Kepemimpinan yang Mulai Melempem

Tak asing dimata kita bagaimana jalan raya yang padat serasa benang kusut dan acak kadut oleh kemacetan. Adu cepat, salip kanan salip kiri, hukum jalanan dipakai dan tak peduli dengan hukum formal. Jangankan jalan raya, gedung parlemen yang terhormat acapkali lebih kacau dibanding jalan raya. Belum hilang dipemberitaan tentang kerusuhan di Lampung, yakni perang antar kampung yang dipicu permasalahan pribadi yang kemudian menjalar luas. Sungguh mengerikan jika setiap orang yang terlibat di benang kusut ketiga contoh diatas tidak terkendali emosinya. Bak kesetanan yang tak dapat dibendung nalar dan logiknya, yang pasti semuanya sesuai dengan keinginan diri. Sangat mengerikan jika itu terjadi.

Apa yang membuat mereka kadang kehilangan akal sehat dan dengan mudah sekali tersulut. Lantas mengapa juga mereka sepertinya juga susah diatur dan seenaknya sendiri melakukan apa yang ingin dilakukan. Bisa dibilang, inilah karakter dasar manusia yang acapkali kembali seperti anak kecil, atau orang dewasa yang kekanak-kanakan. Emosi dikedapankan dari pada nalar dan akal sehat untuk menghadapi sesuatu. Minimalis mereka yang carut marut pernah mengenyam pendidikan formal juga memiliki tuntunan agama, namun kenapa semua bisa lepas kendali.

1351668839731588675

Disaat emosi tidak terkendali, semua bisa terjadi.

 

Apa yang salah dengan mereka..? apakah pendidikan dan tuntunan agama mereka kurang..? atau jangan-jangan itu memang prilaku asli mereka. Apakah ada yang salah dengan mereka yang acapkali tidak bisa mengontrol diri. Jawaban sederhannya mungkin, tak adalagi jiwa kepimimpinan / leadership yang ada hanya jiwa kuli yang siap sedia menanti perintah. Andaikata mereka memiliki jiwa kepemimpinan, minimal bisa memimpin diripribadi setidaknya kontrol diri itu tetap ada.

Memang susah jika harus mengurai benang kusut kemacetan, kericuhan di parlemen, adu otot antar kampung, hingga generasi muda baik siswa dan mahasiswa saling tawuran. Inilah wajah pendidikan kita, saat jiwa kepemimpinan itu lemah sehingga mudah disusupi oleh provokator yang memiliki kepentingan. Di sekolah mungkin yang hadirkan hanya bagaimana berkompetisi, menguasai pelajaran, nilai yang bagus hingga lulus tanpa ditanamkan kepemimpinan yang berkarakter. Buktinyata bagaimana para calon pengantin usia sekolah yang mudah dibujuk rayu oleh teroris denga dijanjikan surga asal mau bunuh diri dengan bom di badan.

13516690111288030429

Tidak ada kata terlambat untuk memanaskan jiwa kepemimpinan yang mulai melempem.

 

Tak ada kata terlambat untuk menanankan jiwa kepemimpinan yang semula melempem kaya kerupuk, kini menjadi renyah kaya emping usai digoreng. Saatnya menghangatkan kembali jiwa pemimpin dalam diri ini agar hangat, dan kalau perlu bisa berkobar-kobar. Bangkitnya leadership setidaknya bisa menjadi nahkoda diri sendiri atau orang lain, sebut saja anak, istri, rekan kerja dan lain sebagainya.

Banyak hal yang bisa dipelajari untuk menghangatkan jiwa kepemimpinan, dan salah satunya adalah lewat outbond. Banyak event organizer dan operator yang menyediakan jasa pelatihan ini. Dari mulai sekolah, kampus, isntansi kerja, perkantoran dan oragnisasi tertentu. Memang tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan fasilitas ini, setidaknya mereka yang usai mengikuti pelatihan ini bisa menularkan kepada orang-orang terdekatnya.

13516691752040256481

Mampu melihat potensi diri dan peka terhadap lingkungan, esensi dari sebuah kepimpinan.

 

Dari kegiatan ini, setiap pribadi diajak melihat potensi diri dan orang lain untuk menghadapi setiap masalah yang dihadapi tentu saja dengan akal sehat. Pemimpin tidak berdiri sendiri, namun butuh sokongan dari orang lain tak ubahnya sebuah kepala dengan banyak anggota tubuh. Semua harus sinkron dan satu persepsi, jika satu bagian tubuh tidak lagi terkendali dengan baik tak ubahnya disusupi provokator.

Pelatihan ini juga bisa menggugah kesadaran diri, bagaimana jadi peka terhadap lingkungan sekitar. Andaikata semua peka dan sadar, maka adu serobot di jalanan itu tak ada, apalagi lempar caci maki diruang sidang, terlebih lagi anak-anak sekolah tak ada gear roda melayang dalam ikat pinggang. Memang tak mudah idealisme ini dijalankan, namun butuh kerja sama dari banyak pihak. Lebih mudah mengatur anak-anak yang  belum bisa memakai akal sehat, daripada mereka yang dewasa yang acapkali tidak bisa memakai akal sehatnya.

2 thoughts on “Kepemimpinan yang Mulai Melempem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s