Catatan 2 Malam di Bawah Rintik Hujan

“Kita Diksar dapat apa..?” satu pertanyaan yang menggelitik saat terlontar di telinga. Saya yakin setiap orang memiliki jawaban yang berbeda satu dengan yang lain, kemungkinan ada yang sama juga tentunya. Entah apakah saat ini masing-masing dari kita sudah memiliki jawabannya sendiri-sendiri atau belum, itu semua tergantung dari masing-masing pribadi. Diksar, adalah sebuah proses pembelajaran yang masing-masing individu memiliki jalannya masing-masing.

Tengok sebentar acara kemarin, siapa tahu bisa berbagi dengan mereka yang berhalangan hadir, enggan untuk hadir atau emang sama sekali tak hadir. Alasan bukanlah masalah, yang penting apresiasi yang besar buat semua yang mendukung acara ini apapun bentuknya.

Kabut bergerak dari sisi utara saat sang Surya mulai tenggelam. Percikan cahaya dari langit menghiasi angkasa saat kabut itu mulai menebal. Angin mulai bergejolak, hujan sepertinya mau datang. Benar saja, sekitar pukul 9 malam, gerimis itu datang dan hujan lebat akhirnya datang juga. Baru kali ini peserta Diksar tertahan di Pos Mawar hingga subuh. Malam ini diisi dengan bincang-bincang para senior kepada peserta untuk saling berbagi pengalaman.

Malam makin larut, tak baik jika mata ini terus terjaga. Saatnya tidur bak ikan asin yang dijemur dalam terik cahaya lampu. Masing-masing menempati lokasi penjemuran dalam udara yang dingin. Terlihat wajah-wajah lelah menjadi selimut pengantar tidur. Ada yang begitu pulas tidur, ada yang mendengkur, ada pula bak cacing kedinginan yang hanya membolak-balik tubuh mencari sudut hangat.

Pukul 3 pagi, panitia datang dan membuyarkan mimpi-mimpi indah mereka. Mereka kembali ke kewajibannya masing-masing. Tak lama kemudian mereka berangkat menuju jalur pendakian. Gelapnya cahaya malam di tembus oleh cahaya senter yang membelah kabut pagi. Dari belakang berjajar mereka yang berjalan padat merayap, berharap yang didepan lebih cepat agar tidak menghambat.

Pagi, nampak sang surya nampak malu-malu menampkan dirinya. Kabut tipis di sisi timur membiaskan cahaya merah yang merona. Indah sekali pagi ini, dan kicau burung menyambut dengan nyanyian harmoni alam. Suasana yang tak ada dalam keseharian, kita dan sebuah anugerah yang luar biasa dari Sang Pencipta.

Jauh disana peserta sudah mempersiapkan makan pagi disela-sela pohon teh. Wajah penuh tanda tanya, tersirat didepan mereka dan hanya satu kata “kita mau apa”. Pagi dikebun teh, nikmatnya minum cokelat manis yang masih hangat sambil memandang puncak dengan ketinggian 2050mdpl. Itu tujuan selanjutnya karena sebuah kerinduan untuk meletakan kain segitiga abu-abu di sana.

Berjalan merayap menuju jalan yang makin terjal. Nafas acapkali berat di tarik bersamaan dengan kaki yang seperti bandul. Ransel yang dipunggung cukup membebani walau pun acapkali melindungi punggung dari hempasan angin gunung yang dingin. Sebuah tekad, bagaimana sampai puncak berjalan tanpa istirahat dan minum. Konyol memang, namun sebuah usaha bagaimana mengetahui batasan diri dan menaklukan sebuah ego. Akhirnya tanpa istirahat dan minum, kaki ini berdiri juga di puncak dengan batas waktu kurang dari 1 jam.

Dipuncak tidak butuh waktu yang lama, sebab cahaya matahari sudah begitu menyengat. Dua puluh menit di puncak sepertinya sudah menghapus rasa lelah yang amat sangat. Saatnya turun dengan penuh kesantunan kepada mereka yang sedang berjuang marayap menuju puncak. Ternyata jalan turun lebih susah, dan kaki begitu nyeri saat pijakan ini tak benar.

Hampir satu jam perjalanan turun, akhirnya sampai juga di perkebunan teh. Nampak buruh-buruh pemetik daun teh dengan penuh semangat memetik pucuk daun. Mereka sepertinya sudah paham daun mana saja yang harus dipetik. Dalam pikiran mereka sudah tertanam erat apa itu Peco + 3M, atau burung + 2. Rumus dari daun teh yang kualitas ekspor dan lokal sudah menjadi acuan mereka dalam memetik daun teh. Sambil menggendong anak, mereka begitu bersemangat mengumpulkan lembaran-lembaran daun.

Puas menikmati kebun teh bersama senyuman hangat pemetik teh dan saatnya menuju lokasi pendidikan. Gunung Botak, demikian yang terlontar dari panitia. Kaki akhirnya berjalan menyusuri jalan berbatu untuk menuju lokasi. GPS saya yang sedari tadi berteriak-teriak memberi tahu berapa jarak dan waktu yang sudah ditempuh. 10,54KM selama 7 jam perjalanan, itu yang terakhir terekam oleh GPS sebelum shoot down karena batery habis. Gunung Botak menjadi lokasi yang strategis untuk bermain petak umpet, hanya bermodal alat tulis, kompas dan peta sebenarnya bisa menjadi permainan yang menyenangkan. Entah saat itu apa yang terjadi, apakah menyenangkan, membosankan atau menakutkan, yang pasti semua tahu jawabannya.

Usai navigasi, saatnya kembali ke kemah induk untuk sedikit melemaskan otot kaki yang sudah nyeri. Sambil bercengkrama dengan pembina dan senior lain, adalah nostalgia yang selalu ditunggu. Disini gunung mempertemukan kita, sebab kapan lagi ketemu kalau tidak disini. Cerita konyol, seram, kadang-kadang jorok tertumpah ruah disini dan hanya tertawa adalah bumbu ternikmatnya.

Malam datang juga, sepertinya cuaca memang tak bersahabat. Saat sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba pak Pembina terjaga dari tidurnya. Jaket yang membungkus hangat tubuhnya ditanggalkan dan berganti dengan jas hujan. Sepertinya beliau sedang gusar dengan anak bimbinya yang sedang kehujanan ditengah-tengah kebun teh. Ditemani rekannya dan seorang senior mereka menuju lokasi diksar. Inilah sebuah wujud kepedulian, bagaimana tanggung jawab itu dibuktikan. Tak hanya peserta dan panitia yang diksar, tetapi senior dan pembina juga di diksar juga ternyata.

Malam semakin larut, akhirnya yang ditunggu datang Juga. Mas Hohok, Didot dan mba Dian itu muncul dari gelap malam. Merekalah yang menelurkan organisasi ini. Tak ada kesan arogansi diwajah mereka yang menjadi orang nomor satu dalam hierarkan kelahiran organisasi ini. Inilah wujud bagaiman mereka meninggalkan sebuah organisasi tanpa meninggalkan nama mereka dalam coretan sejarah.

Tak lengkap jika diksar tanpa saling tegur sapa dan tahu isi hati masing-masing yang hadir disana. Dibawah kilat cahaya petir, semua disadarkan apa yang sebenarnya terjadi. Semua rahasia, uneg-uneg ditumpahkan saat itu juga. Emosi campur aduk, entah bagaimana rasanya yang pasti semua harus ditumpahkan dan dilontarkan mirip halilintar dilangit utara. Acara ini diakhir dengan jabat tangan dan peluk tanda kasih, betapa semua memiliki kelemahan dan kesalahan. Semua dimaafkan, semua saling mendukung inilah salah satu wujud pendidikan dasar bagaimana memaknai kata “pamitran”. Akhirnya air mata harus segera dikeringkan, sebab tugas dan tanggung jawab besar itu harus dikerjakan.

Saatnya mengkolaborasikan semua yang hadir disana. Senior atas mendapat jatah untuk menjadi penjaga pintu goa, ada juga yang menjadi penyamun serta pengacau peserta di tengah jalan. Para panitia selalu waspada dan berjaga dalam lorong gelap untuk mengawasi mereka yang berjalan sendirian dalam remang cahaya lilin yang tak berumur panjang. Pembina sudah bersiap dalam udara yang dingin untuk menjadi gong saat acara puncak. Akhirnya semua berjalan sesuai dengan yang diinginkan walau sang surya datang lebih cepat.

Acara ditutup dengan makan bersama dan ramah tamah. Semua menemukan apa yang bisa diperoleh selama tiga hari dua malam. Entah bagaimana selanjutnya pelajaran itu diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Sebuah harapan besar, tahun depan bisa jumpa lagi disini dengan pelajaran baru yang siap untu diambil. Selamat datang kepada anggota baru.

Advertisements

6 thoughts on “Catatan 2 Malam di Bawah Rintik Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s