Warna Gunungku yang Abu-abu dan Pudar Satu persatu

Apa yang terlintas dipikiran anda saat menyaksikan si cantik yang mungil dan berwarna menawan ini. Ini adalah salah satu spesies dari keluarga Orchidaceae/ Anggrek. Bukan anggrek yang sering kita temui di toko-toko bunga, pameran flora, atau rumah-rumah yang dijadikan tanaman hias. Anggrek tanah ini adalah liar dan masih ada dihabitatnya. Tumbuh terhimpit diantara semak belukar, nampak kontras dengan warna yang cantik dan bentuk yang anggun.

Menurut Anda, apakah kecantikan itu?. Mungkin cantik adalah bentuk sempurna dan tiada cela dan semua orang suka. Andaikata ada 10 finalis ratu kecantikan dijajarkan apakah bisa memutuskan 10 finalis tersebut cantik?. Yang pasti cuma ada 1 yang cantik atau tercantik, padahal sisanya juga cantik semua. begitu juga dengan Anggrek tanah ini, mungkin akan kalah bersaing dengan anggrek-anggrek lain di toko bunga. Apabila anggrek mungil ini sendirian ditengah-tengah semak belukar, maka baru akan muncul kharisma kecantikannya.

Kecantikan muncul disaat dia berdiri dengan sudut pandangnya dengan cari yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan itulah kecantikan sebenarnya. Namun kecantikan itu kini pelan namun pasti mulai sirna dan entah hilang kemana. Tahun 2007 saya menyambangi tempat ini, dan anggrek tanah dengan aneka warna masih banyak sekali jumlahnya. Sayang waktu itu belum berpikir untuk mengabadikan satu persatu dan mengidentifikasikannya. Terlambat sudah, kemarin 11/08/2012 saya kembali lagi kesana “ngubek-ngubek” gunung hampir 5 jam hanya menemukan 1 anggrek tanah.

Kelu diri ini memikirkan pada kemana hamparan anggrek liar yang dulu sedang bermekaran. Tidak mungkin mereka bersembunyi atau dormansi. Saya hafal betul famili Orchidaceae dari morfologi pohonnya, walaupun tak berbunga setidaknya masih ada tumbuhannya. Kini nyaris, yang ada hanyalah Repatorium riparium yang memenuhi lekuk-lekuk gunung. Ilalang dan tumbuhan berjarum mendominasi lereng-lereng terjal, dan seolah tak memberi kesempatan tanaman lain untuk muncul kepermukaan menghirup udara bebas dan menangkap cahaya kehidupan.

Beralih kehutan Pinus yang beridiri tega seperti tombak. Mengapa saya katakan demikian, karena Pinus merkusii yang tumbuh disana hanya dahan bagian atas saja yang tersisa sehingga mirip ujung tombak. Penduduk setempat memangkas dahan dan rantingtanaman kelas rendah ini, jika dilihat dari struktur alat reproduksinya. Kegiatan (mapang/Jawa) memangkas dahan dan ranting untuk mendapatkan kayu dan daunnya. kayu sebagai bahan bakar di dapur, sedangkan daunnya yang telah dikeringkan untuk alas hewan ternak.

13447448912031310424

Usnea sp salah satu lumut kerak sebagai Indikator bersihnya lingkungan dan sumber obat-obatan (dok.pri)

Jangan risaukan Pinus-pinus yang nyaris gundul. Apabila diperhatikan lebih dekat, ada sebuah habitat kehidupan yang menarik. Kulit-kulit pinus yang keras, nampak seperti ada noda-noda panu dan tumbuhan parasit. Jangan buru-buru menyimpulkan Pinus terserang penyakit atau ditempeli parasit. Yang menunpang hidup di kulit pinus adalah lumut kerak. Lumut kerak/lichenes adalah sebuah keluarga dari 3 jenis mahluk hidup. Lumut sendiri yang paling dominan, karena terlihat paling menonjol, tetapi tanpa 2 mahluk didalamnya Lumut bukanlah apa-apa.

Simbion atau kerabat hidup lumut lainnya adalah Bakteri, Alga dan Jamur. Masing-masing mahluk ini memiliki perannya sendiri-sendiri untuk saling mendukung kehidupan. Bakteri, berperan dalam menambat nitrogen, Alga berperan dalam proses fotosintes, sedangkan jamur dan lumut sebagai shelter atau tempat perlindungan dan inang. Inilah kekerabatan dari habitat ini yang saling menguntungkan.

Salah satu yang menarik adalah Unsne sp. Orang Jawa menamakan tumbuhan ini sebagai jenggot resi. Lumut kerak dari keluarga Usneaceae ini memiliki peran penting secara ekologis. Unsena dan lumut kerak lain sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan terutama polusi. Tumbuhan ini harus hidup ditempat dengan udara bersih, bebas polusi. Artinya jika kita menemui tumbuhan ini yang pasti lingkungan tersebut masih bersih. Fungsi lain dari Usnea adalah sebagai tanaman obat. Jenggot resi sudah sejak lama digunakan sebagai bahan ramuan obat untuk diare, dan masuk angin. Asam usnat dalam Unsea memiliki fungsi sebagai bahan farmasi, sedangkan kandungan alkaloid, saponin dan sebagainya juga ada sebagai anti bakteria.

Saya bersukur, masyarakat sekitar belum sepenuhnya mengetahui nilai ekonomis Unsea yang masih banyak tumbuh liar dipohon-pohon pinus. Sekilo Usnea kering dihargai 50 ribu, entah berapa rupiah juga sudah masuk dalam toko obat atau industri farmasi. Yang pasti dan perlu diketahui, Jenggot resi ini butuh waktu 1 tahun untuk tumbuh sebankang 3-5mm. Waktu yang sangat lama untuk tumbuh dan tak sebanding jika diburu begitu saja hanya untuk lembaran rupiah.

Hampir 5 jam mengosak-asik gunung yang berketinggian 1775mdopl menurut GPS saya, tak kunjung juga menemukan salah satu tanaman eksotis. Tanaman ini adalah karnivora, yakni mendapatkan nutrisi dari hewan-hewan yang terjebak dalam kantong ajaibnya. Nephentes gymanaphora atau Kantong semar, saya temukan di lokasi ini 5 tahun yang lalu. Tanaman ini memang sangat mempesona dengan kempuannya sebagai pemakan serangga dan moluska yang bernasib sial.

1344745023687586890

5 Tahun yang lalu, kamera saya membidik perburuan Kantong Semar, dan sekarang sudah tidak tersisa. (dok.pri)

Sayang kantong Semar tak juga saya temukan. Rasa putus asa akhirnya menghujam bak air bah yang turun bersama peluh keringat. 5 tahun yang lalu penduduk setempat memburu kantong semar untuk diperjual belikan. Dahulu 1 tanaman dihargai Rp 2.500,00, sehingga menjadi buruan yang diminati. Ekploitasi tumbuhan yang tak terkendali dan baru sekarang adalah upahnya. Hilang sudah Kantong ajain ini dari habitat aslinya. Mungkin sebentar lagi akan menyusul Anaphalis javanica atau Edelweis yang tumbuh liar, atau sisa-sisa Anggrek tanah yang belum mau menampakan diri.

Langkah kaki ini gontai saat kecantikan gunung ini hilang satu persatu dan kini nyaris tak ada lagi tumbuhan cantik. Langkah kaki ini tersentak dan seolah tersandung sebuah obyek didepan mata. Kembali hati kecil saya digores oleh benda tajam saat melihat batang pinus terluka. Luka ini bukanlah sadapan untuk mengambil terpentin/getah pinus, namun perlukaan untuk membunuh tanaman wangi khas ini agar mati pelan-pelan.

13447451081595561449

Membunuh Pinus secara pelan tanpa ketahuan (dok.pri)

Menoreh jaringan pengangkut, yang membawa mineral dan air dari tanah ke daun. berhentinya distribusinya bahan makanan ini, membuat daun tidak bisa lagi memasak makanan untuk nutrisi seluruh tubuhnya. Ibarat nadi yang terputus, dan mati pelan-pelan dan inilah yang terjadi disana. Pinus yang mati, mengering lalu rubuh menjadi incaran pemburu kayu. Alamku kembali terluka saat diatas sana hilang satu persatu tanaman cantik, kini semakin kebawah mulai terancam oleh ulah mereka yang tak bertanggung jawab.

134474517632164393

Mata ini kelu saat memandang gunungku yang abu-abu (dok.pri)

Gunungku yang dulu hijau, penuh dengan tanaman cantik kini seolah hitam putih dan abu-abu. Berdiri kokoh namun tak jelas arahnya, tidak hitam tak putih dan semua abu-abu. Sisi ekologis kadang digerogoti serahkanya nilai ekonomis. Sebuah dilema yang tak tahu harus berlari kemana?. Andong gunung mungil di Ngablak, kab Magelang, Jawa Tengah adalah satu dari sekian banyak yang menjadi korban. Taman tempat bermainku sudah abu-abu, namun yang pasti nanti saya bisa sai tubuhmu.

Tugas kita saja tak cukup yang hanya berkeluh kesah tentang alam ini. Cepat atau lambat alam ini pasti akan menuntut balas atas ulah-ulah mereka yang keji terhadap ekologi. Entah siapa nanti menerima karma ini, yang pasti Alam akan menepati janji. Sebelum mereka menuntut janji, belum terlambat untuk minta ampun dan mengembalikan apa yang dulu ada disana. Biarkan anggrek bermekaran, kantong semar berburu serangga-serangga sial, dan pinus tetap memberikan wewangiannya. Salam lestari.

6 thoughts on “Warna Gunungku yang Abu-abu dan Pudar Satu persatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s