[Xenophobia] Takdir Tuhan dan Manusia yang Memutuskan

Xenophobia bisa didefinisikan sebagai rasaan takut karena bertemu orang asing. Saya yakin semua manusia mengalami ketakutan ini. Diawali dari kesendirian saat melayang dalam air ketuban saat masih dalam kandungan, dan saat lahir lalu terbukalah mata untuk melihat tabir dunia. Tak ada bahasa yang bisa di ucapkan, hanya tangis yang keluar, dan yang pasti rasa itu sudah ada.
Mungkin secara logika ketakutan itu, belum bisa dirasakan oleh bayi, tetapi rasa pasti ada. Berbicara dengan Xenophobia, selalu identik dengan orang asing yang dibumbui dengan sebuah tempat baru yang juga asing dengan kita, lengkap dengan rasa kesendirian serta kesepian. Banyak yang melihat bahwa ketakutan bertemu dengan orang asing, saat kita berada di luar negeri, atau tempat yang asing sama sekali, sehingga ketakutan itu muncul tanpa alasan.
Xenophobia adalah kesalahan persepsi dan orientasi terhadap orang asing. kesalahan ini memang mutlak untuk memberikan kewaspadaan, namun kadang juga menjadi bumerang jika salah menempatkannya dan jadilah xenophobia. Ketakutan inilah yang membawa orang menjadi tersiksa, sehingga seolah seperti orang asing, padahal kenyataannya tidak demikian.
xenophobia ada seiring dengan proses evolusi manusia. Mengapa terjadi gesekan sosial, saling memperebutkan dan mempertahankan diri demi ego, gara-gara xenophobia penyebabnya. Memang tidak bisa dihindari xenophobi selalu menghantui setiap manusia, karena memang suatu anugerah untuk terus berhati-hati dan waspada selalu, tetapi jika berlebihan dan tidak mampu keluar jadilah sebuah tekanan jiwa.
Xenophobia wajar saja, disaat orang baru pertama kali menjumpai orang yang sama sekali asing. Teringat saat awal kerja di perusahaan asing dan sangat asing sekali, baik dari segi budaya, bahasa, kebiasaan dan semuanya sama sekali asing. Orang Jawa tulen tiba-tiba harus dihadapkan dengan budaya Jepang, dan berdiri sebagai kaum minoritas. Tak terbayangkan betapa menjadi orang asing dan sangat terasing, maka timbulah ketakutan dengan beragam alasan.
Kisah diatas mungkin sederhana tak ada resiko sama sekali, karena sebatas hubungan sosial. Bagimana jika kita berada ditempat asing, ketemu orang asing, dan sama-sama memiliki xenophobia?. Aneh sekali bukan, orang takut ketemu orang takut, apa jadinya…? apakah akan saling menjauh gara-gara sama-sama takut atau bagaimana?.
Agustus 2002, saat pertama kali melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Entah mengapa saat itu dalam kesendirian tiba-tiba terasing ditempat yang asing, usut punya usut ternyata kesasar. Bayangkan saja, ditengah hutan yang lebat, terpisah dari rombongan dan berjalan sendiri entah dimana. Dalam ketakutan tersebut, tiba-tiba melihat orang yang mirip dengan saya, sama-sama ketakutan gara-gara nyasar juga.
Bayangkan saja, ada 2 orang yang sama-sama takut karena kesasar ditempat yang asing dan saya kira sama-sama xenophobia. Seolah seperti lahir kembali, karena mau tidak mau harus tegur sapa sebagai hakekatnya manusia yang homo homini socius. Ketakutan yang semula itu sirna, kini muncul lagi gara-gara tidak bisa saling berkomunikasi dengan bahasa asing, lengkap sudah ketakutan tersebut. alhasil semua keluar dari ketakutan masing-masing saat bahasa tubuh itu berbicara dan sama-sama kembali kejalan yang benar dan ketemu dengan orang-orang yang tak asing lagi. Kejadian tersebut juga terulang saat sendiri mendaki di gunung Rinjani, selama 5 hari penuh dengan kesendirian, keterasingan dan yang pasti xenophobia itu selalu menanti.
Sangat sederhana, mengatasi xenophobia, karena takdir sebagai manusia harus takut. Antixenophobia, kembali kepada masalah persepsi dan orientasi harus diarahkan kepada jalur yang benar. Yang pasti bisa menempatkan diri ini, mengapa dan bagaimana menghadapi orang asing, karena jika menyadari xenophobia ada pada setiap manusia. Aneh sekali bukan manusia takut dengan manusia, karena konsep homo homini lupus sudah tertindih oleh homo homini socius. Orang asing juga memiliki xenophobia, jadi kenapa harus takut?. Memang rasa percaya diri, keluar dari tekanan dan mencoba improvisasi bisa mengatasasi xenophobia. Lucu sekali bukan jika manusia itu takut sesamanya yang sebelumnya belum dikenal?.
Tulisan ini untuk lomba ini.
Daftar peserta ada disini
foto dok.pribadi

51 thoughts on “[Xenophobia] Takdir Tuhan dan Manusia yang Memutuskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s