Gara-gara BBM Naik, Loe Gue End

Pepatah mengatakan “pembeli adalah raja”, pembeli yang bagaimana yang pantas di jadikan raja?. Apakah raja yang harus dilayani, dihormati atau raja yang terpaksa dicaci maki. Mengingat kata seorang Nabi besar “berlakulah seolah engkau menjadi penjual saat engkau menjadi pembeli, dan begitu sebaliknya”. Asumsi yang demikian akan membuat orang merasakan bagaimana saat seorang raja menjadi pelayan dan pelayan yang menjadi raja, sehingga tahu situasi dan kondisinya masing-masing.

Bagi profesional, yakni dapur mengepul sepenuhnya dari pekerjaanya memang di tuntut dedikasi dan totalitas, apapun konsekuensinya. Ingat BBM batal naik, sebagai pelaku profesional usaha swasta adalah sebuah guncangan, disaat harga-harga naik gara-gara isu BBM naik. Katakanlah sangat sederhana, biasa parkir 500 perak, tadi per 1 april naik menjadi 1000 perak alias 100%. Tadi sore terkejut bukan main, biasa nyetak foto perlembar 1000 perak kini berubah menjadi 1.750 perak, luar biasa naik 75%.

Apalah arti uang 500 perak menjadi 1000 perak untuk parkir, dan harga selembar foto dari 1000 menjadi 1.750 perak. Kenaikan parkir 100% dan cetak foto 75% saya kira kenaikan yang sungguh dasyat, melebihi kecepatan roket. BBM dari 4500 perak menjadi 6000 perak yang jika dikalkulasi hanya naik 33,33% sudah pada teriak dan bikin heboh. Apakah gara-gara melihat nominal angka 1500 lebih besar di banding 500 dan 750..?. Memang jika melihat selisih angka sangat berbeda jauh dan signifikan, tetapi kalau dilihat prosentasi kenaikan tidak seberapa bila dibanding dengan 50 dan 100%.

Pelaku bisnis yang bermain dalam ranah fotografi, sebagai sambilan, hobi dan mainan yang menghasilkan tidak boleh sembrono jika tak mau gigit jari. Dulu dengan modal 200 ribu bisa menghasilkan uang 500 ribu atau lebih, tetapi gara-gara naik 75% biaya produksinya, terpaksa sebelum gigit jari harus gigit bibir gara-gara geram. Lupakan gigit jari, karena itu resiko pelaku bisnis yang haru tetap dijalani. Sekarang mau membahas pembeli adalah raja saja, kalau mikir duit bisa meriang tuju keliling.

Karena dikejar oleh klien, maka hasil jepretan pagi hingga siang harus segera di proses. Rencana ini malam pekerjaan sudah usai dan diserahkan pada klien. Dari siang hingga sore mengerjakan proses editing, dan setelah selesai segera bawa ke lab cetak foto. Sesampai di lokasi segera saya kasih flashdisk untuk segera di copi filenya. Agak terkejut juga masalah harga cetak yang naik 75%, tapi tak apalah demi kepuasan klien sebagai raja. Kepuasan klien adalah segala-galanya dan susah dibandingkan dengan harga.

Akhirnya file suda di salin dan segera saya bayar lunas untuk ongkos cetaknya dan kesepakatan pukul 19.30 bisa di ambil. Akhirnya jam 19.15 sudah di TKP siapa tahu sudah jadi, malah yang ada tragegi. File tidak terbaca di komputer mereka, akhirnya pulang ambil file lagi dan mereka sanggup untuk mencetaknya kembali. File di ambil dan berhasil di copy kembali, dan mereka menyerahkan foto-foto yang sudah tercetak. Tiba-tiba mereka membatalkan kesepakatan karena toko harus tutup. Alasan dan argumen saya ditolak mentah-mentah dan terpaksa menuruti mereka untuk kembali jam 10 esoknya. Eh baru mau keluar dari parkiran, kasih 500 perak di tolak trus minta 1000 perak, katanya per april naik.

Dengan rasa kecewa, geram dan jengkel harus terima pemutusan kesepakatan tersebut. Sampai dirumah akhirnya dengan segala kerendahan hati meminta maaf kepada klien karena tidak bisa menepati janji dan esok sebelum jam 12 sudah jadi. Mengerjakan apa yang ada dulu daripada hati gundah gulana. Foto yang sudah dicetak sebagian saya tata untuk dipindah dalam album foto. Kembali tragedi muncul, foto yang ingin saya cetak hasilnya diluar perkiraan. Gambarnya gelap dan jauh dari file aslinya.

Dalam hati hanya berguman, ini apa-apaan kenapa hancur semua. Saya sudah mencoba menjadi pelayan yang baik, tetapi kenapa saat saya menjadi raja pelayanannya kacau begini. Apakah operator mesin cetak tidak bisa membedakan warna CYMK dan RGB, atau menset mesin cetak ke mode auto. Bagi saya ini adalah fatal, puluhan gambar bahkan ratusan sepertinya akan sia-sia tercetak karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Kepuasan pelanggan adalah segala-galanya, bukan bisnis dan duit. Saya hanya bisa marah-marah lewat tulisan saja, daripada ngamuk distudio lab cetak foto, toh mereka juga seperti saya juga. Langkah terbaik, kasih masukan yang baik dan bicarakan dengan baik-baik, jika memang tidak bisa terpaksa “loe gue end”, “rika inyong rampung”, “sliramu kulo pegat”.

10 thoughts on “Gara-gara BBM Naik, Loe Gue End

  1. slamsr said: pengen tau reaksi kliennya mas dhave setelah liat fotonyaatau bakalan dicetak ulang?

    kalau hati lagi galau,, salah sedikit, bisa merembet ke smuanya, dah pernh ngalamin gini om. mau nyalahin, nyalahin sp juga. ttp smgt yg penting..

  2. samsihan said: kalau hati lagi galau,, salah sedikit, bisa merembet ke smuanya, dah pernh ngalamin gini om. mau nyalahin, nyalahin sp juga. ttp smgt yg penting..

    hajar saja pokoe…… hajaaaaaaaaar

  3. dhave29 said: hajar saja pokoe…… hajaaaaaaaaar

    klo nasib lg mujur, tuh knsumen pasti balik. dulu pernah garap telat gt, tp ttp mau aja orange. klo kita jujur lagi ada problem sm cetakan, ato kamera dll.. 🙂

  4. samsihan said: klo nasib lg mujur, tuh knsumen pasti balik. dulu pernah garap telat gt, tp ttp mau aja orange. klo kita jujur lagi ada problem sm cetakan, ato kamera dll.. 🙂

    ya melayani raja musti begitu Mas….. sabar..dan jujur…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s