Cinta Bahasa yang Universal

Cinta, sebuah bahasa universal sebagai ungkapan rasa yang diterjemahkan dalam tindakan. Sulit memang menggambarkan cinta itu seperti apa, hanya lewat tindakan cinta itu dinyatakan. Biasanya cinta itu diungkapkan kepada pasangan atau orang terdekat, ABG kepada pacarnya, calon pengantin kepada pasangannya. Mencoba melihat cinta dari sebuah kehidupan yang saya pelajari, dan akhirnya saya jatuh cinta kepadanya yaitu Biologi. Ilmu kehidupan yang membawa saya masuk dalam dimensi-dimensi kehidupan yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam rantai dan jejaring kehidupan. Biologi, cinta pertama saya yang membuat saya terjebak dan begitu menikmatinya.

Satu kajian ilmu tentang kehidupan, dan jika ingin melihat cinta disanalah habitat yang tepat. Cinta adalah bahasa kehidupan, dan milik semua mahluk hidup. Cinta tak mengenal batasan, walau acapkali manusia meras paling sempurna karena memiliki akal pikiran dan hati nurani, yang membedakan dengan mahluk hidup lain. Apakah mahluk hidup lain mempunyai cinta?, saya bilang iya, hanya kita yang tak mengerti bahasa cinta mahluk-mahluk selain manusia.

Bahasa cinta untuk hewan, bisa diterjemahkan sebagai naluri alami. Seekor induk Monyet akan bertahan mati-matian menjaga anaknya, dari setiap ancaman. Seekor induk ayam, rela berpuasa dan mengerami telurnya hingga menetas. Seeokor induk Arwana, rela tak makan demi melindungi anak-anaknya dalam mulutnya dari ancaman predator. Lebih ekstrim lagi induk laba-laba yang mengorbankan dirinya untuk makanan anak-anaknya. Di balik kehidupan yang liar, saling memakan, kanibal, ternyata masih ada sisi untuk menyatakan cinta lewat bahasanya. Sebuah bahasa cinta yang diterjemahkan dalam bentuk insting oleh hewan, yang acapkali jauh lebih besar dari kita yang jauh lebih sempurna.

Tak berbeda dengan tumbuhan, walau tak ada insting tetapi tetap saja bisa diterjemahkan sebagai wujud cintanya. Tumbuhan, biasanya sebelum mati, dia akan regenerasi atau beranak. Pohon pisang, setelah berbuah akan mati, tetapi terlebih dahulu menumbuhkan tunas-tunas baru. Induk yang mati, memberikan makanan makanan anaknya dari tubuhnya yang membusuk, lalu terurai dan menjadi materi organik yang subur. Bagaimana jika di bumi tak ada tumbuhan..? maka cinta itu tidak bisa diwujud nyatakan. Tumbuhan sebagai mahluk yang menghasilkan oksigen dan makanan, adalah sumber kehidupan dan selayaknya manusia jauh lebih hormat terhadapnya, tetapi kenyataannya berbeda. Sebagai paru-paru dunia, kini dibabat habis, alih fungsi lahan, dan alampun murka, manusia juga yang kena, inikah pembalasan cintanya? kejamnya manusia.

Bagaimana dengan mahluk kasat mata?, seperti; bakteri, virus, alga, amuba dan lain sebagainya. Dimana rasa cinta mereka?. Rasa cinta mereka adalah membuat dunia ini tidak penuh oleh bangkai. Bayangkan tanpa kehadiran mereka sebagai mahluk pengurai materi kehidupan, tentu saja tak ada yang membusuk dan bumi penuh dengan bangkai serta kotoran. Bahasa cinta yang diwujudkan dengan mengembalikan materi-materi yang tersusun kemudian diurai dan kembali menjadi materi aslinya. Bagaimana jika kita makan nasi keluar nasi, makan roti keluar roti, sungguh mengerikan bukan..? dan inilah tugas mereka untuk merombak semua. Apa wujud rasa cinta kita? perlakukan mereka dengan baik dan jangan cemari habitat mereka. Mungkin kita dengan mudah dan sembarangan membuang cairan disinfektan agar kita bersih, disana mereka tersiksa dan mati sia-sia. Ingat tanpa kehadiran mereka kita bukan siapa-siapa, mereka tak tergantung pada kita, tetapi sepeuhnya kita menggantungkan hidup dengan mereka.

Cinta yang universal dalam kehidupan, niscaya diterjemahkan dalam hubungan yang sinergis antar komponen kehidupan. Salah satu dari komponen tersebut kita putus cintanya, niscaya bencana akan datang. Membabat hutan, sudah jelas akibatnya. Berburu burung-burung liar, serangan ulat meraja lela. Membuang bahan beracun sembarangan, lingkungan tercemar dan berbahaya. Manusia adalah predator paling atas yang dilengkapi, akal pikiran dan hati nurani. Apabila cinta itu hilang, berarti sengaja merusak tatanan kehidupan yang sinergis berubah menjadi antagonis. Berikan cinta kita sebagai wujud mahluk yang sempurna kepada kehidupan yang ada, dan inilah cinta saya dalam belajar kehidupan.


7 thoughts on “Cinta Bahasa yang Universal

  1. dhave29 said: inilah cinta saya dalam belajar kehidupan.

    jadi cinta memang benar-benar universal, terbuka pikiran, universal yg sering didengung-dengungkan berupa banyak bahasa, ternyata juga universal berupa semua makhluk hiduptfs

  2. axhu said: jadi cinta memang benar-benar universal, terbuka pikiran, universal yg sering didengung-dengungkan berupa banyak bahasa, ternyata juga universal berupa semua makhluk hiduptfs

    karena cinta adalah bahasa😀

  3. Pingback: Cinta Bahasa yang Universal | gadis petualang

  4. Pingback: Cinta Bahasa yang Universal | gadis petualang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s