Bahasa Ibu yang Dicemari

Bahasa, salah satu media komunikasi baik secara verbal dan non verbal. Bahasa tercipta seiring peradaban budaya manusia sesuai dengan latar belakangnya masing-masing. Penyebaran populasi manusia menyebabkan perbedaan geografis, budaya sampai ke dalam bentuk bahasa. Jika ditelusur, Indonesia berasal dari nenek moyang yang sama, dan persebaran perpindahan nenek moyang yang kemudian terisolir karena faktor alam maka terbentuklah sekat-sekat budaya, dan salah satunya bahasa. Ratusan bahkan lebih, bahasa lokal Indonesia, namun sumpah pemuda telah menyatukan bahasa tersebut.

Bahasa lokal adalah warisan nenek moyang yang diturun temurun diajarkan. Sebuah warisan budaya yang luar biasa hebatnya, dan tak terbayang bagaimana leluhur kita membuat kosakata demi kosakata hingga menjadi kalimat utuh dan bisa dipahami semua. Realitanya saat ini, semakin banyak bahasa lokal yang terancam punah, karena yang menguasai hanya merak yang sudah tua dan generasi muda sepertinya enggan untuk belajar. Sangat disayangkan sekali jika sampai musnah, tetapi apa mau dikata itulah roda jaman yang terus berputar dan menggilas apa saja yang tak bisa menghindar.

Mungkin anda yang bisa berbahasa daerah/lokal, walau belepotan dan tak sempurna saya salud sekali. Setidaknya masih ada yang mengerti dan memahami bahasa nenek moyangnya. Tentu akan sangat bangga bisa menguasai salah satu bahasa, disaat orang lain tak memahami. Sebuah nilai tambah bagi kita yang bisa menguasai terlebih lagi disaat dibutuhkan.

Pertanyaan yang muncul, apakah bahasa memiliki kasta?, saya kalo boleh menjawab ”iya”. Mungkin gengsi anda akan naik saat bisa menguasai bahasa Jerman atau Inggris daripada bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya. Alasannya karena pengakuan dari dunia, bahasa apa yang familiar dan menjadi bahasa resmi internasional, sehingga yang terpilih menduduki kasta tertinggi, walau secara makna atau kekayaan kosakata bahasa daerah tak kalah. Lupakan dulu kasta bahasa, sekarang kembali kebahasa daerah masing-masing.

Menguasai bahasa adalah sebuah kebanggaan, sehingga ada rasa memiliki yang cukup kuat, terkebih mereka yang benar-benar mendalami. Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris. Satu alasan yang mungkin muncul adalah ”biar kelihatan lebih berkelas dengan menambah kosakata dengan bahasa yang lebih tinggi kastanya”. Lihat saja artis Cinta Laura, bahasa gado-gado separo Indonesia setengahnya bahasa Bule, mungkin dia lahir disana dan artis, jadi maklum adanya. Nah bagaimana dengan orang-orang pinter dan pejabat negeri kita yang kadang terlalu menggunakan bahasa asing?, seharusnya memberi contoh malah ikut-ikutan mba Laura. Mungkin Bule juga jengkel jika bahasanya dicampur dengan bahasa kita.

Mungkin dengan mencampur kosakata memang lebih keren kedengarannya, namun menurut saya itu menunjukan kebodohan karena tak menguasai sepenuhnya dan gengsi dikatakan ”ndeso”. Siapa berani bilang unggah, unduh, laman, lebih gaul dan keren aplot, donlot, website bukan..?. Kasihan mereka yang sudah-susah menyusun kosakata agar tidak terlalu banyak menyerap bahasa luar, dan siap-siap hilang kosakata; sahih, sangkil, dsb. Memang akan terkesan kaku, tidak luwes jika menggunakan EYD, namun itu yang bener, tetapi tetap kembali lagi ke realita bahasa ”yang penting saling memahami”.

Mungkin saja warisan dan doktrin penjajah, mereka yang bule dengan bahasa bule memiliki derajat budaya&bahasa lebih tinggi, lebih cantik dan ganteng, lebih cerdas dan lebih dari segala-galanya. Jika ditilik kebelakang, kita sebenarnya juga memilik sejarah yang sama dengan mereka, tetapi roda jaman menggilas kita-kita yang tak mampu bersaing. Tapi tetap disyukuri masih bisa menikmati warisan leluhur, bali dipaksa untuk belajar bahasa dengan kasta yang lebih tinggi. Intinya semua bahasa itu sama, karena memiliki fungsi komunikasi yang membedakan hanyalah seberapa banyak yang memakainya. Jangan cemari bahasa kita….

Advertisements

39 thoughts on “Bahasa Ibu yang Dicemari

  1. dhave29 said: Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

    Agree banget. Campur-aduking language menapa kemawon eta mah very disturbing to those ingkang midangetaken.

  2. dhave29 said: Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

    Bahasa ibu tercemar, karena ibu-ibu suka mandi ritual di pembuangan limbah hehehehehe

  3. dhave29 said: Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

    Sudah kuduga komen master edwin bakal gini :))

  4. dhave29 said: Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

    Saya juga jengkel degan orang Surabaya yang bicara pake bahasa campur, misalnya begini :”ntik lu pigi naek apa?” yang artinya “Nanti kamu pergi naik apa?’

  5. dhave29 said: Nah bagaimana saat bahasa itu dicideria dengan cemaran-cemaran bahasa asing yang semestinya tidak dicampur adukan. Bagi saya pribadi, sangat risih jika ada orang birbicara dengan bahasa jawa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia. Atau bahasa Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

    Gak usah jauh-jauh.Liat aja para pejabat di TV.Selalu pake perkataan “kita”, meski maksudnya “kami”.Ada juga yang ngomong: “suatu perkiraan-perkiraan” dsb.Otaknya disimpen di mana ya?

  6. bambangpriantono said: Tergantung juga ke komunitas mana kita berada, sama seperti bahasa Jawa sendiri, kan sudah code-switch dengan bahasa Indonesia.

    nah itu Cak….nda lucu kan, ketoprak yang pakai bahasa jawa tiba-tiba tercampur bahasa Indonesia.gak nyaman nah tugas anda pak dosen buat shiratal mustaqim hehhehe

  7. johaneskris said: Saya juga jengkel degan orang Surabaya yang bicara pake bahasa campur, misalnya begini :”ntik lu pigi naek apa?” yang artinya “Nanti kamu pergi naik apa?’

    wahahaha….kasih aja “djumpooot lahir neng pasar turi ae bosone aneh..eling cuk..jablokanmu rujak cingur”

  8. johaneskris said: Saya juga jengkel degan orang Surabaya yang bicara pake bahasa campur, misalnya begini :”ntik lu pigi naek apa?” yang artinya “Nanti kamu pergi naik apa?’

    ganti pakai bahasa ngapak wae…lebih egaliter…

  9. mmamir38 said: Gak usah jauh-jauh.Liat aja para pejabat di TV.Selalu pake perkataan “kita”, meski maksudnya “kami”.Ada juga yang ngomong: “suatu perkiraan-perkiraan” dsb.Otaknya disimpen di mana ya?

    iya Om… apalagi pak BeYe yang banyak pakai bahasa asing, susah dengar dan tafsirnya. apa sengaja biar rakyat gak paham dan angguk-angguk kepala tanda setuju walau pusing kepala.Otak masih disimpen di kepala, tapi kadang ditaruh di sekitar meniskus hehehhehe

  10. rawins said: ganti pakai bahasa ngapak wae…lebih egaliter…

    ketemu maning karo kaki Rawins….kepriben anak simboke pada sehat….”yups ngapak lebih merakyat, tanpa sekat dan humanis”gak kebanyang dialek ngapak jadi dialek nasional…. wah bakalan Indonesia tertawa……

  11. mmamir38 said: Jadi gak boleh maen sepakbola dong. Gitu dengkul ketendang bisa geger otak.

    tepatnya getu Om…. kalo sampe cidera meniskus lagi bisa hilang ingatan, amnesia kan cilaka, lupa kasus korupsinya.

  12. mmamir38 said: Jadi gak boleh maen sepakbola dong. Gitu dengkul ketendang bisa geger otak.

    Tapi kadang bahasa jadi ukuran pinter tidaknya seseoraang, padahal gak juga…buktinya kalo ada ajang putri indonesia, yang jawab pake bahasa asing dinilai lebih, bukan karena isi jawabannya.

  13. rengganiez said: Tapi kadang bahasa jadi ukuran pinter tidaknya seseoraang, padahal gak juga…buktinya kalo ada ajang putri indonesia, yang jawab pake bahasa asing dinilai lebih, bukan karena isi jawabannya.

    ini ibuk bahasa dah komen hehhehehe πŸ˜›

  14. rengganiez said: Tapi kadang bahasa jadi ukuran pinter tidaknya seseoraang, padahal gak juga…buktinya kalo ada ajang putri indonesia, yang jawab pake bahasa asing dinilai lebih, bukan karena isi jawabannya.

    hehehe aku jg mo posting soal bahasa *ngomonge mulai campur aduk rak karuan*

  15. bambangpriantono said: Bahasa ibu tercemar, karena ibu-ibu suka mandi ritual di pembuangan limbah hehehehehe

    Kadang, di suatu keadaan, bahasa dicampur/diwujudkan lain agar terasa lebih sopan, tanpa mengurangi makna tentunya…*itu alasan orang yang bisanya bahasa ngoko, trus dicampur indonesia indonesia gitu. heheee!!

  16. rengganiez said: Tapi kadang bahasa jadi ukuran pinter tidaknya seseoraang, padahal gak juga…buktinya kalo ada ajang putri indonesia, yang jawab pake bahasa asing dinilai lebih, bukan karena isi jawabannya.

    kalo miss indonesia saya kira pinter nomer sekian dah… yang penting ayu dulu hehhehekan sudah ada kisi-kisi soal dan jawaban bisa di apalin plus cari di google dengan sedikit berfilsafat dengan kalimat ngambang biar gak di tanya macem-macem, takut keliatan dudulnya

  17. daniartana said: Kadang, di suatu keadaan, bahasa dicampur/diwujudkan lain agar terasa lebih sopan, tanpa mengurangi makna tentunya…*itu alasan orang yang bisanya bahasa ngoko, trus dicampur indonesia indonesia gitu. heheee!!

    kalo dalam konteks pergaulan memang kadang begitu mas…. kalo sudah resmi sepertinya kurang pas…tetep lihat sikon juga yah…

  18. chris13jkt said: Masalahnya, di sekolah para guru bahasa sendiri belum tentu mempergunakan bahasa yang diajarkannya dengan benar.

    Guru yang kadang ndak bener Om…tanpa mengurangi rasa hormat, banyak dikampung saya guru gaul. Bahasa jawa medok, indonesia pas-pasan dan inggris babar plotas, kalo ngomong campur aduk. Ngga sadar muridnya dengar bisa ketawa sendiri, Ya maklum….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s