Demi Moluska Harus Bertaruh Nyawa

Tekanan dan himpitan kebutuhan hidup mengharuskan orang untuk bekerja apapun jenis dan resikonya. Menjelang Maghrib di sebuah bendungan di Sungai Tuntang, Kab Semarang mencoba memotret kehidupan disana. Memancing dan menjaring ikan mungkin hal yang biasa disana, sebab menjadi titik berkumpulnya ikan. Ada sebuah pemandangan tak lazim dan aneh disana. Bukan ikan yang dicari kebanyakan orang, namun mahluk yang nyaris tak dilirik orang sedikitpun.

Tindakan nekat sekaligus mengerikan, itu yang terjadi disana. Lewat saluran pembuangan bendungan, sesosok tubuh yang hanya mengenakan celana dalam sedang mengais rejeki dibalik derasnya arus. Hempasan aliran air dari bendungan seolah tak dihiraukan resikonya, yang ada hanya disana ada rejeki dan sumber kehidupan.

13515188691071753201
Berjalan menyusuri derasnya aliran air

Dengan sebuah ember berjalan menuju pintu bendungan dengan melewati derasnya air.Kaki tangan harus sinkron saat berjalan dan tetap menjaga keseimbangan. Kaki berpijak kuat menahan hempasan air, sedangkan tangan meraba-raba dasar saluran dari sela-sela bebatuan. Tak terbayangkan jika lengah sedikit saja, maka tubuh kurus hitam itu akan terlontar dan terseret arus. Batu besar disana sudah menghadang, dan entah apa yang terjadi jika celaka itu datang. Sambil jongkok, tangannya terus meraba apa yang dicarinya.

sompil” kata lelaki itu saat saya bertanya gerangan apa yang dia cari. Keong air tawar yang hidup menempel dibebatuan dasar sungai, itulah yang dia cari. Molusca ini adalah sumber rejeki bagi dia, sebab laku dijual. Entah berapa uang yang dia dapatkan dari kisah uji nyali ini, yang pasti tak sebanding dengan resiko yang dihadapinya.

Kerang-kerang kecil ini nantinya bisa dijadikan pakan ikan atau unggas. Tak jelas jelas harga jualnya, yang pasti buat dia, molusca ini begitu berharga. Tangan menjadi indera peraba untuk mencari dimana gerangan hewan lunak ini. Resiko terkena pecahan kaca atau benda-benda tajam lainnya acapkali tak dihiraukannya. Didepan dia persis tersembur air muntahan dari Rawa Pening yang lalu menggelontorkan airnya ke Sungai Tuntang.

Penasaran, kemudian saya mendekati dia agar bisa sedekat mungkin dengan resiko yang dihadapinya. Kedua kaki melangkah ke tepi sunga, dengan mantap menginjakkan kaki pada sebuah tanah. Tiba-tiba ada tanah yang sedikit amblas dan berair, benar saja ini adalah delta yang mengapung. Lapisan tanah dari material sungai yang terkumpul dan menumpuk hingga membentuk pulau terapung.

Didepan mata air deras mengalir lalu hilang dan dibelakang sana muncul kembali. Ternyata air tersebut mengalir tepat dibawah kaki. Tak terbayangkan jika tanah ini bocor, atau amblas dan tubuh masuk kedasar dan digulung derasnya air. Lamunan itu sirna, dan segera mencari tempat aman dari lokasi yang berbahaya ini.

1351518944653969280
Satu deri sekian orang yang berani dengan resikonya.

Mungkin saya hanya satu dari sekian banyak orang yang menginjak tempat ini. Saya yakin lelaki tua ini setiap hari menginjak tanah ini, karean aksesnya harus lewat sini. Pekerjaan yang benar-benar berersiko, namun dia sudah paham akan resiko sehingga bisa menghidari dan meminilkan akibat deri aksi berbahayanya. Masih banyak mereka yang mengadu hidup ditempat berbahaya ini, namun itulah mahalnya sebuah kehidupan.

 

9 thoughts on “Demi Moluska Harus Bertaruh Nyawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s