Silaturahmi dan Reuni di Puskesmas

Ada sebuah cerita, di sebuah hutan hiduplah seekor monyet dan ikan. Seperti adatnya, monyet tinggal di pohon besar dan ikan di sungai yang jernih. Mereka hidup berdampingan, bersahat dan menjadi kawan yang baiklayaknya suadara sendiri. Suatu hari, terjadi hujan lebat, sungai yang tadinya tenang kirni semakin deras dan terjadilah banjir. Dari atas pohon, monyet begitu kawatir tentang keadaan ikan. Air bah pun terjadi dan tanpa pikir panjang, monyet turun dari pohon lalu menceburkan diri ke sungai dan dengan sigap menolong ikan dari hantaman air bah. Ikan di bawa naik ke pohon untuk menghindari luapan air sungai dan mereka bersama-sama kini di atas pohon. Air bah surut dan sungai kembali tenang, namun ikan yang tadinua diselamtakan monyet keadaan kritis dan akhirnya mati karena terlalu lama keluar dari air. Tujuan monyet itu baik, tetapi cara kita kadang salah dan akhirnya hanya sesal yang ada.
Pernah berkunjung ke Rumah Sakit, walau hanya sekedar membesuk atau berobat saja..?. Memperhatikan pengunjung ada sesuatu yang menarik jika diperhatikan. Berkaitan dengan pengunjung yang membesuk pasien ada sedikit permasalahan tetapi kembali juga ke sisi humanis layaknya manusia. Apabila di rumah sakit besar yang ada di kota-kota jam besuk dan jumlah pembesuk benar-benar di atur ketat sekali, berbeda dengan rumah sakit yang ada di daerah. RUmah sakit atau puskesmas di daerah, katakanlah kabupaten, kecamatan atau desa, aturan besuk tidak terlalu dibuat ketat, walaupun ketat tetap saja pelanggaran dibiarkan begitu saja.
Di Desa Saya, ada sebuah puskesmas rawat inap dan satu-satunya yang melayani 2 kecamatan. Bak kacang goreng dalam sebuah tontonan, puskesmas tersebut laris sekali dan ada saja pasien yang rawat inap. Nah jika sudah demikian, dijamin puskesmas bakalan tidak angker seperti puskesmas jaman dahulu yang buka jam 8 pagi tutup jam 4 sore. Puskesmas buka 24 jam layaknya minimarket, dan diseiktar puskesmas sudah terang benderang dan banyak pedagang makanan minuman yang buka 24 jam pula. Suasana yang mendukung untuk kebutuhan pasien dan pengunjung.
Suatu hari berniat menjenguk tetangga yang sakit Muntaber yang harus rawat inap. Saat memasuki gerbang Puskesmas, sudah banyak pengunjung dan ramai, pertanda banyak pasien yang rawat inap. Mobil-mobil pic up “bak terbuka” sudah baris rapi di tempat parkir dan pengunjung sudah berkumpul dilorong puskesmas. Dari luar saya perhatikan, puskesmas ramai sekali dengan pengunjung yang membesuk. Tak lupa pembesuk membawa buah tangan untuk pasien berupa hasil bumi, dari buah-buah ala kadarnya hingga buah-buah impor yang dibeli dari pedagang dipelataran puskesmas.
Dari dalam dalam sebuah ruangan rawat inap yang di pakai 2 pasier terlihat riuh sekali. Busyet 2 pasien dengan pengunjung yang membludak dan bergiliran untuk membesuk. Kalau di perhatikan mirip lebaran, dimana pengunjung antri masuk, bersalaman dengan pihak keluarga lalu berpindah ke tangan pasien sambil berbasa-basi menanyakan kesehatannya, lalu duduk sebentar dan mengobrol. Pihak keluarga yang menunggu sangat senang, ada yang berkunjung dan menjenguk, lalu obrolan dimulai dari kisah pasien sebelum sakit hingga jatuh sakit akhirnya terdampar di puskesmas. cerita begitu rinci dan berulang-ulang setiap pengunjung datan dan bertanya.
Tidak lupa, makanan ringan di suguhkan diatas lembaran-lembaran tikar yang disediakan pihak keluarga. Teh atau kopi diseduh dari termos-termos untuk menjamu pengunjung sambil menjadi teman ngobrol. Mereka yang dibawah tikar begitu gayeng “asyik” ngobrol, sedang yang diatas ranjang nampak tertidur diam hanya ditemani selang infus yang menancap di lengan. Bagi pengunjung yang tak tahan dengan bau obat atau aroma khas puskesmas, maka rokoklah dewa penyelamatnya. kepulan asap membumbung di langit-langit ethernit yang berwarna putih. Tak aneh jika ruangan puskesmas kini beraroma tembakau dan kemenyan. Tanda larangan merokok tak ubahnya anjuran cuci tangan sebelum makan dan berlaku “sunnah”. Pengunjung tak henti-hentinya berdatangan, sebab di kampung saya jika ada salah satu anggota keluarga, maka satu RT, tetangga, sodara dekat, sodara jauh, kolega, teman dan siapa saja yang kenal pasti menjenguk. Inilah hebatnya kampung saya, sisi humanis yang begitu besar disaat ada yang tertimpa musibah.
Lupakan sejenak tentang begitu guyupnya “kebersamaan” orang kampung terhadap mereka yang malang. Akhirnya saya tinggal di kota besar karena pekerjaan dan jauh dari peradaban kampung dan mengharuskan untuk segera beradaptasi. Suatu hari teman satu kantor jatuh sakit dan harus rawat inap. Dia di diagnosa kena hepatitis, sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang fungsi hati. Seperti biasa layaknya dipuskesmas saat dikampung, maka sewajarnya menjenguh. Baru sampai pintu gerbang ada tulisan “jam besuk 10-12 dan 16-18”. Saptam yang berjaga dengan tampang galak berjaga di pintu masuk yang astinya menolak pengunjung karena belum jam besuk.
Niat hati kerja setengah hari langsung menjenguk, sampair di rumah sakit pukul 13.00, artinya harus menunggu 3 jam untuk bisa menjenguk teman. Apa boleh buat, negosiasi dan kompromi harus di lakukan demi bisa menjenguk teman. Dasar mental kampung, akhirnya bisa tembus juga dari penjagaan satpam, karena berasalan “teman butuh uang untuk nebus obat sepatnta, dan ini saya yang bawa uang dan harus segera kembali kerja”. Akhirnya sampai juga di ruang dia dirawat inap dan kali ini sepertinya mustahil untuk ditembus. Ruang isolasi, karena berurusan dengan virus yang menular lewat media apa saja jadi berpikir untuk masuk.
“dok..dok..dok…” hanya lewat ketukan di kaca saya memberi isyarat dan hanya dibalas lambaian tangan tak berdaya. Saya tahu diri, dia butuh istirahat banyak dan perawatan intensif. Tak terbayang jika dia dirawat di puskesmas di kampung saya, dengan pengunjung yang bebas masuk keluar, merokok, makan minum, bercanda, ngbrol ngalor ngidul. Saya kira potret puskesmas di kampung saya tak berbeda dengan daerah-daerah lain. Jika saya melihat film-film barat, mereka yang membesuk sepertinya hanya ala kadarnya dengan membawa karangan bungan atau hanya setangkai bunga, dan tak berlama-lama lalu pergi. Memang mind set, budaya masing-masing tempat berbeda.
Puskesmas atau rumah sakit mengadopsi dunia barat dengan pengobatan modern, namun tidak disertai dengan gaya barat saat berkunjung atau menjenguk. Saya hanya berpikir, nyamankah pasien yang dijenguk banyak orang, diajak ngobrol, bercanda atau doa ramai-ramai. Bisa saya istilahkan ruangan rawat inap layaknya acara kumpul keluarga dan silaturahmi. Budaya, kekeluargaan, dan sisi humanis terkadang menjebak kita menjadi monyet-monyet yang menyelamatkan ikan yang terendam air banjir. Tujuan kita memang kadang baik, tetapi terkadang cara kita kurang tepat. Bayangkan saja, orang sakit muntaber di kasih buah-buahan, jangankan makan mungkin melihat saja mau muntah dan berak-berak. Mungkin dengan mengubah “mind set” kita, bisa mendukung penyembuhan pasien lebih cepat.

14 thoughts on “Silaturahmi dan Reuni di Puskesmas

  1. dhave29 said: Saya hanya berpikir, nyamankah pasien yang dijenguk banyak orang, diajak ngobrol, bercanda atau doa ramai-ramai. Bisa saya istilahkan ruangan rawat inap layaknya acara kumpul keluarga dan silaturahmi. Budaya, kekeluargaan, dan sisi humanis terkadang menjebak kita menjadi monyet-monyet yang menyelamatkan ikan yang terendam air banjir. Tujuan kita memang kadang baik, tetapi terkadang cara kita kurang tepat. Bayangkan saja, orang sakit muntaber di kasih buah-buahan, jangankan makan mungkin melihat saja mau muntah dan berak-berak.

    paling tidak, sudah dibuat aturan “jam bezuk”.. dan ndak bisa dipungkiri, ketika kita sakit lalu ada yang datang menjenguk jadi merasa diperhatikan, jadi punya semangat untuk sembuh…lalu kalau misalnya menjenguk lalu datang membawa buah-buahan misalnya (sepengalaman poni) buah tangan itu malah diperuntukkan untuk kerabat yang menunggu si sakit.. sedangkan si sakit sendiri tentu sudah diberi makanan khusus oleh pihak rumah sakit yang sesuai dengan kondisinya..kalau ndak mau dijenguk, atau merasa risih dengan keramaian.. bisa masuk ke kamar yang hanya diisi 1 atau 2 orang.. atau berpesan kepada perawat/kerabat untuk tidak menerima pembezuk, kalau lebih ekstrim sih kerjasama dgn orang-orang terdekat untuk “merahasiakan” kondisi si sakit.. :D-IMHO lho mas dhave-

  2. poniyemsaja said: paling tidak, sudah dibuat aturan “jam bezuk”.. dan ndak bisa dipungkiri, ketika kita sakit lalu ada yang datang menjenguk jadi merasa diperhatikan, jadi punya semangat untuk sembuh…lalu kalau misalnya menjenguk lalu datang membawa buah-buahan misalnya (sepengalaman poni) buah tangan itu malah diperuntukkan untuk kerabat yang menunggu si sakit.. sedangkan si sakit sendiri tentu sudah diberi makanan khusus oleh pihak rumah sakit yang sesuai dengan kondisinya..kalau ndak mau dijenguk, atau merasa risih dengan keramaian.. bisa masuk ke kamar yang hanya diisi 1 atau 2 orang.. atau berpesan kepada perawat/kerabat untuk tidak menerima pembezuk, kalau lebih ekstrim sih kerjasama dgn orang-orang terdekat untuk “merahasiakan” kondisi si sakit.. :D-IMHO lho mas dhave-

    sepakat…… mBa… sing simboke juru sembuh…..

  3. poniyemsaja said: paling tidak, sudah dibuat aturan “jam bezuk”.. dan ndak bisa dipungkiri, ketika kita sakit lalu ada yang datang menjenguk jadi merasa diperhatikan, jadi punya semangat untuk sembuh…lalu kalau misalnya menjenguk lalu datang membawa buah-buahan misalnya (sepengalaman poni) buah tangan itu malah diperuntukkan untuk kerabat yang menunggu si sakit.. sedangkan si sakit sendiri tentu sudah diberi makanan khusus oleh pihak rumah sakit yang sesuai dengan kondisinya..kalau ndak mau dijenguk, atau merasa risih dengan keramaian.. bisa masuk ke kamar yang hanya diisi 1 atau 2 orang.. atau berpesan kepada perawat/kerabat untuk tidak menerima pembezuk, kalau lebih ekstrim sih kerjasama dgn orang-orang terdekat untuk “merahasiakan” kondisi si sakit.. :D-IMHO lho mas dhave-

    kemarin di RS ungaran kebetulan besuk tetangga yang sakitaku kira rombongan dari temen2 remaja bakal ramai dan bikin heboh..dalam 1 ruangan itu ada 4 orang pasien, dan ada pasien sebelah yang dirawat karena lengannya tertusuk pas tawuran.. nah ini yg besuk temen 1 kelas…udah kaya kelas jam kosong…aku yang jenguk aja merasa terusik, apalagi yang sakit dan benar2 butuh istirahat…saran : langsung pesen kamar VIP aja hehe, biarpun rame yang keganggu cuma 1 pasien doang

  4. poniyemsaja said: paling tidak, sudah dibuat aturan “jam bezuk”.. dan ndak bisa dipungkiri, ketika kita sakit lalu ada yang datang menjenguk jadi merasa diperhatikan, jadi punya semangat untuk sembuh…lalu kalau misalnya menjenguk lalu datang membawa buah-buahan misalnya (sepengalaman poni) buah tangan itu malah diperuntukkan untuk kerabat yang menunggu si sakit.. sedangkan si sakit sendiri tentu sudah diberi makanan khusus oleh pihak rumah sakit yang sesuai dengan kondisinya..kalau ndak mau dijenguk, atau merasa risih dengan keramaian.. bisa masuk ke kamar yang hanya diisi 1 atau 2 orang.. atau berpesan kepada perawat/kerabat untuk tidak menerima pembezuk, kalau lebih ekstrim sih kerjasama dgn orang-orang terdekat untuk “merahasiakan” kondisi si sakit.. :D-IMHO lho mas dhave-

    Budaya kita memang beda dengan budaya barat. Buat kita, banyak teman dan kerabat menengok mungkin bikin cepat sembuh karena suasana hati menjadi riang. Tetapi buat orang barat yang lebih mempergunakan logika dibanding perasaan, pasien seharusnya istirahat dan tidak terganggu oleh pengunjung supaya cepat sembuh. Nah tinggal kita pilih saja mau yang mana . . .

  5. slamsr said: kemarin di RS ungaran kebetulan besuk tetangga yang sakitaku kira rombongan dari temen2 remaja bakal ramai dan bikin heboh..dalam 1 ruangan itu ada 4 orang pasien, dan ada pasien sebelah yang dirawat karena lengannya tertusuk pas tawuran.. nah ini yg besuk temen 1 kelas…udah kaya kelas jam kosong…aku yang jenguk aja merasa terusik, apalagi yang sakit dan benar2 butuh istirahat…saran : langsung pesen kamar VIP aja hehe, biarpun rame yang keganggu cuma 1 pasien doang

    itulah budaya kita cak….memang mind set yang belum peka terhadap sikon

  6. slamsr said: kemarin di RS ungaran kebetulan besuk tetangga yang sakitaku kira rombongan dari temen2 remaja bakal ramai dan bikin heboh..dalam 1 ruangan itu ada 4 orang pasien, dan ada pasien sebelah yang dirawat karena lengannya tertusuk pas tawuran.. nah ini yg besuk temen 1 kelas…udah kaya kelas jam kosong…aku yang jenguk aja merasa terusik, apalagi yang sakit dan benar2 butuh istirahat…saran : langsung pesen kamar VIP aja hehe, biarpun rame yang keganggu cuma 1 pasien doang

    itulah budaya kita cak….memang mind set yang belum peka terhadap sikon

  7. chris13jkt said: Budaya kita memang beda dengan budaya barat. Buat kita, banyak teman dan kerabat menengok mungkin bikin cepat sembuh karena suasana hati menjadi riang. Tetapi buat orang barat yang lebih mempergunakan logika dibanding perasaan, pasien seharusnya istirahat dan tidak terganggu oleh pengunjung supaya cepat sembuh. Nah tinggal kita pilih saja mau yang mana . . .

    jadi ingat pepatah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” ya Om…?

  8. chris13jkt said: Budaya kita memang beda dengan budaya barat. Buat kita, banyak teman dan kerabat menengok mungkin bikin cepat sembuh karena suasana hati menjadi riang. Tetapi buat orang barat yang lebih mempergunakan logika dibanding perasaan, pasien seharusnya istirahat dan tidak terganggu oleh pengunjung supaya cepat sembuh. Nah tinggal kita pilih saja mau yang mana . . .

    Hauahauahahauahahahahahahaahahaha, sumpah nguuuakak pol!!!Eh, sori kalo ada yg tersinggung!Tapi ada 2 kejadian yang membuatku ngakak ama cerita monyet.1. Waktu sahabat kena DB. Pas aku dtg dia ama mata siwer ngomong gini “yailah elo dtg kpn bisa bobo neh, br aja td tince dari sini” ama narik selimut trus miringin bdn ke arahku buat “round 2”. Well, aku mah ga tersinggung, aku tau dia yg emang ceplas ceplos. Sjk itu aku merasa bahwa kunjungan ke RS tuh kudu liat2 keadaan.2. Pas mamiku msk RS! Bukannya sombong ya, kebetulan kamar yg kosong cuma super vip. Trus, mamiku temennya buanyak. Mereka itu dtg-nya seperti minum obat: pagi-siang-malem. Sblm msk kerja, ada yg dtg. Jam 10, ada lagi dan ga pulang2 sampe jam 3an. Tar after office wuiiih malah seperti arisan.Meja makan tuh isinya junkfood, kue, taart, segala macem (trus tiap tgh malem aku ngider sampe kemana2, masuk kelas 3/ cr satpam buat bagiin kue2 itu). Aku sampe drop. Bkn krn tungguin mami, tp krn ladeni tamu.Mami sdr akhirnya seharian dikasih obt penenang+obt tidur! Lbh parah lg, RS sungkan kali ya, suruh tamu pergi. Jd mrk inisiatif tdk mau memberikan no kamar mamiku, hahaha (aku ga tersinggung, malah ngakak). Stlh dirawat 3 hr, aku liat ada kmr VIP kosong. Aku minta pindah kesana, tp suster blg: itu ruangan kecil loh, lha skrg aja ibunya tiap malem seperti ngadain arisan, nanti tamu2nya meluber ke koridor, bisa kena tegur.Jadi, demi menghormati tamuuuu, akhirnya aku bertahan di super vip. bangkrut jaya! Plus keok. Plus maminya seeeeharian diberi obat tidur (cuma melek 3-4jam doang sehari!).Jadiiiiiiiii, aku bener2 sepakat dgn pemikiranmu dhave!Tanteku, belajar dr kejadian mamiku, dia pas opname ga bilang2. Nama di papan RS, disamarkan (pake nama belakang). Aman, wes.

  9. laurentiadewi said: Hauahauahahauahahahahahahaahahaha, sumpah nguuuakak pol!!!Eh, sori kalo ada yg tersinggung!Tapi ada 2 kejadian yang membuatku ngakak ama cerita monyet.1. Waktu sahabat kena DB. Pas aku dtg dia ama mata siwer ngomong gini “yailah elo dtg kpn bisa bobo neh, br aja td tince dari sini” ama narik selimut trus miringin bdn ke arahku buat “round 2”. Well, aku mah ga tersinggung, aku tau dia yg emang ceplas ceplos. Sjk itu aku merasa bahwa kunjungan ke RS tuh kudu liat2 keadaan.2. Pas mamiku msk RS! Bukannya sombong ya, kebetulan kamar yg kosong cuma super vip. Trus, mamiku temennya buanyak. Mereka itu dtg-nya seperti minum obat: pagi-siang-malem. Sblm msk kerja, ada yg dtg. Jam 10, ada lagi dan ga pulang2 sampe jam 3an. Tar after office wuiiih malah seperti arisan.Meja makan tuh isinya junkfood, kue, taart, segala macem (trus tiap tgh malem aku ngider sampe kemana2, masuk kelas 3/ cr satpam buat bagiin kue2 itu). Aku sampe drop. Bkn krn tungguin mami, tp krn ladeni tamu.Mami sdr akhirnya seharian dikasih obt penenang+obt tidur! Lbh parah lg, RS sungkan kali ya, suruh tamu pergi. Jd mrk inisiatif tdk mau memberikan no kamar mamiku, hahaha (aku ga tersinggung, malah ngakak). Stlh dirawat 3 hr, aku liat ada kmr VIP kosong. Aku minta pindah kesana, tp suster blg: itu ruangan kecil loh, lha skrg aja ibunya tiap malem seperti ngadain arisan, nanti tamu2nya meluber ke koridor, bisa kena tegur.Jadi, demi menghormati tamuuuu, akhirnya aku bertahan di super vip. bangkrut jaya! Plus keok. Plus maminya seeeeharian diberi obat tidur (cuma melek 3-4jam doang sehari!).Jadiiiiiiiii, aku bener2 sepakat dgn pemikiranmu dhave!Tanteku, belajar dr kejadian mamiku, dia pas opname ga bilang2. Nama di papan RS, disamarkan (pake nama belakang). Aman, wes.

    wahahaha….kalo inimah lebih ngakak pol…sakit di badan dan sakit di dompet gara2 tamu…..mantab..mantab..lain kali kudu lihat sikon…siapa yang sakit..jenguk lewat MP ajah wae… hehehhe

  10. laurentiadewi said: Hauahauahahauahahahahahahaahahaha, sumpah nguuuakak pol!!!Eh, sori kalo ada yg tersinggung!Tapi ada 2 kejadian yang membuatku ngakak ama cerita monyet.1. Waktu sahabat kena DB. Pas aku dtg dia ama mata siwer ngomong gini “yailah elo dtg kpn bisa bobo neh, br aja td tince dari sini” ama narik selimut trus miringin bdn ke arahku buat “round 2”. Well, aku mah ga tersinggung, aku tau dia yg emang ceplas ceplos. Sjk itu aku merasa bahwa kunjungan ke RS tuh kudu liat2 keadaan.2. Pas mamiku msk RS! Bukannya sombong ya, kebetulan kamar yg kosong cuma super vip. Trus, mamiku temennya buanyak. Mereka itu dtg-nya seperti minum obat: pagi-siang-malem. Sblm msk kerja, ada yg dtg. Jam 10, ada lagi dan ga pulang2 sampe jam 3an. Tar after office wuiiih malah seperti arisan.Meja makan tuh isinya junkfood, kue, taart, segala macem (trus tiap tgh malem aku ngider sampe kemana2, masuk kelas 3/ cr satpam buat bagiin kue2 itu). Aku sampe drop. Bkn krn tungguin mami, tp krn ladeni tamu.Mami sdr akhirnya seharian dikasih obt penenang+obt tidur! Lbh parah lg, RS sungkan kali ya, suruh tamu pergi. Jd mrk inisiatif tdk mau memberikan no kamar mamiku, hahaha (aku ga tersinggung, malah ngakak). Stlh dirawat 3 hr, aku liat ada kmr VIP kosong. Aku minta pindah kesana, tp suster blg: itu ruangan kecil loh, lha skrg aja ibunya tiap malem seperti ngadain arisan, nanti tamu2nya meluber ke koridor, bisa kena tegur.Jadi, demi menghormati tamuuuu, akhirnya aku bertahan di super vip. bangkrut jaya! Plus keok. Plus maminya seeeeharian diberi obat tidur (cuma melek 3-4jam doang sehari!).Jadiiiiiiiii, aku bener2 sepakat dgn pemikiranmu dhave!Tanteku, belajar dr kejadian mamiku, dia pas opname ga bilang2. Nama di papan RS, disamarkan (pake nama belakang). Aman, wes.

    Uhuk uhuk!Begitulah (_ _!)Dirawat 8 hari, lumayan buanget!Lha wong RS sekarang ternyata per kali panggil suster, bayar (kirain ya sudah termasuk biaya kamar booo). Infus, alat ini itu segala macem, bayar lagi *edun*. Biaya dokter buat super vip ama vip aja beda 250rb kalo ga salah. Semua karena “menghormati tamu” yang tidak menghormati kita, uhuk uhuk! *elus dada ayam*. Tapi ya sudahlah, tandanya sayang tuh, tanda sayang (menghibur diri), hahahahahahaha!

  11. laurentiadewi said: Uhuk uhuk!Begitulah (_ _!)Dirawat 8 hari, lumayan buanget!Lha wong RS sekarang ternyata per kali panggil suster, bayar (kirain ya sudah termasuk biaya kamar booo). Infus, alat ini itu segala macem, bayar lagi *edun*. Biaya dokter buat super vip ama vip aja beda 250rb kalo ga salah. Semua karena “menghormati tamu” yang tidak menghormati kita, uhuk uhuk! *elus dada ayam*. Tapi ya sudahlah, tandanya sayang tuh, tanda sayang (menghibur diri), hahahahahahaha!

    yang penting sembuh dan sehat mBa…..

  12. laurentiadewi said: Uhuk uhuk!Begitulah (_ _!)Dirawat 8 hari, lumayan buanget!Lha wong RS sekarang ternyata per kali panggil suster, bayar (kirain ya sudah termasuk biaya kamar booo). Infus, alat ini itu segala macem, bayar lagi *edun*. Biaya dokter buat super vip ama vip aja beda 250rb kalo ga salah. Semua karena “menghormati tamu” yang tidak menghormati kita, uhuk uhuk! *elus dada ayam*. Tapi ya sudahlah, tandanya sayang tuh, tanda sayang (menghibur diri), hahahahahahaha!

    Hauahaua, ya banget!!Dan ikhlas kok, wong tak pikir2 mereka itu ya lumayan berkorban buat ngejenguk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s