“Kamseupay” Siapa yang Kampungan Sekali Udik Payah..?

Dalam istilah geografi, ada pembeda untuk Kota, Desa, Kampung, Dusun. Istilah-istilah tersebut digunakan dalam pemetaan untuk mempermudah membedakan antar wilayah berdasar fungsi administratifnya. Lain halnya jika kelaur dari geografi, maka istilah kota, kampung, desa sudah bermakna lain bahkan menimbulkan perbedaan yang menjurus pada diskriminasi, strata sosial hingga marjinalisasi. Mungkin kita biasa teriak ”dasar kampungan” atau Tukul Arwana dengan lawakannya ”Wong nDeso”. Kampungan dan nDeso, identik dengan daerah pinggiran, dan pola pikir dan tingkah laku penduduknya yang dibawah peradaban orang kota.

Apakah demikianya kenyataannya? jika wong nDeso dan Kampung identik dengan keterbelakangan. Masih ingat perseteruan Marissa Haque dengan Dee Djumadi Kartika gara-gara disertasi Marissa?. Perseteruan dua orang tersebut juga menyeret Memes dan Suaminya, tak ketinggalan juga anaknya ”Kevin Aprilio”. Perang mereka cukup unik karena dikawasan yang orang lain bisa melihat. Lewat situs jejaring sosial ”twitter”, mereka saling berkicau dengan lawakan perselisihannya. Dari kicauan mereka ada satu istilah yang meledakan dan menjadi kata mutiara ”Kamseupay”.

Kamseupay awalnya ditulis oleh Marrisa di blognya untuk menuliskan kemarahannya terhadap Dee Djumadi dan mengaitkan dengan 3 artis laiinya. Kamseupay ”Kampungan Sekali Udik Payah” sebuah ungkapan untuk melampiaskan kemarahannya. Menjadi pertanyaan, apa salah Kampung, Udik yang berperan sebagai katan benda tiba-tiba menjadi kata sifat. Ada apa dengan kampung atau udik, apakah orang kampung itu udik dan payah sekali?. Jika dikaitkan dengan saya yang tinggal di kampung dan kadang di cap sebagai orang udik, sebab tiap lebaran banyak yang mudik ke kampung saya, jelas agak risih mengatasnamakan ”kampungan” dengan ”payah sekali”.

Analoginya begini, tak asing di telinga kita ”tukang becak” selalu identik dengan ini itu dan semua yang buruk-buruk. Becak biang kemacetan, becak sumber kesemrwatuan, dan tukang becak adalah kambing hitamnya. Apa tidak kasihan, sudah hidup susah, kerja narik pedal, dapat makian dan jadi kambing hitam. Andaikata dijalanan tidak ada becak apakah sudah ada yang menjamin bebas macet, semrwaut dan kemiskinan?. Bagaimana dengan pejabat yang tiap hari jalan dikawal dengan mobil-mobil patroli yang seenak usus makan jalan, dan diikuti bawahahnya dan mereka yang ikut-ikutan menyalakan lampu sein bersamaan, nyatanya jadi biang macet juga. Bagaimana juga dengan supir-supira nagkot yang ngetem seenak udelnya sendiri-sendiri hingga orang-orang kaya yang naruh mobil sesuka hatinya. Masih mau menyalahkan tukang becak? beri mereka pekerjaan yang layak baru salahkan.

Tidak begitu jauh dengan mereka yang menyatakan ”kampungan” yang sepertinya melecehkan sifat-sifat orang kampung beserta pola pikir dan tindakannya. Kalau boleh saya bertanya dikampung ada yang menghuni sel tahanan KPK tidak?, dikampung ada maling uang rakyat tidak? dikampung ada koruptor tidak?, jawaban saya ”mungkin ada tetapi masih kalah dengan mereka yang tinggal di kota”. Banyak orang besar dan benar di negeri ini yang dari kampung. Dikampung masih ada toleransi, ketulusan, keramahan, saling menghargai, gotong royong, apakah mereka yang berkata ”kampungan” mau turun untuk ngerondak kompleks perumahannya dan kerja bakti?.

Apa maksud menyebut ”kampungan, udik, wong ndeso”, tanpa mereka anda-anda dijamin kelaparan. Dari desa, kampunglah nasi yang anda makan, dari sanalah makanan dimeja makan bisa anda santap. Disanalah produk-produk dari kota didistribusikan, yang acapkali dengan omongan penuh gombal dan tipuan dalam jurus marketing. Masih berani menyebut nama kampung dengan sembarang?. Anda yang duduk jadi pejabat, suara orang kampung yang banyak anda tipu dan kasih angin surga ikut membawa anda jadi orang nomer satu, ingat itu?. Apakah tidak ada kata lain selaian ”kampungan, udik, wong ndeso” untuk melampiaskan kemarahan, mengumpat akan kebodohan atau mencibir seseorang yang terbelakang?.

Mungkin bagi kita yang merasa terdidik dan terpelajar, sangat tak layak jika mengumbar kemarahan dengan cara yang tidak baik. Mungkin tanpa sadar kata itu terucap, tetapi apakah terpikirkan jika kata tersebut didengar mereka yang benar-benar mencermati setiap kata dan makna. Sangat disayangkan, kampuseupay itu meracuni mereka yang tidak mengerti makna dan efeknya. Lampiaskan kemarahan dengan cara yang benar dan positif daripada harus berkoar-koar dihalaman dunia mayanya yang menimbulkan permasalahan bagi orang lain, atau memang itulah caranya menulis disertasi?. Kalau tidak merasa dirinya lebih dari kamsepupay ya perbaiki orang-orang kampungan yang udik agar tidak kampungan sekali udik payah.

24 thoughts on ““Kamseupay” Siapa yang Kampungan Sekali Udik Payah..?

  1. orangjava said: Komentar ngilang..Dhave..

    sepurane mbah Kung….tadi dobel post,,,, jadi 1 delet hehehe…. lan kumene njenengan katut ngilang,,,kesetipkampseupay…. kampungan sekali udik payah…pisuhan Mbah hehehe…mboten sae,,,,

  2. asadikki said: bang, link blog ini boleh di share di FB & twitter ga ? soalnya kata “kamseupay” udah dibikin iklan, kalo yang nggak tau asal mulanya kan bisa ga baik.

    Iklan? Masya Allah…Sebegitunya😦

  3. asadikki said: bang, link blog ini boleh di share di FB & twitter ga ? soalnya kata “kamseupay” udah dibikin iklan, kalo yang nggak tau asal mulanya kan bisa ga baik.

    aku pikir ya orang demen jeprat jepret itu ga bisa nulis panjang gini, ternyata?

  4. asadikki said: bang, link blog ini boleh di share di FB & twitter ga ? soalnya kata “kamseupay” udah dibikin iklan, kalo yang nggak tau asal mulanya kan bisa ga baik.

    Orang kampung, yang digunung, itu malah orang yang lebih manusia daripada kebanyakan manusia dikota. Mereka punyanya tela rebus, ya dibagikan. Kebetulan ada soto, ya disajikan. Senyumnya dari hati, bukan buat ambil hati.

  5. asadikki said: bang, link blog ini boleh di share di FB & twitter ga ? soalnya kata “kamseupay” udah dibikin iklan, kalo yang nggak tau asal mulanya kan bisa ga baik.

    boleh silahkan mBa,,,,silahkan

  6. laurentiadewi said: Orang kampung, yang digunung, itu malah orang yang lebih manusia daripada kebanyakan manusia dikota. Mereka punyanya tela rebus, ya dibagikan. Kebetulan ada soto, ya disajikan. Senyumnya dari hati, bukan buat ambil hati.

    setuju mBa Dewi…sepakat “tosss dulu”

  7. laurentiadewi said: Orang kampung, yang digunung, itu malah orang yang lebih manusia daripada kebanyakan manusia dikota. Mereka punyanya tela rebus, ya dibagikan. Kebetulan ada soto, ya disajikan. Senyumnya dari hati, bukan buat ambil hati.

    ***tosssss***, sip! Nemu yang 1 partai😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s