Proklamasi untuk Kita dan Gunung Mempertemukan Kami

Pendaki gunung sahabat alam sejati

Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan

Memproklamirkan dirimu pecinta alam

Sementara maknanya belum kau miliki

Sebuah petikan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Rita Rubi Hartland dengan judul Alam dan Pecintanya. Lagu yang muncul pada tahun 80an ini bisa dikatakan sebagai tamparan telak bagi mereka yang mengaku pecinta alam yang aktivitasnya naik gunung. Mungkin lagu yang menyitir banyak telinga pecinta alam inilah yang membuat kini nyaris tak ada yang mau mendengarkan, apalagi meresapi maknanya. Dibalik kontroversi lagu tersebut, naif sekali jika hanya melihat pecinta alam dari sisi buruknya. Mari ikuti mereka saat detik-detik proklamasi di itu datang.

13445654532011791497

Ini cara kami untuk Indonesia (dok.pri)

Sebuah ritual wajip bagi penggiat alam bebas yakni mendaki gunung saat 17 agustus. Tidak ada pengumuman, permintaan, atau ajakan, yang pasti setiap 16 agustus pasti base camp setiap gunung sudah dipenuhi para pendaki gunung. Mereka biasanya menyebutnya kegiatan ini dengan Pendakian Proklamasi. Para penggiat alam bebas ini punya cara sendiri bagaimana memperingati kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahunnya.

Lupakan protokoler upacara, gagahnya paskibra, hingga seragam wajib, disini semua bebas mengekpresikan diri bagaimana mengapresiasi kado terindah bagi Indonesia. Aneka gaya, kostum dari yang sederhana mereka kenakan hanya untuk momen pendakian proklamasi ini. Dari mereka yang memakai seragam layaknya tentara jaman dahulu, seragam SD dan Pramuka, pakaian tradisional hingga yang paling menggelikan adalah seragam Korpri dengan corak pohon beringin yang kini sudah lenyap entah kemana. Itulah gaya mereka, yang pasti panji kenegaraan berupa Sang Dwi Warna adalah atribut wajibnya. Itulah gaya mereka, itulah ekspresi mereka, untuk bangsa ini.

1344565500546833883

Di balik kabut Ranu Kumbolo, Merah Putih yang semalam membeku tetap berkibar (dok.pri)

Suhu dingian mendekati nol derajat, diatas ketinggian 2400mdp, disebuah danau mungil ditengah gunung, itulah Ranu Kumbolo. Danau di lereng Gunung Semeru 3676mdpl, Jawa Timur adalah tempat impian pendaki gunung untuk merayakan hari kemerdekaan. Suhu dingin, kabut tipis, dan udara beku, dan semburat cahaya matahari dari sisi timur menghangatkan sang Dwi Warna yang membeku semalaman. Dipinggir danau berdiri dua tenda, dan bendera merah putih berdiri kokoh disebuah tongkat yang tertancap.

Saat itu adalah 17an tahun 2004, dengan kamera analog mencoba mengabadikan momen proklamasi di Gunung Semeru. Para pendaki berdatangan dari seluruh penjuru tanah air, dan saat itu seolah Sumpah Pemuda terulang kembali di Ranu Kumbolo. Tak ada perbedaan diantara kira, semua merasakan dingin, lelah, dan rasa yang sama dan itulah cari mereka untuk negeri tercinta ini.

13445655911034355442

Nyawa jadi taruhan dari setiap bahaya yang mengancam, jalan terus demi Proklamasi di puncak Merapi (dok.pri)

Terseok-seok diantara bebatuan sisa-sisa erupsi Gunung Merapi yang kini berketinggina 2965mdpl. Batu-batu besar yang masih labil siap menggilas daging-daging mungil yang sedang merayap di dinding sisa puncak garuda. Resiko yang muncul setiap saat seolah sahabat yang baik yang selalu mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati. Pertanyaan sekarang, buat apa bendera merah putih itu susah-susah dibawa menuju puncak gunung paling aktif sedunia tersebut.

Berjalan melewati sela-sela bebatuan, dan mengikuti aliran air yang sudah keras menjadi jalur pendakian menuju puncak Merapi. 17an ini terasa berbeda, karena proklamasi di puncak yang baru. Merapi yang selalu dinamis bentuk puncaknya menjadi tujuan para pendaki dan momen 17an menjadi ajang untuk mencoba tantangan baru ini. Deru nafas memburu saat jemari tangan mencari pegangan batuan yang labil dan kaki mencengkeram pasir-pasir yang kadang membuat terperosok beberapa meter kebawah.

Inilah tantangan 17an saat menjelajahi puncak Merapi. Perjuangan lebih dari 5 jam untuk bercengkrama dengan lereng puncak, berakhir tepat dibibir kawah. Paskibra yang membewa bendera dari kaki gunung kini sukses sampai puncak tertinggi digunung vulkanis, mungkin rasanya jauh lebih menguras emosi dari para paskibraka di Istana Negara. Nyawa menjadi taruhan, ganasnya alam menjadi ucapan selamat datang dan saat Merah Putih tertancap di puncak tertinggi, inilah yang mereka maknai.

13445656891420412763

Para pendaki asing ikut merayakan kemerdekaan Indonesia di Puncak Rinjani (dok.pri)

Tak kalah menarik dengan di timur Indonesia, yakni di Nusa Tenggara Barat. Rinjani 3726mdpl sebagai titik tertinggi di sana menjadi surganya para pendaki Gunung Indonesia, bahkan pendaki asing tak akan melewatkannya. Selain pesona puncaknya yang menjulang tinggi, kawah yang lebar, gunung baru jari dan Segara Anak, momen 17an adalah puncak acaranya. Biasanya momem proklamasi kemerdekaan RI di Gunung Rinjani ada sebuah acara yang menarik, yakni Tapak Rinjani. Pendaki Lokal dan asing, selangkah demi selangkah menjelajahi sabana yang luas dan berbukit-bukit, terseok-seok dijalur berpasir hanya untuk sebuah puncak gunung berapi tertinggi nomer 2 di Indonesia.

Tapak Rinjani adalah acara pendakian masal ke puncak Rinjani lewat jalur Sembalun, dan kemudian dilanjutkan mengunjungi tempat-tempat menarik di Nusa Tenggara Barat. Peserta Tapak Rinjani, kembali Sumpah Pemuda, yakni Jong-jong dari pelosok negeri ini berdatangan. Memang terasa lain saat 17an di puncak gunung dibanding di lapangan sepak bola atau stadion yang penuh protokoler. 17an yang saya ikuti tahun 2003 di Rinjani memang luar biasa, dan emosi ini akhirnya meledak.

Saat lagu Indonesia Raya, Bagimu Negeri dan Syukur di nyanyikan. Air mata mengalir perlahan dari pipi, semua rasa seolah tumpah bak air bah yang tak terbendung. Pendakian selama 3 hari dengan berjalan kaki, berakhir di puncak kemerdekaan disambut sang saka merah putih adalah sebuah kenangan tak terlupakan. Ini cara kami mencintai Indonesia, dengan sudut pandang kami, dan tangan kami menggapai dan kaki kami melangkah menuju puncak proklamasi.

1344565769662808

Dari mana asalmu, semua untuk satu, yaitu puncak dan gunung mempertemukan kita (dok.pri)

Perbedaan latar belakang dari setiap pendaki gunung tak menjadi masalah, apalagi dari kelompok mana. Saat panji-panji mereka dengan bangga dikibarkan dipuncak tertinggi sebagai barang bukti untuk memproklamirkan kejayaan kelompoknya, merah puti tetap teratas. Simbol-simbol kelompok hanyalah buat mereka yang sepaham dan tergabung dalam organisasinya, namun merah putih mempersatukan meraka.

Inilah uniknya para pendaki, yang semua dipersatukan oleh puncak. Entah mereka barasal dari mana, naik dari jalur mana, tingkat kesulitan berbeda namun tujuan mereka sama “puncak”. Persaudaraan mereka, jangan ragukan lagi. Mungkin saat dibawah mereka belum saling kenal, tetapi begitu melewati jalur setapak rasa persaudaraan itu mulai tumbuh dan bermekaran dan akhirnya berbuah tali silaturahmi yang kuat. Saat dipuncak mereka mengikrarkan diri sebagai suadara walau hanya sebatas bertukar nomor ponsel, namun saat turun gunung resmi sudah persaudaraan itu abadi untuk ketemu di gunung-gunung berikutnya. Gunung telag mempertemukan kita.

17an di gunung, itulah upacara wajib bagi para pendaki gunung. Mungkin mereka tak mampu mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia, tetapi rasa mereka jauh lebih tinggi dari puncak Everest yang menjulang 8848mdpl. Bukanlah puncak yang mereka inginkan, tetapi kejayaan negeri ini untuk terus berjaya dan sang merah putih terus akan berkibar.

1344565858448678901

Mendaki Gunung, cara kami membuat bangsa ini berjaya (dok.pri)

Memang benar sebuah pepatah yang mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Para pendaki gunung punya cara sendiri untuk memaknainya. Suatu bangsa akan berjaya, bila para pemudanya sudak mendaki tingginya puncak gunung, mengarungi luasnya samudra, menyelami dalamnya lautan, menjelajahi luasnya hutan dan menelusuri gelapnya goa-goa. Mereka membuktikan untuk menjadi bangsa yang besar dan berjaya untuk mengibarkan Sang Merah Putih di puncak kejayaan. Dirgahayu Indonesiaku.

Advertisements

11 thoughts on “Proklamasi untuk Kita dan Gunung Mempertemukan Kami

  1. alenia24cappuccino said: merinding baca nya .17-an kali ini ke puncak mana mas?? hehe…btw yg laen padaa kukutan pindahan..mas dhanamg mlh menggila posting xoxoxo 😀

    mba Sis.. rencana ke merbabu aja deh… ng camp sambil upacara pake baju daerah… lagi di konsep hehehehheyah sapa tau gak jadi pindahan dan CEOnya… batalin kukutan ehehhehe 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s