Berkawan dengan Lelembut

Kata orang bijak, kesehatan adalah segala-galanya, dan tak ada artinya jika segala-galanya tanpa kesehatan. Banyak cara dilakukan agar mendapat kesehatan, baik dari pola makan, olah raga, pola pikir hingga gaya hidup. Banyak faktor bisa mempengaruhi kesehatan, dan salah satunya adalah faktor makanan. Apa yang kita makan adalah profil dari kesehatan kita. Jika kita makan makanan yang baik dan sehat tentu saja hasilnya akan baik pula, bagaimana jika makanan yang kita makan itu kualitas dan kuantitasnya itu kurang baik, tentu saja bisa mengalami apa yang disebut sebagai gizi buruk.
Berbicara mengenai makanan yang sehat adalah ranah yang luas untuk dibicarakan, sebab masing-masing memiliki keunggulannya tersendiri. Tapi bagaimana mengubah makanan yang kelihatannya biasa saja menjadi makanan yang sehat melalui agen-agen biologis. Mungkin bagi kita yang awam tentang kehidupan jasad renik, seperti bakteri dan virus menganggap mahluk tak kasat mata tersebut adalah patogen atau berbahaya. Kalau bisa menghindar sejauh-jauhnya dari yang namanya mikroba, basil, bakteri jamur, khamir dan mikroorganisme yang lain.
Disadari atau tidak, tanpa peranan mahluk-mahluk kecil tersebut kita akan hidup dalam bumi yang dipenuhi sampah. Mereka yang kecil dan tak terlihat mata, bahkan kita benci adalah yang berjasa dalam mengurai material organik sisa atau yang biasa kita sebut dengan sampah. Bayangkan saja anda makan nasi terus saat buang air besar belum menjadi tinja tetapi masih utuh dalam bentuk nasi? tentu akan sangat bermasalah. Tidak semua mikroba itu jahat, berbahaya, merugikan, dan harus di jauhi. Mari mencoba mendekatkan diri dengan mahluk-mahluk tak kasat mata alias lelembut.
Peranan mikroorganisme “bakteri” adalah mendekomposisi atau mengurai material organik. Analogiknya adalah mahluk yang bisa memecah materi-materi organik “gula/karbohidrat, protein, dan lemak” menjadi materi yang lebih sederhana. Intinya adalah menguarikan, sehingga menjadi materi yang lebih kecil. Efek positif dari materi-materi yang lebih kecil adalah memudahkan tubuh kita untuk menyerap sari-sari makanan, karena makanan sudah di urai oleh mikroorganisme. Menurut penelitian, makanan yang sudah difermentasi tingkat penyerapan dalam tubuh lebih besar dibanding dengan makanan yang masih utuh, selain itu makanan bisa lebih awet juga.
Tidak asing ditelinga kita tentang bakteri probiotik, yang dikenal sebagai bakteri yang baik dalam usus. Siapakah mereka itu yang mendapat julukan probiotik?, mereka adalah segerombolan bakteri-bakteri asam laktat. Beberapa nama terkenal meraka seperti genus Lactobacillus, Bifido dan Streptococcus. Bakteri ini hidup dalam usus manusia yang berperan dalam usus untuk menghambat bakteri-bakteri patogen seperti Salmonela penyebab thypus, E. Coli penyebab diare dan lain sebagainya. Mekanisme kerja bakteri probiotik adalah mengubah gula susu menjadi asam laktat, nah bakteri-bakteri yang patogen atau berbahaya yang rentan terhadap asam inilah yang akan terhambat pertumbuhan dan aktifitasnya bahkan mati.
Bagaimana cara mendapatkan bakteri probiotik?, dipasaran sudah di jual dalam bentuk hidup atau segar yang dicampur dalam kemasan minuman. Ada juga bakteri probiotik dalam bentuk serbuk “enkapsulasi” yang siap digunakan kapan saja dan dengan jangka waktu penyimpanan yang cukup lama. Bakteri probiotik biasanya hadir dalam berbagai produk makanan dan yang terkenal adalah yogurt. Yogurt atau susu masam adalah susu yang difermentasi dengan bakteri asam laktat. Dimana peranan bakteri probiotik pada yogurt?, mereka berperan dalam mengentalkan yogurt yakni dengan menggumpalkan protein susu dengan asam laktat yang mereka hasilkan.
Jika kita tinggal di daerah yang jauh dari jangkauan minuman berprobiotik dalam kemasan, jangan kawatir karena bakteri ini ada dimana-mana. Pernah mendengar “Dadih” atau susu kerbau yang difermentasi secara alami. Di daerah sumatra, susu kerbau yang usai diperah kemudian dimasukan dalam bumbung “gelas dari potongan bambu” lalu di tutup dengan daun pisang dan dibiarkan beberapa waktu. Setelah lebih dari 6 jam susu akan mengental dan ada 2 lapisan berupa cairan dan padatan. Cairan tersebut adalam air yang berasa masam kerena mengandung asam laktat, sedangkan padatan adalah protein-protein yang menggumpal. Nah dengan mengkonsumsi dadih, tak berbeda dengan mengkonsumsi yogurt guna mendapatkan bakteri baik tersebut. Keunggulan Dadih adalah, bakteri yang benar-benar terpilih secara alami lewat mekanisme seleksi alam, berbeda dengan yogurt yang bakterinya sudah dipersiapkan sebelumnya lewat starter.
Mikroorganisme selanjutnya adalah jamur dan khamir. Pasti semua tahu yang namanya kecap, pueyem, tempe, air legen dan makanan-makanan lain yang melalui proses pemeraman. Jika kita disuruh makan kedelai berjamur, singkong busuk, tau beras ketan basi tentu tidak mau bukan?. Bagaimana jika berjamurnya kedelai, busuknya singkong dan basinya beras ketan itu lewat cara yang benar, tentu akan berubah pikiran. Tempe bisa dikatakan oleh kedelai yang dijamurkan dengan cara yang benar. Dengan penambahan ragi tempe, kedelai dijamurkan untuk diubah menjadi tempe. Mengapa dan ada apa dengan tempe? peranan jamur tempe Rhizopus adalah biangnya yang biasa disebut sebagai ragi. Jamur ini perperan dalam merombak protein dalam kedelai menjadi asam amino, artinya memecah materi protein yang besar/kompleks menjadi protein yang lebih sederhana, sehingga memudahkan penyerapan dalam tubuh. Itulah keuntungan dengan tempe yakni penyerapan protein lebih besar. Pertanyaan sekarang jika penyerapan protein lebih besar gara-gara ulah Rhizopus, bagaimana jika kita tidak lagi mengkonsumsi susu kedelai tetapi beralih ke susu tempe. Susu tempe? sungguh aneh dan menarik bukan?, prosesnya tak beda jauh dengan membuat susu kedelai, cuma bahannya adalah kedelai yang sudah berjamur alias tempe. Pilihan pada anda, mau makanan terserap lebih banyak atau sedikit..?.
Tape singkong, pueyem, tape ketan penganan tradisional yang sudah tak asing di telinga kita. Makanan yang difermentasi oleh jamur Aspergilus dan Khamir Saccharomyces sudah biasa kita temui dan kita konsumsi. Prinsip kerja dari 2 mahluk mikroskopis tersebut adalah mengubah gula/karbohidrat menjadi alkohol dan asam asetat. Dari proses fermentasi selain 2 produk tersebut yang dihasilkan, juga akan menciptakan aroma dan rasa yang khas. Selain itu gula-gula kompleks/polikasakarida akan dirubah menjadi gula yang sederhana/monosakarida. Material gula yang sederhana tersebut membuat tubuh cepat dalam menyerap untuk dirubah menjadi energi atau cadangan makanan, tanpa harus bersusah payah dalam merombaknya.
Perlu kita sadari, tubuh kita ibarat mesin biologis yang terus-menerus bekerja. Energi yang kita keluarkan untuk aktivitas setiap hari tak jauh berbeda dengan energi yang kita keluarkan untuk merombak makanan, menyerap, mengubah menjadi energi atau menyimpannya. Lewat reaksi enzimatis proses perombakan bahan makanan itu terjadi, dan tak henti-hentinya tubuh bekerja keras untuk menghasilkan enzim. Nah untuk mengurangi beban tubuh ini dala
m menghasilkan enzim, kita bisa memanfaatkan mirkoorganisme untuk membantu menghasilkan enzim. Misalkan untuk memecah protein dengan enzim protesase serahlan pada jamur tempe/ Rhizopus, demikian juga memecah gula/pati dengan Amilase serahkan saja pada khamir atau ragi tape.
Dengan makanan yang sudah di fermentasi dengan agen-agen biologi, baik jamur, bakteri, dan khamir sudah bisa membantu kita dalam mengolah makanan. Artinya bentuk makanan sudah mereka sederhakan terlebih dahulu dan baru usu halus kita yang menyerapnya. Selain bertugas merombak makanan, mikroorganisme tersebut ibarat tentara yang bisa kita andalkan untuk menyerang mikroba patogen/berbahaya. Mikroba tersebut juga berperan dalam proses pengawetan bahan pangan lewat proses fermentasi dan juga memberi tambahan rasa dan aroma untuk meninkatkan nilai tambahnya. Tanpa mereka, kita akan hidup dalam lautan sampah, tanpa mereka kita akan diserang habis-habisan oleh mikroba patogen, tanpa mereka kita susah mencerna dan menyerap makanan, tanpa peran mereka kita tidak bisa menikmati makanan dengan aroma dan rasa yang khas. Dengan mereka yang kita perlakukan baik dan benar, niscaya akan bermanfaat bagi tubuh dak kesehatan kita. Mari berkenalan dan bersahabat dengan mahluk-mahluk tak kasat mata atau lelembut yang benar-benar sangat lembut dan dapatkan manfaatnya.
Advertisements

16 thoughts on “Berkawan dengan Lelembut

  1. rirhikyu said: Ciamik infonya, makin ciamik kl ditambah gambar2 para lelembutnya (*kl di kompasiana bakal jd hl deh :p )

    kemarin masuk terekomendasi mBa….segera saya kasih gambarnya deh…..siap laksanakan”lagi nyari nie”

  2. smallnote said: *pusing sendiri**mulai lupa dengan sains* :-))

    Ini artikel yang bagus! Semula saya kira mau cerita tentang bertemun dengan lelembut (roh-roh orang yang sudah mati!). Eeee tahunya ……….mikroorganisma.

  3. hardi45 said: Ini artikel yang bagus! Semula saya kira mau cerita tentang bertemun dengan lelembut (roh-roh orang yang sudah mati!). Eeee tahunya ……….mikroorganisma.

    saya istilahkan demikian Om,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s