Pendidikan Ibarat Metamorfosis, Tidak Instan dan Prematur

Di televisi ada sebuah iklan yang menarik bahkan sangat inspiratif menurut saya. Sebuah iklan susu formula, yang menggambrakan seorang anak yang sedang meneliti telur, ulat, kepompong hingga terbang menjadi kupu-kupu. Setiap hari, anak tersebut mengamati dan menggambar, tak peduli sengatan matahari atau hempasan air hujan, dan sang Ibu tersenyum bangga. Tayangan selanjutnya, anak tersebut mempresentasikan pengamatannya dihadapan teman-temannya. Tak ada presentasi oral, atau tulisan berupa jurnal, tetapi hanya potongan gambar fase metamorfosis. Gambar yang sangat sederhana, namun memiliki makna yang luar biasa tanpa harus dijelaskan dengan kata.

Iklan yang memberikan inspirasi, betapa pentingnya mengajarkan anak untuk penasaran, ingin tahu, lalu melihat, mengamati, meneliti, mendokumentasi hingga mempublikasi. Hanya dengan modal kertas dan pensil warna, tiap hari mengamati dan mendokumentasi, hingga akhirnya menjadi publikasi yang utuh. Mungkin jika dijelaskan dengan kata susah dicerna, tetapi lewat gambar mudah diterjemahkan siapa saja. Sangat sederhana bukan, pendekatan dan metode penelitiannya, hanya mengamati dan menggambar.

Cara anak tersebut lantas jangan dibandingkan dengan kita yang duduk di bangku sekolah, perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Kita yang sudah punya bekal lebih tentu saja akan melakukan dengan metode yang baik dan benar, serta telah disepakati. Namun kita bisa belajar dari anak tersebut, bagaimana menciptakan ”rasa dan jiwa” meneliti. Jangan kira anak tersebut tak punya masalah, walau kelihatannya sederhana, tetapi teriknya matahari dan hempasan hujan tetap dilalui dengan wajah cerita. Masalah kita tentu bukan cuaca, tetapi lebih kompleks dan penuh variabel.

Andaikata, generasi kita ditanamkan mentalitas seperti anak tersebut, tentus saja saat ini tidak akan kelimpungan dengan surat dari Dikti tentang publikasi. Jika sejak kecil saja sudah mengamati, meneliti dan mempublikasi, tentu saja kelak akan dengan mudah menjawab permasalahan yang ada. Namun yang terjadi saat ini adalah paranoid, dan pusing tujuh keliling bagi beberapa pribadi. Mengapa demikian?, karena lemahnya mentalitas dalam menjawab persoalan lewat riset dan publikasi. Mungkin sebagian dari kita adalah produk instan dan prematur, yang penting lulus UN, yang penting wisuda, urusan esensi akademis lupakan, karena ijazah sudah ditangan.

Tidak ada kata terlambat, walau kelihatannya berat, tetap harus dibangun bagaimanapun caranya. Perumpamaan bahasa Jawa ”kebo nyusu gudel” bisa menjadi renungan disaat kita harus belajar kepada anak kecil. Tamparan telak dari anak TK yang tak menghiraukan sengatan matahari dan guyuran hujan demi melihat bagaimana kupu-kupu cantik itu dari telur hingga bisa terbang. Buang jauh rasa gengsi, disaat harus belajar dari si kecil, sebab semua berawal dari hal yang sederhana sebelum menuju yang kompleks.

Andaikata waktu bisa diputar sekian puluh tahun kebelakang dan menyadari apa yang terjadi didepan tentu saja akan lain ceritanya. Mungkin tidak hanya metamorfosa kupu-kupu saja, tetapi katak, bahkan kalau perlu metamorfosa manusia. Apa mau dikata, semua sudah lewat tetapi kita belum terlambat. Ciptakan generasi yang penasaran, rasa ingin tahu, mengamati, meneliti dan mempublikasi. Mereka yang tercipta secara instan dan lahir belum waktunya, mungkin hanya berjaya saat masanya, usai itu layaknya skripsi yang ditumpuk di perpustakaan dan foto wisuda yang terdiam di dinding. Berhenti mengolok pemerintah dengan segala kebijakannya yang kadang kontroversial, karena itu tak akan menyelesaikan masalah. Alangkah bijaknya membangun mentalitas diri dan tunjukan kita bisa dan ciptakan generasi yang cerdas sejak dini.

Advertisements

10 thoughts on “Pendidikan Ibarat Metamorfosis, Tidak Instan dan Prematur

  1. siasetia said: ponakanku seneng ngoprek barang elektronik, aku kasihkan buku ipa dari prof Yohanes…tau tuhselanjutnya spt apa?

    iya juga, kemarin nawarin biskuat ke anak SD kelas 6 daerah wujil,tapi pas ditanya, dan berharap ada feedback kok seluruh kelas malah pada mlongo, gak ada yg komentar atau menyela, yang ada cuma diam…jadi pengen tahu gimana gurunya mengajar, apakah pake celurit jadi muridnya pada takut..

  2. dhave29 said: semua sudah lewat tetapi kita belum terlambat. Ciptakan generasi yang penasaran, rasa ingin tahu, mengamati, meneliti dan mempublikasi.

    Pastikan diri sendiri untuk mengerti dan menjalankan dengan penuh kejujuran. Langkah awal adalah langkah penentu untuk seribu langkah. Waktu yang akan mengukir cerita kita…. Siip.

  3. dhave29 said: semua sudah lewat tetapi kita belum terlambat. Ciptakan generasi yang penasaran, rasa ingin tahu, mengamati, meneliti dan mempublikasi.

    Om fai: lapan anam omWah biasa krungu bapake nyusu mamake yaa… Kaya kaki rawins

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s