Budaya Meneliti dan Menulis yang Masih ”Memble”

Akhir-akhir ini dunia pendidikan khususnya Perguruan Tinggi sedang diresahkan oleh surat dari Dikti, berkenaan dengan publikasi karya ilmiah. Alasan klise gara-gara kurangnya publikasi dan tertinggal jauh dari negeri jiran adalah yang melatar belakanginya. Beragam tanggapan baik pro dan kontra bermunculan dalam berbagai wacana. Beberapa teman mahasiswa ada yang duduk lemas, tetapi ada juga yang bersemangat menanggapi positif, tak berbeda jauh dengan staf pengajar. Namun, sedikit lupakan surat edaran tersebut dan biarlah yang pusing mereka yang terkena target kebijakan tersebut.

Sekarang berbicara di aras dasar terlebih dahulu, sebelum menuju puncak kasta akademis. Apabila di ibaratkan gunung, maka Perguruan Tinggi adalah lereng terjal menuju puncak, sedang yang dibawahnya adalah SMA/SMK hingga PAUD. Pertanyaan sekarang, sudah siapkah mereka yang masih terseok-seok menghadapi tuntutan saat duduk di Perguruan tinggi, walau sebelumnya sudah dihadapkan pada Ujian Nasional. Ujian Nasional, bagi mereka yang menjalaninya seolah lobang maut saat waktunya tiba, dan setelah lulus seolah selesai semuanya, tetapi sebenarnya lobang-lobang serupa sudah siap menanti di depan mata.

Hemat saya, yang tak mengeri seluk beluk dunia akademis cuma sederhana ”bekali kemampuan perang sebelum ke medan laga”. Bukan bekal senjata, atau taktik perang menurut saya tetapi lebih ke pola pikir dan kebiasaan. Senjata dan taktik ada dimana-mana, bisa berwujud buku-buku bermutu atau tempat bimbingan belajar, tetapi menciptakan mental prajurit di medan laga sepertinya tak ada yang menjual. Kenapa kita kalah dengan negeri Jiran mengenai publikasi karya ilmiah..?, bukan karena tidak publikasi, tetapi tidak ada bahan yang diteliti untuk publikasi.

Adakah diantara kita memiliki mental dan jiwa meneliti…? lupakan dulu urusan publikas, itu urusan belakangan. Yang ada di benak kita mungkin hanya bagaimana dapat rengking satu, lulus ujian nasional, masuk sekolah favorit, diterima di PTN ternama, lulus kumlot, terus dapat kerja mapan, sukur-sukur ketrima PNS. Tidak usah munafik, karena esensi sekolah dan kuliah, cuma biar kerja mapan dan gaji besar. Realitanya memang demikian, apa boleh buat, sehingga proses pendidikan seolah hanya jalan mengantar menuju mendapatkan kerja dan cari duit.

Nah berbicara, karya ilmiah, penelitian dan publikasi, mungkin hanya milik mereka yang masih memegang teguh idealisme akademis, sisanya ya numpang lewat penting lulus. Hanya berandai-andai saja, bagaimana jika budaya ”habbit” meneliti dan menulis sejak dini ditanam, dipupuk dan dirawat, niscaya berbuah lebih ranum dari negeri tetangga. Saya kira, budaya meneliti, dan publikasi hanya diperoleh saat kuliah, itu saja menjelang skripsi, dimana mata kuliah metode penelitian dan rancangan percobaan usai diberikan. Walaupun di SMA atau SMP sudah ada, itu hanya sebatas kurikulum yang tak jelas juntrungannya ”asal jalan yang penting diberikan”.

Seingat saya waktu SMP pernah buat penelitian, dan hasilnya cukup diatas kertas lalu guru yang numpuk tanpa ada kesempatan ditempel di mading sebagai publikasi. Masih untung saat SMA, hasil riset dipublikasikan, walau hanya didepan teman-teman sekelas. Menginjak kuliah sedikit lebih baik, walau hanya didengar teman-teman se fakultas lalu berakhir dalam bendel skripsi dan numpuk di lemari dosen dan rak perpustakaan. Ibarat habis berkelahi, ”yang sudah ya sudah”, lalu lupa begitu saja apa yang dulu dilakukan mati-matian agar lulus.

Modal perang kita apa?, walau senjata dan taktik ada, tetapi mental meneiliti dan publikasi masih memble. Jangankan pelajar atau mahasiswa, dosen juga demikian. Dosen, suruh meneliti? kayaknya mikir sekian kali, karena beban mengajar yang padat serta upah yang belum layak menjadi pertimbangannya. Bagaimana fokus meneliti, jika kesejahteraan saja ibara puasa senin kamus. Saat otak fokus di riset, tiba-tiba pindah ke anak yang minta uang sekolah, dan istri melaporkan stok beras habis. Andaikata kesejateraan guru, dosen diperhatikan, mungkin fokus mereka di dunia pendidikan jauh lebih tajam. Tidak ada lagi guru yang nyambi ngobyek jualan LKS, dosen ikut-ikutan proyek hingga menelantarkan anak bimbingan skripsinya. Mahalnya sekolah gara-gara otonomi sekolah dan komersialisasi pendidikan, menambah runyam. Anggaran pendidikan, BOS, dan dana-dana lain yang bocor, dikemplang, dikorupsi menjadi juga penyakit.

Hemat saya, perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya, perhatikan sarana dan prasarana pendidikan, berikut kesempatan semua orang dalam mendapatkan pendidikan dengan layak. Tugas pemerintah untuk merealisasikan semua itu, jangan hanya mikir kursi yang rusak, toilet yang mampet, tetapi pikirkan juga calon-calon pengganti kalian. Pahlawan tanda jasa memang tak butuh jasa, tetapi mereka butuh kesejahteraan. Anak bangsa tak butuh janji-janji muluk, tetapi realita dan tindakan nyata. Salah jika menuntut tanpa memberikan hak-hak yang harus dipenuhi. Menciptakan generasi bangsa tidak hanya dari pendidikan, tetapi sejahterakan mereka baik dari kesehatan, rasa aman dan nyaman, serta kehidupan yang mapan, niscaya kita bisa lebih dari negeri Jiran.

Advertisements

30 thoughts on “Budaya Meneliti dan Menulis yang Masih ”Memble”

  1. dhave29 said: Hemat saya, perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya

    klo alasannya kesejahteraan mulu ga juga mas dhave, coba arahkan minatnya dan fasilitasi, wong yang gelarnya banyak pun tulisannya dikit padahal tunjangan dah banyak….hedonisme materialistis, wani piro?!

  2. dhave29 said: Hemat saya, perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya

    Jiran di sini maksudnya Malaysia kah? Sebagai tukang lap petronas yang luamayan profesional ngelap2 hahahaha… di Malaysia saya menemukan sebuah buku disertasi dari salah seorang dosen Unibraw. Diterbitkan di sebuah penerbit kenamaan Malaysia. Waktu Pesta Buku, saya bertemu langsung dengan penulisnya. Saya ngobrol dikit2 n nanya, kenapa bukunya justru diterbitkan di Malaysia, bukan di Indonesia? Jawabane, karena di Indonesia susah prosedurnya n banyak penerbit yang menolaknya… terus, bukunya sendiri di Malaysia jadi best seller, dijual dengan harga murah, padahal bukunya tebel. Baru 3 bulan udah cetak ulang.Owh ya, waktu ketemu langsung dengan penulisnya saya diajak photo bareng (hahahaha.. kebalik, baru kali ini ada penulis yang minta foto dengan pembacanya. Biasanya kan pembaca yang ingin foto bareng πŸ˜€ *lagian tahun 2009 belon punya kamerah :(Nah, majikan saya juga pernah beli, tuh, buku hasil disertasi dari salah seorang dosen di Indonesia yang juga terbit di Indonesia. Mak’oei, tebalnya, bisa buat bantalan n saya yakin harganya mahal. kalau dah gitu, siapa yang mau beli coba? Komen saya nyambung gak sih?#ah, yang penting komen *kata Kang Rawins

  3. dhave29 said: perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya, perhatikan sarana dan prasarana pendidikan, berikut kesempatan semua orang dalam mendapatkan pendidikan dengan layak.

    Yang sekarang dituntut malah kesejahteraan bagi para “pemimpin” dan para “wakil rakyat”!

  4. dhave29 said: perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya, perhatikan sarana dan prasarana pendidikan, berikut kesempatan semua orang dalam mendapatkan pendidikan dengan layak.

    menurutku minat ybs juga berpengaruh…. banyak kok yg ga tertarik meneliti wong dapat tugas administrasi saja pada empot2an…hehehhehe

  5. dhave29 said: perbaiki kesejahteraan pengajar agar mereka fokus akan tuagsnya, perhatikan sarana dan prasarana pendidikan, berikut kesempatan semua orang dalam mendapatkan pendidikan dengan layak.

    mending nonton artis tipi sing ayu2 sih kang lah, priwen maning jal

  6. rawins said: terlalu jauh kalo sampe menelitinulis wae do wegah kok…opo meneh moco#sing penting komen..

    haha,,,, minimal ada budaya nulis kan… coba yen gak nulis gak bakalan komentar toh….?

  7. siasetia said: klo alasannya kesejahteraan mulu ga juga mas dhave, coba arahkan minatnya dan fasilitasi, wong yang gelarnya banyak pun tulisannya dikit padahal tunjangan dah banyak….hedonisme materialistis, wani piro?!

    sejahtera lahir dan batin…. kalo masih kurang pecat sajah hahaha….yah kalo orang udah nalar, mapan dan cerdas, niscaya hedonisme matrealistis bisa sedikit disisihkan, kalo masih tetep ya wani pirooo..?

  8. anazkia said: Jiran di sini maksudnya Malaysia kah? Sebagai tukang lap petronas yang luamayan profesional ngelap2 hahahaha… di Malaysia saya menemukan sebuah buku disertasi dari salah seorang dosen Unibraw. Diterbitkan di sebuah penerbit kenamaan Malaysia. Waktu Pesta Buku, saya bertemu langsung dengan penulisnya. Saya ngobrol dikit2 n nanya, kenapa bukunya justru diterbitkan di Malaysia, bukan di Indonesia? Jawabane, karena di Indonesia susah prosedurnya n banyak penerbit yang menolaknya… terus, bukunya sendiri di Malaysia jadi best seller, dijual dengan harga murah, padahal bukunya tebel. Baru 3 bulan udah cetak ulang.Owh ya, waktu ketemu langsung dengan penulisnya saya diajak photo bareng (hahahaha.. kebalik, baru kali ini ada penulis yang minta foto dengan pembacanya. Biasanya kan pembaca yang ingin foto bareng πŸ˜€ *lagian tahun 2009 belon punya kamerah :(Nah, majikan saya juga pernah beli, tuh, buku hasil disertasi dari salah seorang dosen di Indonesia yang juga terbit di Indonesia. Mak’oei, tebalnya, bisa buat bantalan n saya yakin harganya mahal. kalau dah gitu, siapa yang mau beli coba? Komen saya nyambung gak sih?#ah, yang penting komen *kata Kang Rawins

    Yups.. banyak anak bangsa yang sukses dan besar di negeri tetangga, karena mereka lebih di apresiasi dari setiap karyanya. Di negeri kita, orang-orang yang memang unggul kadang malah diberangus… nyata kok,,,,

  9. widsumowijoyo said: menurutku minat ybs juga berpengaruh…. banyak kok yg ga tertarik meneliti wong dapat tugas administrasi saja pada empot2an…hehehhehe

    nah perlunya dibangun karakter dan mentalitas sedini mungkin,,,, yen wis tuek..ya tunggu saatnya sajah heheh dan rasakan empot2annya

  10. anotherorion said: mending nonton artis tipi sing ayu2 sih kang lah, priwen maning jal

    kalau sekarang anak2 ABG SMP SMA lagi pada gandrung film korea, dan sinetron juga tentunya, ngerjain tugas juga paling sistem fotocopy dan nyonto (pengalaman)kalau meneliti itu kan biasaya ada yg bikin kita tertarik, banyak juga ABG yang meneliti gebetannya dengan semangat, dan para perjaka uzur bakalan semangat meneliti calon istrinya…jadi pengen meneliti yang bikin menarik hati, owhhhh gadis berkuncir kudaanyambung gak sih?#yangpentingkomen #melumelu

  11. slamsr said: kalau sekarang anak2 ABG SMP SMA lagi pada gandrung film korea, dan sinetron juga tentunya, ngerjain tugas juga paling sistem fotocopy dan nyonto (pengalaman)kalau meneliti itu kan biasaya ada yg bikin kita tertarik, banyak juga ABG yang meneliti gebetannya dengan semangat, dan para perjaka uzur bakalan semangat meneliti calon istrinya…jadi pengen meneliti yang bikin menarik hati, owhhhh gadis berkuncir kudaanyambung gak sih?#yangpentingkomen #melumelu

    hemmmm…. ilmiah juga Mas, asal dengan pendekatan dan metode yang benar.. jangan lupa di publikasikan… jadi orang lain kecipratan ilmu dah hasilnya”walah omong apa toh aku iki”

  12. slamsr said: kalau sekarang anak2 ABG SMP SMA lagi pada gandrung film korea, dan sinetron juga tentunya, ngerjain tugas juga paling sistem fotocopy dan nyonto (pengalaman)kalau meneliti itu kan biasaya ada yg bikin kita tertarik, banyak juga ABG yang meneliti gebetannya dengan semangat, dan para perjaka uzur bakalan semangat meneliti calon istrinya…jadi pengen meneliti yang bikin menarik hati, owhhhh gadis berkuncir kudaanyambung gak sih?#yangpentingkomen #melumelu

    nek tak delok neng kampus dosen do penelitian ki ben entuk duit seko dana2 penelitian, trus kadang sik neliti asline mahasiswane dekne sik mbimbing tapi akhire direproduksi ulang nganggo jenenge dewe

  13. slamsr said: kalau sekarang anak2 ABG SMP SMA lagi pada gandrung film korea, dan sinetron juga tentunya, ngerjain tugas juga paling sistem fotocopy dan nyonto (pengalaman)kalau meneliti itu kan biasaya ada yg bikin kita tertarik, banyak juga ABG yang meneliti gebetannya dengan semangat, dan para perjaka uzur bakalan semangat meneliti calon istrinya…jadi pengen meneliti yang bikin menarik hati, owhhhh gadis berkuncir kudaanyambung gak sih?#yangpentingkomen #melumelu

    Hust aja banter2 mas, aku udah pengalaman yang getuan. Dapetnya recehan alias kerja bakti.

  14. slamsr said: kalau sekarang anak2 ABG SMP SMA lagi pada gandrung film korea, dan sinetron juga tentunya, ngerjain tugas juga paling sistem fotocopy dan nyonto (pengalaman)kalau meneliti itu kan biasaya ada yg bikin kita tertarik, banyak juga ABG yang meneliti gebetannya dengan semangat, dan para perjaka uzur bakalan semangat meneliti calon istrinya…jadi pengen meneliti yang bikin menarik hati, owhhhh gadis berkuncir kudaanyambung gak sih?#yangpentingkomen #melumelu

    πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s