Jus Buah Rasa Rempah-rempah Beraroma Alkohol

blub blub blub  suara gelembung air meletup-letup ke permukaan. Wangi aroma alkohol dan bebuahan menggoda indera pencecap untuk mencicipi rasa dari minuman fermentasi ragi. Minuman berbasis bebuahan atau serealia sudah tak asing ditelinga kita. Siapa tak kenal dengan arak, wine, tuak, legen, sake, ciu, air tape dan lain sebagainya. Prinsip dari minuman tersebut adalah adanya kandungan alkohol.

Dibalik stigma negatif tentang minuman alkohol, yang acapkali dituding biang dari masalah. Alasannya klasik, yakni mabuk alias mengkonsumsi minuman beralkohol melebihi kemampuan batas tubuh dalam mentoleransi hingga susunan saraf mengalami gangguan. Alangkah bijaknya jika kita menempatkan minuman dengan kandungan alkohol secara proporsional pada porsinya. Memang sesuatu yang berlebih tidak baik, jangankan alkohol, minum air mineral berlebih saja bisa keracunan.

Pertanyaan sekarangtalkohol tersebut dibuat�?. Proses biokimia inilah yang kadang kita lewatkan, sehingga orang tak bisa membedakan dan membabibuta dalam sudat pandangnya masing-masing. Saya pernah diskusi dengan seorang teman, kebetulan sedang lulus dari bangku sekolah. Sengaja saya melukai emosi dia agar bisa mencari sudut pandang bagaimana menyikapi minuman beralkohol. Menurut dia, semua minuman beralkohol adalah haram. Hal senada juga di ungkapkan pak Pendeta, dikatakan minuman yang memabukan adalah haram. Tanpa sadar, saat itu saya sajikan tape ketan dari beras yang dibungkus daun pisang.

Pertanyaan sekarang, darimana alkohol tersebut berasal..?. Biang keladi alkohol ini dibuat oleh mahluk kasat mata yang bernama ragi (yeast)/khamir atau jamur/kapang. Ragi sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum masehi orang Mesir sudah mengenal ragi. Peran ragi mengalami pencerahan saat Louis Pasteur 1856, menemukan penyebab masamnya anggur oleh ragi. Ilmu mikrobiologi semakin berkembang pesat, terutama pada bidang pangan khususnya pada minuman.

Tidak usah pusing membahas haram atau tidaknya minuman beralkohol tersebut. Arahkan sudut pandang pada bagaiama mahluk kecil itu berperan produksi alkohol, yang kadang disalah artikan dan disalah gunakan demi memuaskan nafsu manusia. Saccharomyces cerevisiae, adalah salah satu spesies dari khamir/yeast untuk membuat wine/anggur, legen/nira, dan arak. Beberapa jamur/kapangAspergillus orizae juga bisa menghasilkan alkohol. Ragi ini biasanya dipakai untuk membuat tape, pueyem, tuak dan arak. Kedua mahluk hidup tersebut memiliki karakteristik yang sama, walau dengan wujud dan rupa yang berbeda.

Prinsip mahluk tak kasat mata tersebut dalam membuat alkohol adalah mengubah pati/gula/karbohidrat menjadi ethanol/alkohol dan gas CO2/karbon dioksda. Sebenarnya mahluk ini tidak ngapa-ngapain, namun ada materi dari mahluk ini yang bisa membuat alkohol yang bernama enzim. Inilah istimewanya ragi yakni memiliki enzim alkohol dehidrogenase. Enzim inilah biang yang memproduksi calon-calon minuman yang katanya haram. Sebernarnya masih ada proses yang panjang dan kompleks, tetapi inti kerja mahluk ini adalah membuat alkohol. Selain itu, produk sampingnya adalah gas CO2 yang mendesis saat di tuangkan dalam gelas seperti saat kita menuangkan minuman ringan.

Indonesia kaya akan bebuahan yang tak kalah dengan negara-negara Eropa. Mungkin di benua biru sana, Anggur adalah buah eksotis yang bisa dijadikan berbotol-botol minuman dengan harga selangit. Mengapa negara kita yang gemah ripah loh jinawi dengan beragam bebuahan tak bisa?. Masalah teknologi?, tidak juga, sebab bangsa kita juga sudah kenal dengan teknologi yang berhubungan dengan fermentasi. Tuak, legen adalah minuman keras berbahan dasar beras/singkong dan nira kelapa. Namun, budaya minum berlebih itu yang kadang tak terpikirkan bagaimana mengapresiasi minuman ini.

Sebenarnya dipasaran sudah banyak dijual aneka minuman yang beralkohol baik yang ilegal ataupun legal. Bukan bermaksud meracuni dan membuat mabuk oleh alkohol, tetapi mencoba untuk mengapresiasi sumber daya alam berupa bebuahan dan serealia menjadi lebih variatif. Dalam benak ini berharap ada minuman fermentasi dari buah-buahan lokal, sehingga menjadi nilai tambahnya.

Tiap tahun pasti musim buah-buahan seperti Rambutan, Durian, Salak dan lain sebagainya. Ap
abila bebuahan tersebut melimpah dan tidak terkonsumsi, bisa jadi terbuang sia-sia. Bagaimana jika dibuat minuman saja, walau ada alternatif lain seperti Dodol, Sirup atau manisan. Apakah ada bayangan jika ada wine rasa Rambutan, Salak, atau buah-buahan lokal yang melimpah ruah saat panen. Fermentasi adalah salah satu teknologi pengawetan bahan pangan, yang tetap menjaga ketersediaannya walau sudah dialuh wujudkan.

1346157343998838501

Ide liar ini, terus saja mengusik diri untuk terus bermain-main dengan bebuahan lokal untuk di fermentasi. Citarasa minuman Eropa sudah menjadi cirikhas, bagaimana dengan cita rasa kita?. Bereksperimen dengan rempah-rempah; cengkih, kayu manis, pala, dan kapulaga yang dikolaborasikan dengan bebuahan yang difermentasikan. Akhirnya, sekian lama bermain-main dengan yeast, bebuahan dan rempah-rempah menghasilkan minuman yang khas. Aroma alkohol, segarnya bebuahan yang dibalut rempah-rempah. Seolah minum jamu dicampur jus buah dengan rasa alkohol. Tidak usah banyak-banyak, yang penting mengobati rasa penasaran, sambil mencari solusi agar buah-buahan lokal bisa diapresiasi dan memiliki nilai lebih.

Pertanyaan berpindah, bagaimana mendapatkan mahluk tak kasat mata ini yang benar-benar unggul. Pertnyaan selanjutnya bagaimana sistim produksi dari hulu hingga hilir. Pertanyaan terakhir adalah pemasaran dan mengubah pola pikir, sehingga cap haram yang melekat kuat itu luntur karena sudut pandang dan apresiasi yang berbeda. Tak salah jika wine bercitarasa bebuhan dan beraroma rempah-rempah dengan kadar alkohol 2-3% menjadi jamuan dengan citarasa yang khas. Tetap pada porsinya, karena racun ini membuat ketagihan, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik.

8 thoughts on “Jus Buah Rasa Rempah-rempah Beraroma Alkohol

  1. 3ojo said: ada nggak selain rasa buah…. juga rasa sayang heheheheh

    Teriak kepemerintah di RI, yang jual semua keluar dan beli Kedele untuk tempe…sawit saja bikin hancur Hutan di Sumatra dan Kalimantan…hasilnya keluar…mikirin kantong sendiri dan gak pernah puas rakus….

  2. orangjava said: Teriak kepemerintah di RI, yang jual semua keluar dan beli Kedele untuk tempe…sawit saja bikin hancur Hutan di Sumatra dan Kalimantan…hasilnya keluar…mikirin kantong sendiri dan gak pernah puas rakus….

    kapitalis serakah mbah……yah itulah mereka mikir ususe dewe dan gak mikir efek kedepannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s