Sagu Lempeng, Murah Bisa Jadi Mewah

Sagu Lempeng

“kletak” batangan berwarna merah itu saya gigit. Keras dan rasanya ada serpihan pasir yang menyebar di lidah. Tingkah laku saya yang asli orang Jawa langsung disambut Mace, Pace Papua dan Jong Ambon. Itulah pengalaman pertama dikerjain teman-teman dari Papua dan Ambon yang menyuguhkan sagu batangan. Benda persegi berwarna merah mirip tahu ini memang kerasnya bukan main jika digigit. Ternyata ada caranya menikmati sagu batangan ini, dan tak asal gigit dan telan mirip buaya seperti apa yang telah saya lakukan.

Layak jadi makanan mewah

Sagu merupakan makanan pokok dan khas bagi penduduk di Papua dan Maluku. Bahan makanan berbahan batang Rumbia/ Sagu (Metroxylon sago) yang sudah dipangkur tak beda jauh dengan gandum atau tapioka. Banyak beragam makanan yang dibuat dari bahan baku sagu, seperti; Papeda, papeda, sinoli, ongol-ongol, sagu lempeng, sagu gula, sagu tumbuh, bubur ne, dan Bubur Mutiara. Ada satu yang unik dari sagu yang kebetulan ada didepan mata ini, yakni sagu berbentuk lempang.

Biasanya sagu yang dikenal sudah dalam bentuk tepung atau butiran bulat warna-warni. Penasaran dengan makanan satu ini lantas ngobrol dengan teman-teman dari Papua dan Ambon yang sore itu menikmati sagu lempeng. Sambil mendengarkan lagu yang didendangkan Edo Kondologit yang berjudul Pankur Sagu, kami menikmati sagu lempeng sambil ditemani teh panas.

Sagu lempeng, adalah tepung sagu yang dimasukan dalam cetakan besi lalu di panaskan dengan cara dipanggang. Warna merah yang muncul dari ini tepung sagu yang panaskan dalam cetakan yang disebut Porna, demikian Jong Ambon menjelaskan. Sangat menarik sekali pengolahan sagu lempeng ini, namun nilai tambah dari pengolahan ini adalah sebuah teknologi pangan untuk pengawetan. Pengawetan dengan pemanasan, yakni dengan mengurangi kadar air mampu menghambat pertumbuhan mikroba dan jamur, sehingga sagu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Beberapa modifikasi juga ditambahkan dalam membuat sagu lempeng ini. Penambahan bahan-bahan seperti kacang dan gula sebagai komposisi sagu lempeng adalah modifikasinya untuk memberi nilai tambah.

Berbicara kandunagn nutrisi, sagu tak kalah dengan sumber pangan yang lain seperti; padi, gandum, jagung dan singkong. Sagu memiliki kandungan gizi karbohidrat 84,7%; Protein 0,7%; lemak 0,2%. Tak salah jika masyarakat Papua dan Maluku memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Kandungan kalori sebesar 353kal/100gr sagu menjadi sumber energi yang tak kalah dengan bahan pangan lain.

colo (celup) saja sudah... kata Jong Saparua

Stigma sebagian besar masyarakat, kalau belum makan nasi belum makan yang acapakali memarjinalkan makanan unik ini. Sagu lempeng, seharusnya menjadi keanekaragaman pangan dan tidak hanya di Indonesia tmur saja, seharunya keseluruh penjuru tanah air. Saya puas, kenyang makan sagu ini walau rasanya asing, namun ternyata enak juga. Kesan aneh pertama kali menggigit kerena tidak tahu, begitu paham bagaimana mengkonsumsinya malah menjadi ketagihan. Pagi hari sarapan, cukup teh manis dan sagu lempeng selamat tinggal nasi untuk beberapa waktu.

7 thoughts on “Sagu Lempeng, Murah Bisa Jadi Mewah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s