Merindukan ”Gudel-gudel Potensial di Negeri Ini

Dalam pepatah Jawa dikatakan ”kebo nyusu gudel”, atau yang diartikan seekor kerbau yang menyusu kepada anaknya yang masih kecil. Perumpamaan demikian dimaknai sebagai sesuatu yang tak mungkin bilamana orang tua belajar kepada anak kecil, tetapi seharusnya kebalikannya, yakni anak belajar kepada orang tua. Dulu peribahasa itu sebagai perwujudan tata krama, bagaimana seorang yang belum cukup ilmunya harus belajar kepada yang sudah berilmu. Kenyataan sekarang, siapa ”kerbau” dan siapa ”gudel”, apakah masih berlaku berdasar batasan umum atau kemampuan?.

Dalam berbagai situasi, perumpamaan tersebut dipakai sebagai sebuah norma sosial, dimana mereka yang lahir duluan dianggap lebih mengerti tentang kehidupan dibanding yang masih ”orok”. Dahulu, ”kebo nyusu gudel” ibarat sebuah gengsi bagi mereka yang merasa lebih pintar, dewasa, tua, kuasa tak mungkin akan belajar dari yang dibawahnya. Biasanya mereka yang merasa dirinya lebih, berbanding lurus dengan usianya. Saat ini, sepertinya ”kebo nyusu gudel” bukanlah menjadi produk gengsi, atau bahan yang dianggap tabu dan nyalahi norma, tetapi sudah hal yang biasa.

Namun bagi mereka yang berpikir konservatif, peribahasa tersebut masih dipegang teguh dan acapkali memberangus ”gudel-gudel” yang sedang menuju kemandirian. Banyak orang tua, atau yang lebih tua belajar kepada mereka yang lebih muda. Lihat saja pemimpin negeri ini, mana ada kaum muda yang nangkring diatas, tetapi semua menunggu dalam daftar antrian ”urut tua, yang muda belakangan”. Dalam kepemimpinan, tidak peduli umur, walau tetap menjadi perhitungan, tetapi lebih mengacu kepada kepakaran atau kemampuan. Begitu juga aspek-aspek lain yang lebih mementingkan mereka yang dianggap ”sepuh” untuk tampil didepan dan yang muda seperti biasa ”masuk daftar antrian”.

Secara umur, anak muda bisa saja kalah, tetapi pengetahuan, kemampuan dan pengalaman patut diperhitungkan. Memang umur tak bisa bohong, seiring waktu orang selalu belajar dari setiap episode kehidupan, tetapi kemampuan bukanlah masalah waktu. Kemampuan adalah hasil dari proses belajar dan pengalaman, dalam kurun waktu tertentu, bisa cepat atau lambat. Kemampuan dalam arti ini masih sangat sempit, yakni dalam bidang-bidang tertentu saja. Contoh sederhananya, Bapak saya tidak tahu apa itu Facebook dan teman-temannya. Dosen saya masih memakai cara manual dalam mengirim berita, padahal sudah ada ”surel dan kerabatnya”. Selayaknya Bapak dan Dosen harus menyusu pada ”gudel” agar tak terlindas roda modernisasi.

Hanya berandai-andai saja, andaikata suksesi kepemimpinan negeri kita dimunculkan tunas-tunas muda yang lebih energij, segar, potensial dan didukung serta ditopang perakaran kuat mereka yang sepuh dan kaya pengalaman serta kebijaksanaan. Jika masih berkutat dengan nomor antrian usia, maka pupus sudah tunas muda tersebut dan siap layu sebelum berkembang. Tidak hanya dipanggung politik, istilah ”urut tua” itu berlaku, sebab budaya kita memang seperti itu, dahulukan yang tua.

Memang ada benarnya ”kebo nyusu gudel” sebagai pembelaan mereka yang gengsi dan malu kepada yang lebih muda atau dibawahnya. Jika tidak demikian, mau taruh dimana muka-muka pemimpin kita yang sudah tidak prospektif dan sering melakukan ”blunder” kebijakan tanpa mau belajar pada mereka yang lebih pakar terlebih yang lebih muda. Sekarang tidak usah mikir ”kebo” atau ”gudel”, tetapi siapa yang lebih layak, itu yang tampil dan menjadi induk untuk memberikan susu-susu perubahan bagi negeri ini. Tidak peduli tua atau muda, dan bukan saatnya memakai nomer urut antri usia, tetapi yang siap dialah yang maju. Merindukan ”gudel-gudel” negeri ini mendapat tempat sesuai dengan kalayakan dan kepatutan mereka sesuai bidang kepakarannya.

4 thoughts on “Merindukan ”Gudel-gudel Potensial di Negeri Ini

  1. dhave29 said: Merindukan ”gudel-gudel” negeri ini mendapat tempat sesuai dengan kalayakan dan kepatutan mereka sesuai bidang kepakarannya.

    Don’t hope for it to happen, don’t wait for one to arise. That’s a flaw of messianic wishes.MAKE IT HAPPEN!BE THE ONE!

  2. dhave29 said: Merindukan ”gudel-gudel” negeri ini mendapat tempat sesuai dengan kalayakan dan kepatutan mereka sesuai bidang kepakarannya.

    banyak orang tua yg belajar internet, fb-an, dan blogging dari kaum muda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s