Melukis Golden Hours hingga Golden Sunset

Cahaya temaram yang hangat itu memanggil saya untuk melihat ke arah sisi barat. Sepertinya sang surya ingin menunjukkan sesuatu kepada saya tentang adapa apa sore ini. Benar saja, cahaya hangat itu menggelitik untuk melukiskan dalam lempengan sensor  peka cahaya.

Sore ini akhirnya kaki melangkah ke sebuah titik yang menarik di Kota Salatiga. Banyak orang menyebut lokasi ini dengan Pohon Pengantin. Mitos yang berkembang di masyarakat setempat, konon di tempat ada sepasang pohon dari jelmaan sepasang pengantin. Kini pohon ini tinggal satu dan kokoh berdiri dipinggir sawah ditengah-tengan pematang.

1351004458668905959
Satu dari sepasang Pohon Pengantin yang kini masih berdiri kokoh (dok.pri)

Entah apa nama lokal pohon ini, namun dilihat dari morfologi batang dan daun bisa disimpulkan tanaman ini keluarga dari Moraceae. Keluarga ara-araan yang paling menonjol seperti Beringin (Ficus benjamina), Karet (Ficus elastica), serta Pohon Bodi (Ficus religiosa). Nah Pohon Pengantin ini masih satu keluarga dengan Beringin.

Batang yang meliuk-liuk menjadi ciri khas pohon beringin yang biasanya sangat baik dijadikan Bonsai. Bagi kebanyakan orang, Beringin adalah pohon yang dihindari karena dikenal angker dan tempat mahluk-mahluk halus. Berbeda dengan Pohon Pengantin, setiap sore menjelang pohon ini menjadi tujuan muda-mudi untuk menikmati matahari terbenam. Ada juga yang memakai sebagai obyek pemotretan pra nikah. Tak salah jika pohon ini dinamakan Pohon Pengantin, sebab sudah banyak calon pengantin yang berpose disini.

13510045711932980213
Pohon Pengantin sangat cantik saat Golden Hours (dok.pri).

Saya tidak akan membicarakan Pohon Pengantin ini, tetapi ingin sedikit berbagi apa yang saya lakukan disini. Sore hari diatas pukul empat sore adalah saat yang tepat untuk memotret yang dikenal dengangolden hours. Artinya, cahaya hangat, lembut ada dijam tersebut sehingga sangat tepat bagi mereka yang hobi bermain lansekap dan strobish. Memotret di Golden Hours memang gampang-gampang susah, dan sepenuhnya alam ini memegang kendali berkaitan dengan pencahayaan alami.

1351004699250213577
Waktu yang singkat menjadi tantangan untuk mengejar matahari (dok.pri)

Persiapkan kamera dan konsep untuk bertarung dengan Golden Hours yang sangat singkat. Persiapan yang kamera dan konsep matang sangat membantu dalam kejar-kejaran dengan matahari. Jika telat sedikit saja, maka datanglah besok sore dan belum tentu akan mendapat momen yang sama. Inilah tantangan bagi yang ingin bermain-main dengan cahaya alam.

Jika kamera dan konsep siap, maka jangan terlambat datang dilokasi sehingga bisa menjelajahi setiap jengkal obyek yang ingin difoto. Berbagai sudut pemotretan bisa kita mainkan. Bagi yang mencintai lansekap atau pemandangan, maka persiapkan lensa dengan ukuran selebar mungkin. Bagi yang ingin mendapatkan efek melengkung atau mata ikan, pakailah lensa fish eye. Jika lensa mata ikan tidak ada ditangan bisa diakali dengan bantuan komputer untuk memberikan efek mata ikan, namun kepuasan akan terasa lain.

1351004843265297016
Beragam cara untuk mengabadikan golden hours (dok.pri)

Tidak semuanya lansekap harus dengan lensa lebar, namun dengan lensa sempit atau tele juga bisa dilakukan. Arahkan mata untuk leluasa memandang dan cari obyek-obyek yang menarik. Kumpulkan obyek-obyek dengan memainkan komposisi, sehingga menjadi sebuah gambar yang menarik. Inilah tantangan kita untuk seni menata letak obyek dengan berbagai sudut pandang.

Apabila lensa sudah tidak ada masalah dan sudah menemukan obyek yang mana, sekarang saatnya belajar teknis sederhana dari dalam kemera. Cahaya yang hangat dan masih cukup kuat, maka bisa menggunakan ISO rendah yakni 100-400. Berkaitan dengan ISO, maka bisa juga dengan mengkombinasikan dengan kecepatan rana dan diafragma. Disini ketrampilan dan pengetahuan ISO, speed dan diafragma dipertaruhkan agar foto yang dihasilkan sesuai dengan keinginan.

1351004978135486108
Gunakan kaki tiga agar tetap stabil (dok.pri)

Jika cahaya sudah tidak bersahabat dan memaksa kita menggunakan kecepatan rendah maka jangan segan-segan mengelurakan kaki tiga untuk menyangga kamera. Memang acapakali kaki tiga ribet dibawa, namun pada saat ini sangat berjasa keberadaannya. Jangan segan-segan memakai kaki tiga jika memang dibutuhkan. Landscaper memang tidak bisa lepas dari kaki tiga, sebab sudah menjadi patnernya.

Masih juga belum menenukan setingan kamera yang tepat untuk mendapatkan ukuran yang pas. Jangan kawatir, kamera dan perangkat lunak komputer sudah canggih. Bagi yang mau bereksperimen bisa memakai fitur HDR, yakni dengan memotret mengunakan 3 atau lebih ukuran gelap terang lalu digabung untuk mendapat pencahayaan yang pas. Jika tidak mau bermain dengan HDR bisa bermain dengan perangkat lunak komputer. Banyak cara untuk mendapat gambar indah, namun kepuasan ada ditangan kita.

13510051531765191830
Jangan pulang dulu, Golden Sunset sudah menunggu (dok.pri)

Bermain cahaya pada jam-jam ini sangat disarankan. Latar belakang dengan cahaya alam sangat indah jika dikombinasikan dengan cahaya buatan. Cara paling sederhana jika ingin bermain strobish, bisa menggunakan pemantul cahaya yang diarahkan pada obyek. Cara lain adalah dengan menggunakan lampu kilat untuk memberikan cahaya tambahan pada obyek agar lebih kuat karakternya. Sebaiknya cahaya langsung dari lampu kilat kepada obyek tidak disarankan karena obyek akan terkesan datar. Cara  untuk menghindari obyek datar, adalah dengan memberikan pencahayaan dari samping sehingga kesan tiga dimensi akan keluar.

Apa yang terjadi jika terlambat datang dan sang surya sudah hilang di ufuk barat. Jangan pulang dulu dan tunggulah sebuah momen yang tak kalah indah. Golden Sunset demikian para tukang poto menyebutnya. Paparan cahaya matahari dari balik bumi akan memberikan cahaya yang indah pada langit. Pola-pola awan akan semakin cantik dan jelas saat disorot cahaya matahari yang sudah hilang. Langit menjadi obyek yang menarik untuk dilukis, sehingga bisa menjadi menu penutup yeng menyenangkan.

Sekali lagi, jangan pulang dulu. Perhatikan dilangit masih ada apa yang tersisa untuk dilukis. Jika masih ada, jangan sungkan-sungkan untuk mencari-cari obyeknya. Bulan yang masih malu-malu bisa dijadikan incaran, sambil mengkombinasi dengan obyek-obyek lain agar lebih menarik. Tak mudah memotret bulan dengan ukuran kecil, maka lensa tele menjadi pilihan agar obyek bisa digambar sempurna. Memang sebuah pilihan dan keputusan harus memakai perpanjangan mata saat mengulik benda-benda langit yang satu ini. Jika kreatif lensa lebarpun juga tak jadi soal yang penting kreatifitas kita yang berkerja.

13510052721611112838
Sang Bulan menjadi penutup Golden Sunset (dok.pri)

Pohon pengantin di Jalan Siranda Salatiga menemani menggambar sore-sore kali ini. Tidak tahu apakah besok masih memberikan keindahan serupa, sebab musim hujan sudah datang dan sangat susah mendapat sunset yang bagus. Mari berburu golden hours untuk melukis keindahan menjelang senja hingga Golden Sunset

5 thoughts on “Melukis Golden Hours hingga Golden Sunset

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s