yang menadah akibatnya bak bencana yang tanpa berbuat dosa.

11 Nov 2012, akhirnya mencelupkan jemari kaki di mata air Senjoyo, yang jernih dan dingin. Sebuah mata air di Tegal Waton, Kec. Tengaran, Kab Semarang Jawa Tengah terasa sangat istimewa. Mungkin ini satu-satunya mata air terbesar ditempat itu, dan menjadi penopang banyak kehidupan disana. Setelah lima tahun tidak bermain kesini, sepertinya tidak banyak berubah dan tidak ada yang istimewa. Namun pandangan mata ini menjadi tercengang saat melihat beberapa sudut yang kini tak seperti 5 tahun saat saya bermain disini.

Berjalan menyusuri saluran irigasi dari Dusun Tanjung, mengarah ke Selatan sembari menikmati pemandangan agraris. Air mengalir dengan tenang, sambil sesekali menghanyutkan sawi air (Salvinia cuculata). Semakin ke selatan aliran air semakin deras, bertanda sudah mendekati mata air senjoyo. Berjalan hampir 2Km menyusuri saluran irigasi, yang kini sudah mulai berubah. Dahulu jalur jalan setapak ini hanya dilewati petani yang pergi kesawah, kini sudah dilewati sepeda motor muda-mudi yang ingin memadu kasih di sepanjang badan sungai. Pinggiran sungai menjadi tempat yang nyaman sepertinya untuk berduaan dengan pasangan dibalik rerimbunya pohon bambu.

1352689261721653283

Pemandangan umum di sekitar mata air senjoyo.

 

Akhirnya sampai juga di mata air senjoyo. Puluhan orang sudah berjahar di badan sungai bagian atas. Tangan penuh sabun dan deterjen menggilas pakaian, tikar, karpet yang kotor. Sambil sesekali mencelupkan cucian yang kotor untuk membilasnya langsung dari dalam sungai. Buih-buih putih langsung menggumpal dan mengapung lalu lari terbawa arus sungai dan pecah disela-sela batuan yang menghadang.

1352689336426878647

Ada binatu raksasa di sini.

 

Jalan semakin ke mata air, pemandangan semakin miris. Ratusan warga duduk di pinggir mata air dan semua serempak mencuci. Entah berapa puluh kilo deterjen bubuk dan sabun terbuang di mata air dan dilarikan ke sungai. Seperti yang terlihat saat itu, nampaknya mata air senjoyo masih memiliki daya dukung untuk mengimbangi cemaran ini.

Disela-sela orang tua mencuci, nampak anak-anak dengan ban dalam kendaraan asyik bermain di kolam mata air. Kolam yang penuh dengan ganggeng rante/Hidrila ini menjadi tempat bermain anak-anak yang menyenangkan. Namun mata ini terusik dengan tingkah salah satu anak yang sedang menikmati jajanan dalam bungkus plastik. Lensa kamera ini terus mengunci pergerakan anak ini saat menyantap makanan lezatnya. Seperti dejavu, saya seperti ahli nujum yang bisa menebak apa yang anak ini lakukan selanjutnya. Benar saja, bungkus makanannya langsung dibuang begitu saja saat isinya sudah habis disantap.

13526894601709327331

perlunya pendidikan lingkungan untuk anak-anak.

 

Inilah potret salah satu anak bagaimana menyikapi prilaku yang kurang bersahabat dengan lingkungan. Saya tidak lantas menyalahkan anak-anak dengan prilaku yang kurang terpuji ini, tetapi mencoba membandingan dengan sikap orang dewasa. Bungkus-bungkus sabun, deterjen, sampo dan makanan nampak berserakan dan mengapung di beberapa titik. Sedikit  kesimpulan bisa ditarik, tak hanya prilaku anak-anak yang menyimpang, ternyata orang dewasa juga tak jauh berbeda.

Usai menikmati binatu raksasa ini, langkah kaki mencoba mencari sudat pandang lain. Disisi lain nampak air berwarna hijau, ada apa gerangan?. Eutrofkasi yang terjadi, yakni meledaknya populai alga/ganggang diperairan akibat kelebihan nutrisi. Nutrisi dalam air ini bisa berasal dari limbah deterjen, sabun dimana akumulasi kandungan phospat dan nitrogen. Ledakan alga ini bisa mengganggu populasi yang lain dan menyebabkan gangguan lingkungan, seperti; penetrasi cahaya ke dasar perairan tertutup, jumlah oksigen yang sedikit, dan pemandangan yang kurang sedap dipandang.

13526895511784275611

Salah satu upaya mengendalikan tanaman air.

 

Memang tidak bisa disalahkan bila fenomena binatu masal ini ada. Belum ada solusi bagaimana mengurangi dampak dari kerusakan lingkungan saat ini, mengingat mata air ini sudah menjadi lokasi umum yang bisa diakses siapa saja. Pembuatan tempat-tempat penampungan sampah, pembersihan saluran air dan kolam-kolam penuh alga, pembelajaran tentang kepedulian lingkungan mungkin bisa menjadi sedikit solusinya.

13526896751143493878

Sejak tahun 1920an, Belanda sudah memanfaatkan mata air senjoyo untuk sumber air bersih. (Salatiga Sketsa Kota Lama, Eddy Supangkat).

 

Memang butuh kesadaran bersama untuk menjaga satu-satunya sumbe mata air yang pada tahun 1920an sudah dimanfaatkan Belanda untuk disalurkan ke kota Salatiga. Hingga saat ini, Industri, Kota Salatiga dan Kab. Semarang masih mengandalkan mata air senjoyo untuk memperoleh pasokan air bersih. Kerja sama pemerintah, masyarakat dan stake holder dibutuhkan untuk melestarikan sumber kehidupan ini. Usaha konservasi dengan reboisasi dibeberapa tempat setidaknya bisa memberikan tambahan umur untuk mata air senjoyo. Senjoyo, airmu mengalir sampai jauh…

Advertisements

4 thoughts on “Binatu Raksasa di Mata Air Senjoyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s