Masa Kecilku, Awal Cita-citaku…

“cicak-cicak di dinding, diam diam merayap, datang seekor nyamuk, hap lalu ditangkap” petikan lagu anak-anak yang tidak semuan anak jaman sekarang tahu. Malam ini (15/5/2012) saya dibawah kembali pada masa TK saya sekitar tahun 1988 saat usia 5 tahun. Sebuah acara “the Young Talent Show, masa kecilku awal cita-citaku”, yang di gelar oleh FSP, UKSW, Salatiga, membawa saya seolah menjadi anak taman kanak-kanak. Acara dengan konsep konser musik dengan membawakan semua lagu anak-anak, seolah masa kecil saya kembali dimunculkan dengan cara yang berbeda.
Disadari atau tidak, saat ini lagu anak-anak bak raib ditelan jaman. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, dan disana ada kontes penyanyi cilik. Seolah tak percaya, anak ingusan yang rerata masih duduk di bangku Sekolah Dasar sudah membawakan lagu orang dewasa, disertai penghayatan seperti penyanyi aslinya. Belum lagi dengan busana yang dipakai, bak miniatur orang dewasa yang nyaris menutupi wajah anak-anak seusianya.
Dalam hati, timbul pertanyaan melihat kontes penyanyi cilik, dimana Bondan Prokoso, Enno

Lerian, Tasya, Chikita Meidy, Puput Melati, Trio Kwek-kwek masa kini?. Saat ini yang ada hanya tinggal kenangan dan sudah digantikan oleh lagu cinta-cintaan milik orang dewasa. Trenyuh lagi saat dipagi hari menyaksikan acara musik di layar televisi, boy band dan girl band ala anak-anak bermunculan, dan lagunya cinta-cintaan, pacaran, cemburu, perselingkuhan nyaris tak ada yang ceria seperti Tasya membawakan lagu “Libur Tlah Tiba”.
Sebuah kerinduan, lagu “Padang Mbulan” dinyanyikan saat bulan purnama sambil bermain dihalaman rumah. Sebuah penantian permainan “Cublak-cublak suweng” dilantunkan sambil bermain. Masih banyak lagi lagu-lagu anak yang sudah tak terdengar saat ini, mungkin hanya di sekolahan saja didengar, dan ditaman-taman bermain sudah tak ada, berbeda jauh waktu jaman kecil saya. Saat ini, anak-anak terutama yang kota sudah sibuk dengan teknologi canggih berupa gadget pintar. Mereka sibuk dengan jeraring sosial mereka melalui dunia maya dan cara-cara virtual.
Sebenarnya bukan belum waktunya mereka dihadapkan dengan teknologi yang acapkali belum tahu fungsi dan manfaatnya. Mereka hanyalah dihadapkan dengan gengsi orang tua, hingga terjebak dalam kesenangan saat sendiri ditengah kesepian. Belum saatnya mereka dijebloskan dalam teknologi yang melenakan dan meninabobokan mereka dalam jalan pintas menuju proses pertumbuhannya. Mereka yang sudah dimanjakan dengan segala kemudahan, kemewahan tak ubahnya dengan binatang liar yang dijinakan, dikandangkan, dilatih dan diberi jatah makan. Pada saat dilepas liarkan, mau jadi apa mereka..? itu pertanyaan yang harus dijawab sebelum mereka harus menuju kemandirian.
Belajar gadget, atau teknologi seperti itu bukanlah perkara yang susah. Asal tahu tombol on dan off, selesai perkara dan masalah menu dan fungsi bisa belajar sambil berjalan. Bagaimana dengan pelajaran tentang simpati, empati, kepekaan sosial, kerjasama, kesetiakawanan dan spiritualitas? yang pasti tak ada tombol on dan off, apalagi menu, tetapi lewat sebuah tahap dan proses yang panjang. Ilmu-ilmu sosial bukanlah gadget canggih atau piranti pintar yang secara otomatis bisa dilakukan siapa saja, tetapi butuh proses pembelajaran dan latihan.
Masa kecilku, awal cita-ctaku, sebuh sub tema yang diambil pada acara malam ini menjad gegambaran masa kecil kita. Nah didepan kita ada generasi muda, yang masih anak-anak dan terjebak dalam hedonisme modernisasi, apa cita-cita mereka jika masa kecilnya seperti ini?. Mainan tablet, yakinkah mereka jadi ahli IT atau hanya sebatas mengumbar kesenangan mereka dan gengsi orang tua. Membiarkan anak-anak larut dalam dunia maya, apakah yakin mereka menjadi orang-orang yang handal dalam relasi publik?, saat ini mereka terjebak dunia maya, padahal realitanya seharusnya didunia nyata. Mau jadi apa anak-anak yang masih belia dipaksa menyanyikan lagu orang dewasa, jangan-jangan jadi dewasa sebelum waktunya, alangkah celakanya mereka.

Waktu dan masa anak-anak memang tidak bisa putar dengan mesin waktu. Sebelum terlambat, kembalikan mereka dalam dunia anak kecil yang penuh dengan impian, cita-cita dan kegembiraan. Mereka belum waktunya menelan lagu-lagu orang dewasa yang tak jelas makna dan arti buat mereka. Atur dan tetap awasi saat mereka sibuk dangan teknologi yang memanjakan dan menjebak dalam dunia yang serba virtual, sehingga teknologi yang seharusnya mencerdaskan bukannya menjadi piranti pembodohan dan sumber kemalasan. Apakah akan membiarkan mereka sadar setelah mereka dewasa lalu menjadi anak-anak dengan cara kekanak-kanakan?
Mari naik-naik kepuncak gunung atau, menanam jagung di kebun kita bersama heli guk guk guk yang berlari-lari, mengejar cicak yang merayap di dinding. Setelah lelah, lantunkan nina bobo agar tidur dengan nyenyak lalu bangun tidur ke terus mandi sambil menyapa oh ibu dan ayah selamat pagi untuk kembali sekolah. Tak terasa tik-tik bunyi hujan diatas genting dan setelah reda munculah pelangi-pelangi alangkah indahnya, dan menjelang matatahari terbenam hari menjelan malam, terdengan burung hantu suaranya merdu saat padang mbulan sambil bermain cublak-cublak suweng. Sebuah harapan esok saat libur tlah tiba bisa naik kereta api tut tut atau naik delman. Selamat malam, masa kecil adalah awal cita-citaku.

8 thoughts on “Masa Kecilku, Awal Cita-citaku…

  1. Yup . . . jaman sudah berubah, anak-anak juga berubah, sehingga sering kali aku juga kangen dengan suasana jaman dulu, permainan yang mengasah ketrampilan dan fisik secara tidak langsung (gatrik, kelereng, tak umpet, dan lain-lain) diiringi lagu yang ceria dan mengandung pelajaran (oh ibu dan ayah, pergi ke kota, burung kutilang, dan lain-lain)

  2. chris13jkt said: Yup . . . jaman sudah berubah, anak-anak juga berubah, sehingga sering kali aku juga kangen dengan suasana jaman dulu, permainan yang mengasah ketrampilan dan fisik secara tidak langsung (gatrik, kelereng, tak umpet, dan lain-lain) diiringi lagu yang ceria dan mengandung pelajaran (oh ibu dan ayah, pergi ke kota, burung kutilang, dan lain-lain)

    Bersyukur Om… masa-masa itu saya masih bisa menikmati…

  3. chris13jkt said: Yup . . . jaman sudah berubah, anak-anak juga berubah, sehingga sering kali aku juga kangen dengan suasana jaman dulu, permainan yang mengasah ketrampilan dan fisik secara tidak langsung (gatrik, kelereng, tak umpet, dan lain-lain) diiringi lagu yang ceria dan mengandung pelajaran (oh ibu dan ayah, pergi ke kota, burung kutilang, dan lain-lain)

    Setuju banget, kadang terbengong2 melihat tayangan televisi yg mengekspos anak2 sedemikian rupa, menyanyikan lagu2 orng dewasa. Bukan anak2 yg salah tp penyelenggara, pihak broadcast, orngtua, dan pihak2 terkait yg justru mereka adlh orng2 yg sdh dewasa seperti kita. Jadi ternyata arah pendidikan dr para generasi tualah yg membuat anak2 kita berlagak seperti orng dewasa, dan mengarahkan mereka seperti itu. Berangkat dr itu Saya belajar memperkenalkan lagu2 anak itu kepada putri sy. Dan di umurnya yg blm genap 3 thn dia sdh hafal lagu anak2 di atas td dgn jelas. Senang melihatnya menikmati masa kecil seperti sy dl.

  4. chris13jkt said: Yup . . . jaman sudah berubah, anak-anak juga berubah, sehingga sering kali aku juga kangen dengan suasana jaman dulu, permainan yang mengasah ketrampilan dan fisik secara tidak langsung (gatrik, kelereng, tak umpet, dan lain-lain) diiringi lagu yang ceria dan mengandung pelajaran (oh ibu dan ayah, pergi ke kota, burung kutilang, dan lain-lain)

    Begitulah realita, Bung.🙂

  5. mozank3roet said: Setuju banget, kadang terbengong2 melihat tayangan televisi yg mengekspos anak2 sedemikian rupa, menyanyikan lagu2 orng dewasa. Bukan anak2 yg salah tp penyelenggara, pihak broadcast, orngtua, dan pihak2 terkait yg justru mereka adlh orng2 yg sdh dewasa seperti kita. Jadi ternyata arah pendidikan dr para generasi tualah yg membuat anak2 kita berlagak seperti orng dewasa, dan mengarahkan mereka seperti itu. Berangkat dr itu Saya belajar memperkenalkan lagu2 anak itu kepada putri sy. Dan di umurnya yg blm genap 3 thn dia sdh hafal lagu anak2 di atas td dgn jelas. Senang melihatnya menikmati masa kecil seperti sy dl.

    wow…. paragraf kedua semoga bisa menginspirasi yang lain….emang anak jaman sekarang sudah setir sana setir sini dan uang adalah targetnya. anak diperalat… kasihan

  6. smallnote said: Begitulah realita, Bung.🙂

    Begitulah keadaan nyata masyarakat kita. Yang tua-tua sudah kacau, yang muda-muda sudah tidak keruan, begitu pula anak-anak kita sudah diajari yang tidak benar!

  7. hardi45 said: Begitulah keadaan nyata masyarakat kita. Yang tua-tua sudah kacau, yang muda-muda sudah tidak keruan, begitu pula anak-anak kita sudah diajari yang tidak benar!

    Iya Om…katane pada bener kok malah keblinger ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s