Gurupun Enggan Belajar, Namun Tetap Pintar

Setahun yang lalu, Ayah saya pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang Guru. Mungkin saat ini, dia adalah orang yang paling bahagia sambil tersenyum melihat rekan-rekan sekejarnya yang belum pensiun. Rekan kerja Ayah saya, sekarang sedang kelimpungan bin panik saat harus “kebo nyusu gudel” alias belajar pada yang lebih muda.

Memang tak ada kata terlambat untuk belajar, itu kata pepatah, tetapi kali ini urusannya sudah beda. Kemampuan otak yang sudah berkurang, minat yang sudah hilang melayang, dan manfaat yang tak lagi jadi jaminan membuat orang enggan untuk belajar. Ayah saya mengaku dirinya selamat dari kebijakan dinas pendidikan setempat, dimana setiap guru diwajibkan belajar bahasa Inggris dan menguasai program komputer, yang nantinya digunakan sebagai pendukung proses belajar mengajar. “masak sudah tua dan mau pensiun suruh kursus bahasa inggris dan komputer, otak sudah tak sanggup” katanya berkilah.

1350609486497929594
Papan tulis kusam dan kapur bebas debu menjadi media dalam mencerdaskan anak bangsa (dok.pri)

Tak ayal, rekan-rekan Ayah yang rerata sudah diatas usia 50 tahun kelimpungan kesana-kemari mencari akal bagaimana tidak terjerat dengan kebijakan ini. Semula familiar dengan kapur tulis dan blabak (papan tulis hitam), kini harus mengadopsi spidol dan white board dan miris lagi keluar keringat dingin saat disediakan LCD proyektor. Mungkin untuk daerah kota atau yang tersentuh teknologi, bukanlah masalah yang begitu memusingkan. Bagaimana jika teknologi tersebut didaerah pedalaman Kalimatan yang masih memakai cara-cara konvensional,  ditempat Ayah dulu mengajar.

Guru memang tanpa tanda jasa, beragam cara mereka gunakan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa ini. Gilasan roda jaman dan modernisasi acapkali mengusik irama mereka yang sudah puluhan tahun mengajar dan sudah begitu menikmatinya. Perubahan memang menyakitkan, namun untuk tujuan yang lebih baik harus tetap dijalankan. Ayah saya hanya bisa berkata “untung saya sudah pensiun” sambil tersenyum di sambut senyum getir rekan-rekannya yang belingsatan menjelang masak purnabakti. Pola belajar dan mengajar yang mereka temukan ibarat ramuan ajaib dan rahasia, hanya mereka yang bisa dan kini harus diganti obat generik.

Cerita serupa tak jauh berbeda dengan rekan-rekan kuliah saya dari pedalam Papua. Dari data diri, mereka adalah guru-guru senior yang sudah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan. Saat mereka diwajibkan mengikuti studi lanjut, tak berbeda jauh dengan rekan-rekan Ayah saya yang berkeringat dingin. Wajah-wajah kepanikan muncul saat harus dihadapkan dengan sesuatu yang baru dan baru kali ini mereka temui. Mungkin bagi kita hal yang biasa, tapi bagi mereka ini adalah sebuah keajaiban.

Awal kuliah mewajibkan semua miliki akun surat elektronik, realitanya mereka masih setia dengan mesin ketik jadulnya. Jangankan surat elektronik, nyentuh komputerpun mereka nyaris tak pernah. Jangan berbicara teknologi dengan mereka, sebab listrik belum ada di kampung dan sekolahnya. Namun ada satu yang membuat saya kagum dan angkat topi kepada mereka, yakni memiliki metode dalam pengajaran.

Metode yang mereka berikan, bukan dari buku-buku teori, tetapi lewat pengalaman yang bertahun-tahun hingga menemukan cara yang tepat bagaimana mengatasi murid-mudir mereka dengan beragam masalah akademik yang kompleks. Kesabaran, kewibawaan, dan dedikasi yang tinggi terpancar dari raut wajah mereka saat negitu antusias belajar, walau dengan cara-cara konvensional.  Memang semua  ada lebih kurangnya, dan ini adalah realita.

13506098781386213518
Muatan Lokal dengan kearifan lokal jauh lebih bermanfaat untuk menyiasati segala keterbatasan (dok.pri)

Mencerdaskan anak-anak bangsa seperti yang tertulis dalam pembukaan UUD45 adalah tugas yang mulia. Beragam cara bisa digunakan untuk mendidik anak bangsa disesuaikan dengan situasi dan kondisinya masing-masing. Tak mungkin mengajarkan ilmu komputer disekolah yang listrik belum bisa dijangkau, namun masih banyak hal yang bisa diajarkan. Salah satu yang menarik adalah muatan lokal, yakni memberikan pelajaran mengenai kearifan lokal sebagai wujud warisan nenek moyang. Bapak saya mungkin satu dari sekian banyak orang yang selamat dari cara-cara metode pembelajaran modern.

Rekan-rekan Ayah saya yang belingsatan, mungkin banyak juga yang bernasib demikian. Masih banyak tenaga pendidik yang jauh dipedalaman yang seharusnya mendapat sentuhan, bukan lagi tekanan. Memang tak ada kata terlambat untuk belajar, setidaknya tetap bijak siapa dan apa yang dipelajari untuk siapa…?

4 thoughts on “Gurupun Enggan Belajar, Namun Tetap Pintar

  1. iya e mas tanteku lho mengajukan pensiun dini soale harus kuliah lagi 4 tahun wakakakakakaka
    lah mending buat nguliahin anaknya to ??? benar ra

    jossss puooolll pokoke
    aku mbok minta fotone yo mas ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s