Guru Berjodoh dengan Muridnya

“Tidak ada anak atau murid yang bodoh, hanya saja dia tidak mendapatkan guru yang tepat”, sebuah pernyataan dari Prof. Yohanes Surya yang benar adanya. Dia membuktikan dengan menggandeng anak-anak dari Papua dan disekolahkan dengan guru yang tepat, hasilnya luar biasa. Potret pendidikan kita yang kadang selalu menyorot siswa sebagai obyek utama tingkat keberhasilan sebuah pendidikan, tetapi acapkali mereka yang dibalik layar masih saja mendapat julukan “pahlawan tanpa tanda jasa”, layakah mereka mendapat tanda jasa?.
Laskar Pelangi, sebuah film yang benar-benar menginspirasi, bagaimana berangkat dari sebuah kesederhanaan tetapi menghasilkan anak-anak yang hebat. Dedikasi dan totalitas Ibu Muslimah sebagai seorang guru yang tepat, sehingga “tidak ada murid yang bodoh, karena mendapat guru yang tepat” terbukti. Menjadi guru adalah sebuah talenta, bisa dibilang demikian. Pasti disebuah sekolah atau universitas, ada yang namanya guru atau dosen favorit. Pengajar yang begitu disukai murid-muridnya karena model pengajarannya, karisma dan dedikasi yang total terhadap pendidikan. Seberapa banyak dan besar guru favorit?, yang digadang-gadang murid-muridnya sebagai sumber inspirasi, sehingga saat dia datang mengajar begitu menyenangkan.
Dalam beberapa pelajaran tertentu, saya mengalami trauma mendalam hingga saat ini sepertinya enggan menjamah salah satu pelajaran tersebut. Seni musik dan suara, pelajaran yang kadang disepelekan tetapi membuat saya trauma hingga saat ini. Guru seni musik dan suara saat SMP galaknya minta ampun, kepala ini pernah benjol gara-gara di getok dengan seruling gara-gara fals. Pipi ini pernah merah bertanda telapak tangan, karena kena tampar. Sejak kejadian itu, lebih baik dapat nilai merah daripada harus celaka ditangan guru. Akibatnya sekarang, saya tak memahami not angka maupun balok, begitu juga dengan main musik, saat ini hanya menjadi penikmat saja. Saya kira, pengalaman ini juga dialami banyak orang, gara-gara akar kepahitan terhadap guru saat dibangku sekolah.
Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, kira-kira apa yang diberikan dan diajarkan guru akan menjadi apa yang dilakukan kelak oleh muridnya. Saat ini, saya yang acapkali disuruh mengajar ke teman-teman mahasiswa, gaya saya mengajar mirip dengan salah satu dosen. Kebetulan saya sangat dekat dengan dosen tersebut, sehingga karakter, pembawaan dia saya bawa saat mengajar. Bukannya tidak mau menjadi diri sendiri, tetapi ada sesuatu seni mengajar yang dia berikan dalam memberikan pemahaman kepada mahasiswanya. Trik-trik dan cara beliau mengajar, benar-benar saya perhatikan bagaimana menyampaikan materi dengan cara yang sederhana, penuh humor yang cerdas, baru masuk konsep sebenarnya yang lebih detail.
Tidak salah bukan seorang pemain sepak bola meniru gaya idolanya, baik dalam bersikap dilapangan hijau dan diluar?. Begitu juga seorang murid akan meniru guru idolanya, yang acapkali terbawa menjadi karakter dia. Saya memiliki seorang guru yang benar-benar menarik dalam membawakan materinya, sampai-sampai semua siswa mampu menirukan gaya beliau mengajar, baik kata-kata hingga gerakan tanggannya. Banyak inspirasi dan ilmu yang didapat saat dia ngajar, waktu 2 jam pelajaran serasa singkat, karena sangat menarik.

Menemukan guru yang tepat bukanlah perkara yang sulit dan juga mudah. Keberuntuhan atau berjodoh bisa dikatakan seperti itu. Mungkin sekolah-sekolah favorit dan terkenal dengan guru-guru hebat dan pintar, belum tentu menjadi pengajar yang tepat yang diidolakan murid-muridnya. Dari sebuah sekolah yang reoat, hampir rubuh malah ada seorang guru yang tepat dan mampu mengangkat murid-muridnya dari lembah kebodohan dengan tarikan tali yang menarik dan menyenangkan.
Pertanyaan sekarang, bagaimana menjadi guru yang tepat jika bercita-cita menjadi pengajar?. Kembali lagi dengan talenta, karena mengajar itu butuh segalanya dan tidak hanya bisa transfer ilmu pengetahuan. “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, belajar dari guru yang tepat dan berusaha lebih baik dari dia, jawaban sederhannya seperti itu. Ibarat pemain sepak bola hebat, tidak mungkin dia belajar sendiri, tapi pasti mengidolakan seseorang dan berusaha menyamai dan lebih dari dia.

Tantangan berat bagi seorang pengajar, bagaimana menjadi idola dan inspirasi murid sekaligus mampu transfer ilmu pengetahuan. Murid mau belajar jika guru dan pelajaran itu menarik, masalahnya cuma itu, nah bagaimana memberikan daya tarik terhadap pelajaran dan diri sendiri itu masalah bagi guru. Menjadi guru yang tepat bagi murid-muridnya, memang tak mudah dan sebuah usaha dan dedikasi total niscaya memperindah bingkai “pahlawan tanpa tanda jasa”.

22 thoughts on “Guru Berjodoh dengan Muridnya

  1. nilagerimisenja said: sampai saat ini saya bangga menjadi seorang guru karena memang itu cita-cita saya. sebisa mungkin selalu meluruskan niat dan memperbarui semangat…

    tetep semangaaaaaaaaaaaaaaatmencerdaskan anak bangsa…..

  2. siasetia said: artinya minat….dan tidak perlu memaksa biarkan mereka sekedar tahu :p

    Wah, saya jadi “tersinggung” juga. Saya mengajar kurang lebih 40 tahun. Sekarang sudah pensiun selama 7 tahun. Rasanya apa yang ditulis memang benar juga. Cuma sulit kita tahu mana gaya, cara, metode yang paling tepat. Saya dulu hanyalah berbuat sebaik mungkin, yang menurut saya baik, yang dari pengalaman waktu jadi murid rasanya paling tepat. Yang penting jujur, konskwen, konsisten dan memiliki empathy, rasa sayang kepada murid. Pasti dengan begitu kita sukses. Dulu saya juga cukup kejam. Dengan nilai saya tak pernah main-main, kalau jelek ya jelek, kalau bagus ya diberi bagus. Kalau perlu dihukum, ya dihukum sesuai kesepakatan dan peraturan yang berlaku. Ketika ada reuni 20 tahun atau lebih kemudian, semula saya agak takut, jangan-jangan saya dibenci oleh murid yang dikerasi dulu. Eee… ternyata tidak! Mereka berterima kasih dan katanya: Saya jadi orang karena bapa…….! Begitulah!

  3. siasetia said: artinya minat….dan tidak perlu memaksa biarkan mereka sekedar tahu :p

    kata bapak, “guru sekarang bukan pendidik, tapi pengajar…mengajarkan, tanpa mendidik seperti guru jaman duluu… sing penting materinya tersampaikan dalam waktu yang telah ditentukan. kalau mendidik sampai anaknya bener-bener mudeng..” (mengutip kata bapak lho.. jadi kalau ada protes silakan hubungi bapak.. hehe)walaupun dulu pake acara dibalang kapur, dibalang penghapus, disuruh keluar kelas, dapat nilai endog, disuruh nulis satu papan tulis penuh, nggarap PR uraian 100 soal tulis tangan ga boleh ditip-ex dan harus rapi, presentasi dadakan… tapi malah materinya nyanthol lebih lama. dan aku bisa menulis di sini itu ya berkat guru-guruku.. terimakasih bu & pak guru… *eh. pak guru.. eh!

  4. hardi45 said: Wah, saya jadi “tersinggung” juga. Saya mengajar kurang lebih 40 tahun. Sekarang sudah pensiun selama 7 tahun. Rasanya apa yang ditulis memang benar juga. Cuma sulit kita tahu mana gaya, cara, metode yang paling tepat. Saya dulu hanyalah berbuat sebaik mungkin, yang menurut saya baik, yang dari pengalaman waktu jadi murid rasanya paling tepat. Yang penting jujur, konskwen, konsisten dan memiliki empathy, rasa sayang kepada murid. Pasti dengan begitu kita sukses. Dulu saya juga cukup kejam. Dengan nilai saya tak pernah main-main, kalau jelek ya jelek, kalau bagus ya diberi bagus. Kalau perlu dihukum, ya dihukum sesuai kesepakatan dan peraturan yang berlaku. Ketika ada reuni 20 tahun atau lebih kemudian, semula saya agak takut, jangan-jangan saya dibenci oleh murid yang dikerasi dulu. Eee… ternyata tidak! Mereka berterima kasih dan katanya: Saya jadi orang karena bapa…….! Begitulah!

    wah selamat buat Om Hardi….buah akan terasa manis..

  5. poniyemsaja said: kata bapak, “guru sekarang bukan pendidik, tapi pengajar…mengajarkan, tanpa mendidik seperti guru jaman duluu… sing penting materinya tersampaikan dalam waktu yang telah ditentukan. kalau mendidik sampai anaknya bener-bener mudeng..” (mengutip kata bapak lho.. jadi kalau ada protes silakan hubungi bapak.. hehe)walaupun dulu pake acara dibalang kapur, dibalang penghapus, disuruh keluar kelas, dapat nilai endog, disuruh nulis satu papan tulis penuh, nggarap PR uraian 100 soal tulis tangan ga boleh ditip-ex dan harus rapi, presentasi dadakan… tapi malah materinya nyanthol lebih lama. dan aku bisa menulis di sini itu ya berkat guru-guruku.. terimakasih bu & pak guru… *eh. pak guru.. eh!

    weh gak protes dah……manut..berkat pak bu guru saya juga bisa ngetik disini hehehe

  6. poniyemsaja said: kata bapak, “guru sekarang bukan pendidik, tapi pengajar…mengajarkan, tanpa mendidik seperti guru jaman duluu… sing penting materinya tersampaikan dalam waktu yang telah ditentukan. kalau mendidik sampai anaknya bener-bener mudeng..” (mengutip kata bapak lho.. jadi kalau ada protes silakan hubungi bapak.. hehe)walaupun dulu pake acara dibalang kapur, dibalang penghapus, disuruh keluar kelas, dapat nilai endog, disuruh nulis satu papan tulis penuh, nggarap PR uraian 100 soal tulis tangan ga boleh ditip-ex dan harus rapi, presentasi dadakan… tapi malah materinya nyanthol lebih lama. dan aku bisa menulis di sini itu ya berkat guru-guruku.. terimakasih bu & pak guru… *eh. pak guru.. eh!

    Kangen sama guru favoritku 🙂

  7. poniyemsaja said: kata bapak, “guru sekarang bukan pendidik, tapi pengajar…mengajarkan, tanpa mendidik seperti guru jaman duluu…

    Setuju sama bapaknya Mbak Poni, ini memang aku rasakan sekarang. Apalagi mengajarnya juga tanpa hati, seolah-olah hanya menjalankan rutinitas. Materi yang diajarkan sudah habis . . ya sudah, selesai. Akibatnya para murid juga hanya sekedar mengejar nilai lulus. Setelah lulus ya sudah juga, kalau ditanya banyak yang tidak tahu apa-apa 😦

  8. poniyemsaja said: kata bapak, “guru sekarang bukan pendidik, tapi pengajar…mengajarkan, tanpa mendidik seperti guru jaman duluu…

    Guru sekarang cuma bisa mengajar, sekadar menyampaikan materi pelajaran tetapi gak memberikan pendidikan, gak memberikan inspirasi

  9. chris13jkt said: Setuju sama bapaknya Mbak Poni, ini memang aku rasakan sekarang. Apalagi mengajarnya juga tanpa hati, seolah-olah hanya menjalankan rutinitas. Materi yang diajarkan sudah habis . . ya sudah, selesai. Akibatnya para murid juga hanya sekedar mengejar nilai lulus. Setelah lulus ya sudah juga, kalau ditanya banyak yang tidak tahu apa-apa 😦

    sepakat Om Cris….

  10. fmpx said: Guru sekarang cuma bisa mengajar, sekadar menyampaikan materi pelajaran tetapi gak memberikan pendidikan, gak memberikan inspirasi

    banyak sekali bahkan…… :Dguru kalo profesi ya getu tanpa dedikasi dan totalitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s