Cerita Pagi Tentang Kehidupan

Bunga-bunga Angsana yang berserakan.

Pukul 04.30 seperti biasanya ponsel saya sudah menyuarakan alaramnnya. Seperti biasanya juga, tangan ini memencet salah satu tombol untuk menghentikan bunyi berisik yang membuat tak nyaman untuk melanjutkan tidur. 15 menit kemudian, kembali alarm berbunyi dan kali ini tidak bisa ditoleransi lagi. Mau tidak mau, harus bangun sebab kata orang tua bangunlah sebelum matahari membangunkan dirimu.

Tepat pukul 05.00 bendera start sudah mulai dikibarkan. Itulah kebiasaan yang menjadi ritual pagi saya yang mungkin aneh bagi orang lain sebab ada zona kenyamanan yang harus dikesampingkan. Lari pagi, menjadi menu wajib sebelum menu-menu kesibukan saban hari dimakan habis selama jam siang.

Temaram cahaya sang surya yang mulai merangkak naik dari ufuk timur menyinari langkah kecil kaki ini. Aspal yang masih dingin tak menghalangi niat ini untuk membakar kalori. Mungkin saya orang paling beruntung pagi ini. Jalan sepi, saya libas sendirian dan suka-suka mau apa saja tanpa ada yang merasa terusik.

Jalur resmi lari pagi ini adalah seputaran kampung dan lingkungan kampus. Sepanjang kampung, begitu menikmati udara bersih dan segar. Paru-paru ini seolah tercuci dari kotoran polutan udara. Mungkin kata orang medis, inilah terapi oksigen dimana paru-paru bisa menghirup oksigen sebanyak mungkin. Benar-benar segar tubuh ini menikmati oksigen gratis.

13523367841368164767
Jalur lari yang penuh dengan bunga-bungan yang berguguran.

Yang menjadi favorit adalah lingkungan kampus. Pohon-pohon tinggi yang menaungi sela-sela gedung perkuliahan adalah harta karun tak ternilai. Entah berapa banyak udara bersih yang dihasilkan, yang pasti akan sangat sayang jika tidak dipanen. Melewati joging track yang masih lengang, jauh lebih bebas mengekspresikan diri. Mau jalan hingga lari sekencang mungkin tak ada hambatan sedikitpun.

Ada sesuatu yang menarik, saat semilir angin menggoyang pepohonan ini. Bunga-bunga warna-warni berguguran seperti hujan salju. Mahkota bungan berwarna kuning ini nampak berhamburan di udara dan berserakan di sepanjang jalan. Lari pagi ini bak raja, sebab sepatu ini dilapisi hamparan bunga yang berguguran. Inilah bunga Angsana (Pterocarpus indicus) yang sedang bermekaran dan berguguran. Tak hanya bunga yang sedang memberikan keindahan, namun kicau burung menjadi musik alam yang harmoni. Bermacam-macan suara burung pagi ini berkicau dengan merdunya. Bagi yang tidak bisa bangun pagi, atau enggan merapat ke tempat ini sangat disayangkan sebab ada keindahan yang tak mau dinikmati.

1352336855191020238
Tanjakan tak menghalangi untuk terus berjalan.

Disela-sela kaki ini terus berlari, tiba-tiba harus berhenti. Di depan  langkah ini terlihat seorang kakek dengan sepeda kumbang dengan rombong dikanan-kiri boncengan nampak kepayahan. Sepeda kali ini tak dinaiki, namun di dorong saja. Nafas tuanya nampak tersengal-sengal menghapi jalan menanjak dengan berat beban di sepeda kumbangnya.

1352336906226241220
Sepeda kumbang jadi teman yang tak terpisahkan untuk menghantar barang dagangan ke para pelanggan,

Sesosok tua renta ini sepertinya tak menyerah menghadapi realita kehidupan. Di usia senjanya, tak menghalanginya untuk mengais rejaki bagaimanapun caranya. Sepeda tuanya menemani kesehariannya dalam menghantar barang dagangannya keliling ditempat langganannya. Beratnya sepeda besi ini bukan permasalahan, yang penting masih bisa jalan. Tanjakan bukan hambatan, sebab sepeda yang dia pakai tidak untuk dinaiki nampun untuk membantunya membawa beban yang berat.

Peluh keringat itulah upah yang dia dapat saat menjelang subuh sudah dari rumahnya untuk mengantar tempe produksinya ke sejumlah rumah makan. Pak Muslimin, di usianya yang sudah menginjak 75 tahun masih bertahan sebagai pembuat sekaligus penjual langsung tempe produksinya. Dengan baju koko dan pecis adalah seragam andalannya untuk menyambangi warung-warung langganannya. Dari pukul 5 pagi hinggi 2 siang adalah jam kerjanya. Usai jam tersebut diganti agenda menjadi membuat tempe untuk dijual keesokan harinya.

Saya seperti lemas saja menemani Pak Muslimin untuk meretas aspal pagi ini. Tak ada keluh kesah diwajahnya, yang ada hanyalah semangat yang membakar niat untuk mencari rejeki. Usia yang sudah senja seolah tak terpikirkan, yang ada dibenaknya bagaimana hidup tanpa menyusahkan orang lain. Sepeda butut yang puluhan tahun menemai nampak berjalan manja disampingnya bak pasangan abadi yang tak terpisahkan. Bangun pagi lantas mencari rejeki, bukan lagi lembaran upah yang didapat namun ada kesehatan dan semangat hidup yang tak akan pernah padam.

1352336981431942795
Dari beliau saya mendapatkan pelajaran bagaimana memaknai dan menjalani kehidupan.

Pelajaran yang luar biasa dari bapak yang satu ini. Dengan tubuh renta dengan tulang punggung yang mulai membungkuk, masih tetap punya semangat untuk memperjuangkan kehidupan. Tak disadari berapa banyak orang yang menikmati tempe-tempe pak Muslimin tanpa mengerti bagaimana tempe ini sampai dimeja makan. Pasca subuh dan sebelum matahari terbit ada keindahan dan kehidupan yang nyata, disaat kedua kaki ini melangkah menikmati indahnya hidup.

 

foto dok.pri

3 thoughts on “Cerita Pagi Tentang Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s