Anak-anak yang Menjadi Dukun Digital dan Virtual

Saya mungkin satu dari sekian banyak orang-orang yang bisa menikmati masa lalu yang indah. Kecil di pedalaman Kalimantan dan hidup sebagai transmigran. Suka duka ada disebuah lokasi yang baru, memang realita dan kini menjadi kenangan indah. Hidup berdampingan dengan penduduk aseli ”dayak”, berinteraksi dan menjalin hubungan sosial yang baik. Awal di lokasi transmigrasi, ibarat awal membangun sebuah kehidupan bersama. Disaat gagal panen, karena faktor cuaca dan serangan hama, ditambah lagi jatah lauk pauk pemerintah sudah berhenti adalah paceklik dan hanya kami yang tahu. Lupakan kenangan makan gaplek, tiwul, buah-buahan hutan, karena itu pelajaran tentang masa lalu yang suram dan terus akan dikenang.

Sekarang berbicara yang indah-indah saja, karena banyak enaknya daripada sengsaranya. Hidup di lokasi trans, ibarat hidup dalam komunitas baru, lingkungan baru, masyarakat baru dan semua serba baru, yang sama adalah nasib. Latar belakang warga trans baik dari suku, agama dan budaya seolah tak menjadi hambatan, tetapi menambah warna bagaimana harus bertahan hidup bersama. Waktu itu saya masih SD, banyak kenangan yang terus teringat dalam memori kehidupan saya. Saya berasal dari suku Jawa, harus bergaul dengan teman-teman dari Sunda, Madura, Tegal, Wonogiri dan Dayak. Awalnya susah, namun Sumpah Pemuda menyatukan kami.

Setiap hari kegiatannya hanya sekolah dan setelah itu bermain. sekolah hanya dari jam 7 sampai 10, setelah itu lompat ke sungai yang jernih, nangkap ikan, perang-perangan di hutan, dan menjelang malam bermain petak umpet sambil diterangi sinar rembulan. Belajar bersama didalam suaru bercahayakan lampu minyak, adalah kegiatan seusai adzan maghrib, dan setelah itu kembali kami bermain dan bermain. Saya banyak belajar dari teman-teman diluar daerah dengan tradisinya masing-masing. Belaja tari Remo dari teman asal Surabaya, belajar bahasa Sunda dari teman asal Tasikmalaya, belajar rebana dari teman-teman pantura, dan banyak belajar dari teman-teman asli sana.

Anak-anak suku Dayak mengjari saya bagaimana mencari dan memilih buah-buahan di hutan, berburu binatang liar, memancing di sungai, dari memainkan sumpit beracun hingga mengendarai sampan di sungai berarus deras. Masa kecil yang menyenangkan, penuh kenangan dan banyak pelajaran berharga saya dapat dari mereka. Kenangan itu muncul disaat saya menyaksikan acara televisi yang menayangkan anak-anak di pelosok daerah. Sebut saja ”Ensiklopedia Anak Nusantara” oleh Kompas TV dan Si Bolang ”Trans 7”, adalah acara favorit dan menggeser acara lain yang kata orang lebih menarik.

Dibalik kenangan indah tersebut, tiba-tiba saya teringat anak Boss saya yang tinggal di Jakarta. Anak dari Boss saya seumur-umur belum pernah lihat kerbau dan sumur, karena setiap hari di penjara di apartemen, mobil antar jemput sekolah dan mall. Suatu saat, saya suruh lihat 2 acara televisi tersebut di atas, sambil meletakan stik PS-nya. Wajah kagum, heran dan asing saat melihat anak-anak di pulau berenang bersama hiu-hiu. Yang ada dipikiran dia, hiu adalah binatang buas, ganas seperti yang dia lihat di film-film ”shark”. Timbul pertanyaan, ”ada juga hiu yang tidak suka manusia ya..?”.

Fenomena anak juragan saya, tak beda jauh dengan anak-anak jaman sekarang yang serba virtual. Setiap hari di sediakan menu di atas kertas dan di depan monitor layar datar. Hidup mereka serba virtual, bermain, berkomunikasi hingga bertatap muka, semuanya serba virtula. Dahulu saya jika ngajak teman untuk bermain, datangi satu persatu dirumahnya dengan menyebut namanya dengan keras. Sekarang cukup pencet di ponsel pintar atau sejenisnya dan seketika itu terhubung, dan mulailah mereka berkomunikasi, berbicara dan bertatap muka jarak jauh.

Jaman saya, jarak dan waktu adalah faktor pembatas yang dilalui dengan jalan kaki atau sepeda mini, bahkan dengan mendayung sampan dan acapkali dihentak derasnya arus sungai Lamandau. Kini hanya lewat pancaran gelombang, semua bisa saling terhubung layaknya dukun-dukun Suku Daya yang bercengkrama lewat telepati. Dukun saja agar bisa berkomunikasi nirkabel butuh proses, puasa hingga latihan, tetapi dukun-dukun kecil sekarang, asal orang tuanya punya uang semua bisa dilakukan. Saya bilang dukun kecil, karena mereka begitu mudah dan cepatnya melakukan sesuatu; dari memanggil dan menghubungi teman, cari data dan informasi, hingga saling bertegur sapa. Hanya listrik mungkin satu-satunya yang menghambat mereka.

Makin hari makin banyak dukun-dukun kecil ini yang hidup dalam dunia virtual. Mereka kini sibuk dengan dadget, dan dunianya sendiri, karena itu jauh lebih mengasyikan daripada lelah-lelah keluar. Teman-teman kecil saya, tak ada yang memakai kacamata, tetapi sekarang banyak anak kecil yang harus memakai alat bantu untuk melihat yang sedikit menghambat aktivitas. Namun, disana masih banyak anak-anak yang masih bisa menikmati bermain bersama teman-temannya, menikmati masa kecil, walau jarak dan waktu menjadi pemisah. Entah apa nantinya jadinya dukun-dukun kecil ini yang hidupnya serba virtual, tapi berharap orang tua lekas menyadari tak selamanya kecanggihan teknologi baik untuk perkembangan anak.

14 thoughts on “Anak-anak yang Menjadi Dukun Digital dan Virtual

  1. hehe sakjane acara trans tivi kae inspiratif kang ming yo kuwi andelane wong indonesia ki korban mode banget, jaman wisata kuliner, gawe acara wisata kuliner, idol, idol kabeh, saiki boyoband yo do gawe boyoband akhire acarane mung dadi acara musiman

  2. anakku, dijamin ga akan begitu. bakal aku ajak dia blusukan ke candi2, ke air terjun, ke pantai. aku lihat ada anak pelukis terkenal, yang lukisannya dihargai bunyi “m”. biasa saja, pakai sandal biasa, lari kesana kemari, main lumpur dengan kakaknya, ikut papanya blusukan ke candi, kaki baret, lalu nyebur sungai. ya, semoga anakku gitu. karena emaknya ga doyan mall, hahaha!

  3. anotherorion said: hehe sakjane acara trans tivi kae inspiratif kang ming yo kuwi andelane wong indonesia ki korban mode banget, jaman wisata kuliner, gawe acara wisata kuliner, idol, idol kabeh, saiki boyoband yo do gawe boyoband akhire acarane mung dadi acara musiman

    lihat permintaan pasar yoh Mas….?

  4. rengganiez said: Iyo sakjane mesakke cah2 kuwi. Jadi inget ponakanku di jkt, waktu ke kampung dolan gone simbahe, heran liat pohon jati yg lebar2 hehehe

    hahaha…. “wong kutho kok gumunan” disana pohon isi nangka ya mBa….

  5. laurentiadewi said: anakku, dijamin ga akan begitu. bakal aku ajak dia blusukan ke candi2, ke air terjun, ke pantai. aku lihat ada anak pelukis terkenal, yang lukisannya dihargai bunyi “m”. biasa saja, pakai sandal biasa, lari kesana kemari, main lumpur dengan kakaknya, ikut papanya blusukan ke candi, kaki baret, lalu nyebur sungai. ya, semoga anakku gitu. karena emaknya ga doyan mall, hahaha!

    setuju…. belajar pada alam, sepakat mBa….. lanjuuutkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s