P3K itu Balsem dan Plester

Kamarin sore 29/3/2012 di tempat saya kuliah ada pertandingan final sepak bola. Pertandingan yang ketat dan keras terjadi, karena demi gengsi dan gelar juara. Ada sebuah insiden yang membuat 1 lapangan terlihat panik, yakni ada salah satu pemain yang terjatuh karena tabrakan antar pemain. Salah satu pemain yang jatuh tersebut mengalami inflamasi atau pembengkan pada ruas tangan. Pembengakan sedemian cepatnya dan terlihat tanganyang membengkok, sepertinya mengalami patah tulang.

Pemain yang terkapar di tengah lapang kemudian didatangi tim medis, yakni dari panitia penyelenggara. Kepanikan terlihat dari masing-masing raut wajah mereka, sebab menemui kejadian yang tidak biasa mereka tangani. Akhirnya pemain yang cidera yang diindikasi patah tulang di tandu keluar lapangan, tetap dengan penanganan yang kurang benar. Dari mulai mengangkat pemain, mengusung dengan tandu, hingga penata laksanaan saat pemain sudah di pinggir lapangan. Bagaimana tidak panik? biasa menangi kaki kejang “kram”, lecet kini harus berhadapan dengan patah tulang. Melirik di kotat obat mereka, hanya ada obat gosok, anti septik, kain kasa, dan obat-obatan standar kotak P3K.

Sangat di sayangkan dari kejadian tersebut dan lambatnya pertolongan, jika saya melihat dan menilai dari kejadian tersebut. Panitia dan tim medis yang tidak siap terlihat dari setiap penangannya. Akhirnya yang cukup sangat di sesalkan, kampus saya yang punya poliklinik, dokter jaga, tim medis, fakultas keperawatan, ambulan tak dimanfaatkan, dan lebih percaya pada mobil angkot untuk membawa korban ke tukang urut.

Potret bagaimana pendidikan kesehatan di Indonesia mengenai P3K masih kurang. Awal tahun 1990 waktu saya masih SD saya terpilih menjadi Dokter Kecil. Waktu libur sekolah, kita yang terpilih jadi Dokter Kecil mendapat pelatihan kesehatan dan penanganan kecelakaan di Puskesmas pada waktu itu. Menjelang SMP ikut Palang Merah Remaja, dan dapat pelatihan serupa namun lebih mendalam. Saat SMA mengikuti juga pelatihan SAR, dan terjun langsung di lapangan dengan membantu evakuasi korban kecelakaan di Gunung Merbabu. Saat kuliah sudah terbiasa turun langsung di lapangan, di awali gempa Yogya, Erupsi Merapi. Pengalaman-pengalaman berharga yang saya dapat dari setiap kejadian. Saya merasakan betul apa manfaat saya jadi Dokter Kecil dulu yang sering mendapat cemoohan gara-gara setiap ada yang pingsan saat upacara hanya bisa menunggui di UKS dengan balsem di tangan.

Nah bagaimana dengan teman-teman saya? selebihnya tidak tahu menahu bab P3K. Patut di sayangkan, kekurang tahuan tersebut biasanya menjadi malapetaka bagi si korban. Saya kira semua pernah lihat tayangan sepak bola di televisi, nah saat ada pemain yang cidera dan tim medis datang langsung segera di tangani. Dari tayangan televisi itulah acapakali gerakan-gerakan spontan kita tirukan tanpa mengetahui cidera apa yang sebenarnya terjadi. Pernah saya mengalami cidera kaki terpelintir pada bagian lutut, dan saya hanya berpikir “cidera meniskus”. Saat saya terkapar di lapangan dan teman-teman menolong, spontan mereka memegang kaki dan meluruskan lalu menekuk ujung kaki seperti yang mereka saksikan di televisi. Mereka tidak tanya saya cidera apa dan langsung main tekuk dan tekan saja.

Pernah saya mendengar pernyataan dari ahli kesehatan, saat cidera kita dilarang memijit karena akan menambah cidera. Untuk mencegah luka cidera lebih parah kompres dengan air dingin atau es, nah itu yang kadang kita abaikan. Ada yang jatuh langsung luruskan kaki dan tekuk tekan seperti yang ada di televisi-televisi dan kebanyakan orang lakukan. Memang niat baik menolong korban, tetapi dengan prosedur yang salah bisa menambah luka pada korban.

Perlu disadari pengetahuan kita tentang P3K sepertinya masih minim bahkan tidak ada. Tidak adanya pelatihan dan pendidikan tentang kesehatan dan P3K adalah salah satunya. Dalam kurikulum di sekolah saya kira tidak ada, kalaupun itu ada hanyalah bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Daerah kita “cincin api” yang konon rawan bencana semestinya banyak memberi pelatihan P3K pada generasi mudanya sebagai tulang punggung sewaktu-waktu bencana itu terjadi. Di beberapa pemberitaan, negera Jepang jauh lebih siap dalam masalah P3K dengan terus mengadakan simulasi dan pelatihan.

Memang siapa yang mau celaka, pasti tidak ada yang berharap menerima dan menghadapinya. Bagaimana saat untung tak diraih malah celaka yang datang, mau tidak mau harus siap dalam menghadapinya. Kejadian kemarin mengingatkan saya, betapa pentingnya P3K itu, sebab kecelakaan tidak bisa di prediksi. Bayangkan jika anda menjadi korban dan yang menolong terlihat panik dan sembrono? bagaimana perasaan anda? sudah sakit dan tambah menyakitkan. Nah bagaimana seharusnya membuat korban itu selamat, aman dan nyaman, tetapi dengan adanya kepanikan entah apa perasaan si korban mungkin sudah sakit, ditambah geram, jengkel sebab melihat orang pada bingung. Sekali lagi penting belajar P3K sebab celaka itu datang tak di undang dan pulang harus segera di tolong.

12 thoughts on “P3K itu Balsem dan Plester

  1. dhave29 said: punya poliklinik, dokter jaga, tim medis, fakultas keperawatan, ambulan tak dimanfaatkan, dan lebih percaya pada mobil angkot untuk membawa korban ke tukang urut.

    kalo ini tak kira dipengaruhi banyak faktor, mungkin birokrasi yang ribet, mungkin anggaran, atau faktor sugesti, dan lain sebagainya..ada yang sudah percaya sama dokter tertentu hingga sakit apa pun periksa ke dokter tersebut…ada yang memilih sangkal putung daripada ke dokter ahli…ada yang lebih suka konsumsi obat tradisional daripada obat kimia…__kalau yang sakit manusia, enak bisa diajak bicara, bisa menunjukkan daerah yang sakit.. lha kalau yang kecelakaan kucing, anjing atau binatang lainnya gimana?

  2. dhave29 said: punya poliklinik, dokter jaga, tim medis, fakultas keperawatan, ambulan tak dimanfaatkan, dan lebih percaya pada mobil angkot untuk membawa korban ke tukang urut.

    Memang sudah waktunya, orang-orang yang menangani “Pertolongan Pertama” dididik secara serius, dipersiapkan secara sungguh-sungguh untuk menangani keadaan darurat dalam kecelakaan. Di Pramukapun seringkali kurang serius.

  3. poniyemsaja said: kalo ini tak kira dipengaruhi banyak faktor, mungkin birokrasi yang ribet, mungkin anggaran, atau faktor sugesti, dan lain sebagainya..ada yang sudah percaya sama dokter tertentu hingga sakit apa pun periksa ke dokter tersebut…ada yang memilih sangkal putung daripada ke dokter ahli…ada yang lebih suka konsumsi obat tradisional daripada obat kimia…__kalau yang sakit manusia, enak bisa diajak bicara, bisa menunjukkan daerah yang sakit.. lha kalau yang kecelakaan kucing, anjing atau binatang lainnya gimana?

    Birokrasi……lebih tepatnya…….mBa….saya juga sangkal putung looh….hehehhehe mau coba?

  4. hardi45 said: Memang sudah waktunya, orang-orang yang menangani “Pertolongan Pertama” dididik secara serius, dipersiapkan secara sungguh-sungguh untuk menangani keadaan darurat dalam kecelakaan. Di Pramukapun seringkali kurang serius.

    setuju dan sepakat Om….. sepakat…ciptakan generasi yang tangguh tanggap tangkas dan cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s