Bakteri-pun Bisa Up date Status

Seminggu sudah euforia detik-detik proklamasi dikumandangkan yang disusul gema takbir menyambut kemenangan setalah sebulan berpuasa. Sang saka merah putih dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan, dan bedug bertalu-talu dimalam takbiran dengan mengumandangkan asma Allah. Bendera dan bedug adalah sebuah simbol untuk menghantarkan pesan, sekarang 17an dan sebentar sudah lebaran. Alat komunikasi yang efektif, tak tak usah meragukannya lagi, pasti semua orang Indonesia sudah paham.

Pertanyaan sekarang, benarkah semua bisa memaknai dari setiap simbol-simbol sebagai media komunikasi tersebut?. Masih terngiang di otak saya, ada seorang wartawan yang tertembak lehernya oleh senapan angin saat meliput bentrok antar kampung. Tak jauh dimata saya, para pemudik yang adu cepat, saling serbot dijalanan, dan itu benar-benar nyata. Bukan barang aneh lagi, seorang penegak hukum tertangkap basah menerima uang suap oleh KPK. Tarik benang merahnya, 17an dan lebaran disambung dengan tindakan yang menyimpang. Ini yang salah pembina upacara, pemuka agama, penegak hukum, atau siapa? saat pesan-pesan itu disampaikan tetapi tidak bisa diterjemahkan dengan benar.

Sebuah analoginya sederhana, dalam pertandingan sepak bola resmi, apabila pemain kurang 1 saja dari masing-masing kesebelasan pasti tidak jadi bertanding. Demikian pula dengan anggota DPR harus dihadiri setidak-tidaknya setengah plus satu demikian juga votingnya. Yang pasti semua ada aturan mainnya, namun jika itu dilanggar pasti ada konsekuensi logisnya, namun berbeda dengan dunia kasat mata. Bakteri, jika belum memenuhi kuota atau penumpangnya belum penuh, tak akan diberangkatkan busnya.

Komunikasi diciptakan agar terjadi kesepahaman dan kesepakatan. Kita bisa berkomunikasi dengan segenap panca indera, bahkan meniru prilaku hewan dengan feromonnya. Tidak percaya?, selama anda tidak pilek pasti bisa mencium sedapnya masakan dan wanginya pasangan anda bukan?. Pertanyaan sekarang, bagaimana dengan mahluk-mahluk kasat mata alias yang tak terlihat oleh mata.

134597584658394160

Bukan sulap bukan sihir, dan tak membicarakan tentang jin setan, bagaimana berkomunikasi, tetapi ini tentang bakteri. Mekanisme menarik dari cara bakteri berkomunikasi yang bisa mengajari kita bagaimana hidup berdampingan. Secara sederhana, bakteri berkomunikasi dengan sesama jenisnya (spesies) dan kerabat-kerabatnya (spesies lain) dengan menggunakan media pensinyalan. Sinyal-sinyal molekul tak beda jauh dengan feromon, namun bakterik tak akan memakai hidungnya untuk mengendus. Molekul-molekul tersebut disebut homoserin lakton atauautoinducers.

Ternyata bahwa bakteri memancarkan autoinducers, atau sinyal molekul yang mirip dengan feromon. Konsentrasi autoinducers di setiap daerah tertentu menunjukkan ukuran populasi. Untuk melakukan ini, mereka menggunakan molekul organik kecil yang disebut homoserine lakton, atau autoinducers. Caranya, bakteri akan mengeluarkan sinyal-sinyal tersebut kemudian ditangkap oleh bakteri lainnya yang sejenis maupun tidak. Tujuan berkomunikasi ini bermacam-macam, ada yang naris alias menunjukan eksistensi dirinya atau memang mengirim pesan-pesan tertentu untuk dikomunikasikan. Istilahnya, bakteri sedang update status, terserah bakteri lain mau komentar atau cuma kasih jempol �like this� saja. Yang pasti mereka tak akan berkomentar, atau kasih jempol tetapi segera meresponnya, tanpa banyak bicara.

1345976046620972773

Ada yang menarik dari perbincangan bakteri dengan sinyal-sinyal berupa molekul organik. Salah satu yang menarik, adalah ajakan untuk membina rumah tangga baru, istilahnya berkoloni, atau membuka perumahan baru untuk tinggal. Hebatnya lagi, ditempat baru tersebut jika tidak memenuhi kursi yang disediakan tidak akan berangkat. Mekasisme tak penuh tak berangkat, mirip angkudes ini disebut Quorum Sensing. Quarum sensing, adalah mekanisme bakteri memastikan jumlah sel, apakah sudah mencukupi apa belum, sebelum melakukan respon biologi. Dala dunia mikroorganisme tak ada istilah tawar menawar, kong kalikong, suap menyuap, gratifikasi, nepotisme, yang ada hanyal �penuh berangkat�.

Saya kira, kita pernah bermain di sungai dan menginjak bebatuan yang licin. Pertanyaan sekarang, kenapa batu tersebut licin?. Mungkin dengan mudah kita langsung berkata �sudah lumutan�, eits sabar dulu dan perhatikan. Lumut tak tumbuh didalam sungai, kalaupun ada juga tak ada didalam air. Bisa saya simpulkan sementara, dibatu tersebut ditumbuhi alga/ganggang atau bakteri. Masih tak percaya, coba anda tidak susah gosok gigi sehari saja, dari semula gigi kesat akan berubah menjadi batu yang licin dan penuh dengan noda-noda.

Melekatnya mikroorganisme pada media tersebut, biasanya disebut dengan biofilm. Dalam biofilm terdapat bermacam-macam jenis mikroorganisme. Dari mulai batu disungai, dinding akuarium, hingga deretan gigi-gigi kita bisa menjadi media bakteri untuk membuat biofilm. Ada yang menarik dari proses pembentukan biofilm, yakni mekanisme komunikasi dan quorum sensing oleh bakteri.

Saya ambil contoh
batu yang terendam di selokan perumahan. Batu yang licin, bau tak sedap, namun disana ada kehidupan. Menarik sekali dan unik kehidupan mahluk tak kasat mata ini jika benar-benar dimaknai setiap kehidupannya. Dibatu diseloka tersebut, setidaknya ada 3 lapisan organisme yang yang tinggal disana. Batu yang katanya tadi lumutan, mungkin saja berwarna hijau bisa dijadikan pelajaran hidup. Warna hijau pada permukaan batu tersebut, biasanya adalah alga/ganggang yang berfotosintesis, alias bisa memasak makanan dengan bantuan sinar matahari. Tidak menutup kemungkinan bakteri fotosintetis juga hadir disana. Lapisan dibawahnya (tengah) adalah mikroorganisme kemoorganotrof anaerob fakultatif dan bagian dasar adalah mikroorganisme anaerob pereduksi sulfat.

13459759521039221982

Masing-masing dari mereka hidup berdampingan dengan Tri Kerukunan Mikroorganisme, yakni dengan antar spesies, antara spesies dan antar lingkungan. Tak ada yang merasa paling atas, atau merasa ditindas karena ada dibawah. Tak ada yang jadi pemimpin, atau jadi cecunguk yang selalu diperintah. Mereka sudah tahu tugas dan tanggung jawabnya, kapan membuat makanan, kapan merombak bahan kimia, hingga merduksi bahan-bahan yang bisa didaur ulang. Bila mereka tak quarum, juga tidak jadi berumah tangga, yang pasti ada sebuah habitat yang sinergis. Disinilah taman eden, didepan rumah kita didalam selokan yang baunya tak sedap. Tergantung sudut pandang kita memaknainya dan bagaimana menyikapi dari sebuah pelajaran sederhana mahluk tak kasat mata.

Advertisements

6 thoughts on “Bakteri-pun Bisa Up date Status

  1. Pingback: Bakteri-pun Bisa Up date Status | gadis petualang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s