Perjudian Petani Melawan Musim dan Kapitalisme

Petani tak bedanya dengan penjudi yang selalu bertaruh dengan musim dan panen. Yang membedakan, penjudi dengan uang, tetapi petani modalnya dari uang, peluh keringat, harapan dan tanggungan kehidupan. Siapa juga yang mau menjadi petani, enakan menjadi pegawai negeri. Sektor pertanian adalah modal utama kehidupan, tanpa mereka dijamin kelaparan, tetapi mengapa sektor vital ini acapkali jadi permainan, bahkan dimusuhi.

Petani, dari namanya saja pasti identik dengan lahan, cangkul, sabit, traktor, konvensional dan bodoh. Memang tidak munafik, karena hanya sedikit petani yang pinter, andai kata pintar gak mungkin juga mau jadi petani. Pertanan dan petani adalah lahan yang subur untuk bisnis dibalik gersangnya lahan dan harapan panen dibawah awan mendung. Lagi-lagi petani harus bertaruh dengan musim dan kaum-kaum kapitalis, dan sudah dijamin, petani bakalan kalah.

Dulu, sistem ”pranata mangsa” penanggalan musim yang dibuat nenek moyang kita begitu ampuh dalam menentukan masa bercocok tanam. Bagi petani di Jawa, keluarnya ”bintang luku” menjadi pertanda musim tanam tiba. Bintang yang berada di rasi Orion tersebut disejajarkan dengan telapak tangan yang ada bulir padi. Jika bintang tersebut rendah dan bulir belum jatuh, maka belum waktunya tanam. Apabila bulir tersebut berhatuhan, maka sudah waktunya tanam. Penanggalan tersebut jika dikonversi ke penanggalan masehi, jatuh sekitar bulan januari.

Begitu juga dengan pranata mangsa, seperti mangsa kasiji ”ke satu”, kaloro”kedua” dan seterusnya. Untuk beberapa tanaman tertentu ditanam pada waktu-waktu tertentu, sehingga menjadi standar baku dalam musim tanam. Kenyataan sekarang, standar tersebut sudah tidak baku dan banyak meleset. Jika pranata mangsa jama dulu dengan perhitungan bisa dikatakan tepat, sekarang bisa melenceng tidak karuan. Perubahan iklim dan gerak presisi matahari yang lambat laun berubah tanpa diiringin perubahan pranata mangsa. Akibatnya petani yang masih memakai penanggalan tersebut bisa melenceng perkiraannya.

Musim yang tak jelas, bencana dimana-mana, dan faktor lingkungan yang lain menjadi perjudian petani dengan alam. Menanam secara spekulasi, berdasarkan kebiasaan dan masalah untung rugi urusan belakangan. Memang alam tidak bisa diprediksi dan petani adalah penjudi-penjudi ulung dengan taruhan yang besar. Bolehlah, petani modern memanfaatkan rumah kaca yang tak kenal musim, tetapi petani gurem tetaplah berserah pada alam ini, dan berharap ada keberuntungan berpihak.

Usai berjudi dengan alam, kini bermain dengan industri pertanian yang dipegang kaum kapitalis. Dari mulai pupuk, pestisida, fungsida, mulsa, hingga bibit semuda adalah lahan bisnis yang sangat subur. Harga produk pertanian sepenuhnya dipegang oleh mereka yang menguasai petani dari sektor pupuk, bibit, pestisida dsb. Petani kembali berjudi dengan penantang kaum kapitalis, jika petani menang dan panen bersiap berjudi lagi dengan tengkulak-tengkulak yang tak kalah mahirnya berjudi.

Dulu, waktu saya kecil membantu bapak untuk membuat benih cabe, terung, tomat dsb. Dari mengupas biji, mencuci, menjemur hingga menyemai menjadi tanaman baru lagu yang siap tanam. Sampai-sampai saat buat bibit cabai, dijamin mata ini pedih dan nangis usai kencing ”imajinasikan sendiri”, karena semua dikerjakan manual dengan tangan. Saat ini petani sudah duduk manis saja, karena bibit-bit unggul sudah tersedia dipasar dengan harga bervariasi. Tidak jamannya lagi buat bibit sendiri, tetapi tinggal beli atau pesan dari petani penyemai.

Bibit yang dipasaran, sungguh hebat disainnya. Menurut saya, bibit tersebut adalah bibit mandul. Mengapa demikian..? bibit yang disemaikan adalah F1 atau turunan pertama dari induk aslinya, nah saat ditanam dan berbuah yang menghasilkan biji F2 atau cucu dari induknya sudah tidak bisa ditanam. Apabila bisa ditanam dan tumbuh, hasil dari benih F2 jauh menurun kualitas dan kuantitasnya dibanding F1. Itulah akal-akalan perusahaan pembenihan, karena mau tidak mau petani harus kembali untuk membeli bibit F1 yang harganya makin lama makin mencekik. Disaat ada seruan anti GMO ”genetic modified organism” petani sudah diserbu dengan produk-produk yang didisain demikian.

Usai dipermainkan dengan bibit, harus bertarung dengan kelangkaan pupuk dan mahalnya obat-obatan. Jika kedua masalah tersebut bisa diatasi, harus berjuang lagi saat panen, dimana saat panen raya dijamin harga anjlog. Disaat panen tanpa ada pesaing dijamin akan menjadi bulan-bulanan tengkulak nakal. Alih-alih bermain di koprasi yang menjamin kestabilan harga, tetap saja sengsara karena harga stabil diangka terendah. Memang petani tetaplah petani yang harus menerima kenyataan menjadi ladang permaian alam dan kaum kapitalis.

Berapa banyak sekolah pertanian, perguruan tinggi jurusan pertanian, dimanakah meraka, apakah sudah turun ke lapangan atau sibuk mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar CPNS. Memang idealisme bapak saya yang seorang petani ”sekolah yang tinggi biar tidak jadi petani”. Apakah ada orang tua ”jadilah petani yang hebat”, sangat susah menemui, tetapi saya tetap berkeyakinan. Petani adalah orang yang mulia, dari keringat, kebodohan, kepolosan dan perjudian mereka kita bisa hidup, makan dan kenyang. Gemah ripah loh jinawi, negeri ini, tetapi tak ada yang mau jadi petani, penginnya jadi pagawai negeri.

4 thoughts on “Perjudian Petani Melawan Musim dan Kapitalisme

  1. dhave29 said: Berapa banyak sekolah pertanian, perguruan tinggi jurusan pertanian, dimanakah meraka, apakah sudah turun ke lapangan atau sibuk mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar CPNS.

    Makane aku ra sida lulus dan jadi SPt..kwkwkw.. Local Wisdom harus tetap dipegang teguh dan Gaya hidup harus mulai banyk yg harus dibenahi..Bibit itu milik siapa? ya milik petani itu sendiri, bukan pengusaha.

  2. addicted2thatrush said: Makane aku ra sida lulus dan jadi SPt..kwkwkw.. Local Wisdom harus tetap dipegang teguh dan Gaya hidup harus mulai banyk yg harus dibenahi..Bibit itu milik siapa? ya milik petani itu sendiri, bukan pengusaha.

    sepakat dabs….kearifan lokal dan life style… semakin keblinger wae kie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s