Dunia Maya yang Sulit Dipercaya

Suatu ketika di ruangan dosen untuk melakukan ritual mahasiswa ”bimbingan” atas apa yang sedang dipelajari. Draft tulisan dibaca dosen dengan kacamata yang hampir melorot dan sudah diujung hidung. Hembusan nafas panjang ditarik dengan cepat dan keluar secara pelan sambil kepala kekiri kananan dengan mata melotot dilembaran kertas A4. Hanya satu kalimat yang terucap ”saya tidak mau sumber dari internet, cari pustaka diperpustakaan dan ulangi, sekarang silahkan keluar”. Dari peristiwa tersebut, ada tanda tanya mengapa sumber internet tidak boleh, bukankah tak ada beda buku dan laman secara isi, dan hanya media saja yang beda.

Mungkin hanya beberapa pengajar saja yang melampu ijokan anak didiknya untuk salin tempel artikel diinternet dan dipindah kemesin pengolah kata. Namun, masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya. Coba darimana melacak siapa penulis lamannya jika isinya salah, nah kalo buku datangin saja penerbit atau penulisnya, jelaskan..?.

Masuk akal juga dari sisi pertanggungjawaban dan kredibilitasnya, namun memang tak boleh mempercayai sepenuhnya pada dunia maya. Jangankan dunia maya, dunia nyata saja kadang tidak bisa dipercaya. Jadi ingat kejadian kematin, tentang Xenia Maut di taman tani, Jakarta yang merenggut 9 korban jiwa. Dibeberapa situs dunia maya banyak sekali yang mengomentari, terutama yang memaki pengemudi mobil tersebut. Berlomba-lomba mencari identitas pengemudinya, yang punya akun ”kicau”. Buka status-status akun penabrak lalu membuat penafsiran sendiri-sendiri sesuai sudut pandangnya masing-masing. Ada yang mengatakan dan memvonis ”pengemudi teler” karena habis nyeri pinggang kebanyakan dugen atau apalah. Seolah status menjadi refrensi yang bersangkutan sebagai acuan untuk justifikasi.

Lihat saja akun-akun selebriti atau politikus, yang saban hari berkicau atau up date status. Apa yang ditulisnya lantas diterjemahkan pengikutnya atau mereka yang menjadi teman dan pengintip yang tak jelas orangnya. 140 karakter, kalau tidak salah bisa disimpulkan bahkan menjadi inspirasi mereka yang kurang kerjaan untuk dijadikan sumber pemberitaan. Aneh memang hanya beberapa kata saja menjadi berparagraf-paragraf tulisan, layaknya sumber inspirasi, padahal itu mungkin sebatas bualan belaka.

Pertanyaan sekarang ”mana ada orang jujur di dunia maya”, jangankan jujur, mengisi data diri saja ngawur. Bahkan menulis namanya saja kadang tak jelas, begitu juga dengan foto wajah, karena saya juga demikian. Lantas dari ketidak jujuran tersebut apakah sudah bisa dijadikan refrensi pemberitaan?. Mungkin ketidakjujuran dalam identitas berkaitan dengan privasi dan keamanan, nah bagaimana dengan publik figur yang sudah dikenal?. Tanpa mereka memalsukan nama atau foto, orang juga tahu siapa dia yang dulu sudah dikenalnya.

Layakah dunia maya menjadi refrensi, apalagi berkaitan dengan status seseorang?. Dikembalikan lagi kepada empunya akun, dan seberapa kredibilitasnya. Mungkin bagi ABG boleh dan sah-sah saja ngawur dan ngegombal diakunnya, nah bagaimana dengan mereka yang sekarang disorot publik ”sekali ngawur didunia maya bakalan cilaka”. Status multitafsir dan bebas diterjemahkan acapkali menjadi bumerang, walau itu status sebatas iseng dan guyonan. Memang dunia maya serba abu-abu, bisa dipercaya dan banyak yang ngawur adanya. Sisi ilmiah saya kira harus berkiblat pada primbon-primbon diperpustakaan, dan ranah berita ”dari berbagai sumber” yang bisa dipercaya tentunya termasuk dunia maya. Ungkapan rasa terhadap dunia maya dari kacamata berbeda.

salam

DhaVe

32 thoughts on “Dunia Maya yang Sulit Dipercaya

  1. dhave29 said: Lihat saja akun-akun selebriti atau politikus, yang saban hari berkicau atau up date status. Apa yang ditulisnya lantas diterjemahkan pengikutnya atau mereka yang menjadi teman dan pengintip yang tak jelas orangnya. 140 karakter, kalau tidak salah bisa disimpulkan bahkan menjadi inspirasi mereka yang kurang kerjaan untuk dijadikan sumber pemberitaan. Aneh memang hanya beberapa kata saja menjadi berparagraf-paragraf tulisan, layaknya sumber inspirasi, padahal itu mungkin sebatas bualan belaka.

    ini baru dibikin kode etiknya tuh ama dewan pers…ini juga jadi bahan perdebatan alot. Apalg ketika seorang pembuat berita main copas di wall milik politikus tanpa konfirmasi. Sudah bener2 dianggap pencurian berita tanpa proses klarifikasi terlebih dahulu..

  2. dhave29 said: Lihat saja akun-akun selebriti atau politikus, yang saban hari berkicau atau up date status. Apa yang ditulisnya lantas diterjemahkan pengikutnya atau mereka yang menjadi teman dan pengintip yang tak jelas orangnya. 140 karakter, kalau tidak salah bisa disimpulkan bahkan menjadi inspirasi mereka yang kurang kerjaan untuk dijadikan sumber pemberitaan. Aneh memang hanya beberapa kata saja menjadi berparagraf-paragraf tulisan, layaknya sumber inspirasi, padahal itu mungkin sebatas bualan belaka.

    lha po meneh abegeh nek nulis jenenge angel diwoco

  3. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    beralasan juga, untuk melatih sikap ilmiah kita mungkin.

  4. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    Postingan menarik.Tak selamanya yg ‘nyata’ itu maya, dan tak selamanya yg ‘maya’ itu nyata kan?So far, Ebook masih bisa jadi acuan, meskipun tak boleh berhenti di situ. Yg penting kerajinan kita dalam memverivikasi sumber, menganalisa informasi,dan tak henti mengadakan komparasi data. Itu pertanggungjawaban yg masih bisa diterima. Mau buku perpus ataupun buku internet.

  5. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    MENARIK!!!jadi jangan percaya kalo penampakan saya mirip seperti profile picture yang lagi dipake ini yah *nyengir*, haha๐Ÿ™‚

  6. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    jadi inget dosen pembimbing 2 waktu ngeliat aku nulis laporan PKL (praktik kerja lapangan), kata beliau ntar skripsi nya gak boleh dari media internet karena dasar teori ku kebanyakan wikipedia.. khekhekheee, tapi dari PDF yg di dunlud dari internet katanya boleh, trutama yang di file nya jelas siapa si penulis๐Ÿ˜€

  7. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    There’s an old saying regarding this matter: “In the internet, no one knows you’re a dog.”

  8. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    @ll; ralat bukan taman tani, tapi Tugu Tani…. makasih…..๐Ÿ˜€

  9. dhave29 said: masih saja yang bersikukuh ”gunakan buku pustaka yang jelas sumbernya”. Walaupun ini laman dan buku sama, pertanggungjawabannya berbeda, kata dosen saya.

    mending ngapusi kok omaku selalu berusaha jujur mengatakan diriku ganteng saja ga pernah ada yang percaya

  10. rawins said: mending ngapusi kok omaku selalu berusaha jujur mengatakan diriku ganteng saja ga pernah ada yang percaya

    Jadi inget film ‘surrogates’, disaat banyak hal sudah dibawah kendali kepraktisan elektronik, semuapun menjadi palsu…Semangat untuk bimbinganya Om Dhave!!๐Ÿ˜€

  11. rengganiez said: ini baru dibikin kode etiknya tuh ama dewan pers…ini juga jadi bahan perdebatan alot. Apalg ketika seorang pembuat berita main copas di wall milik politikus tanpa konfirmasi. Sudah bener2 dianggap pencurian berita tanpa proses klarifikasi terlebih dahulu..

    kejar setoran kali mba “haram-haram ya qolu”

  12. martoart said: Postingan menarik.Tak selamanya yg ‘nyata’ itu maya, dan tak selamanya yg ‘maya’ itu nyata kan?So far, Ebook masih bisa jadi acuan, meskipun tak boleh berhenti di situ. Yg penting kerajinan kita dalam memverivikasi sumber, menganalisa informasi,dan tak henti mengadakan komparasi data. Itu pertanggungjawaban yg masih bisa diterima. Mau buku perpus ataupun buku internet.

    asal semuanya jelas dan bisa dipertanggung jawabkan kebernarnya… bukan begitu?

  13. rawins said: mending ngapusi kok omaku selalu berusaha jujur mengatakan diriku ganteng saja ga pernah ada yang percaya

    hahaha..sepakat,,,, jujur bisa ajur… makane aku mau bilang… dirimu ngganteng wae

  14. daniartana said: Jadi inget film ‘surrogates’, disaat banyak hal sudah dibawah kendali kepraktisan elektronik, semuapun menjadi palsu…Semangat untuk bimbinganya Om Dhave!!๐Ÿ˜€

    wahaha…iya….makasih mas…makasih….hajar teruuus

  15. dhave29 said: ada tanda tanya mengapa sumber internet tidak boleh, bukankah tak ada beda buku dan laman secara isi, dan hanya media saja yang beda.

    In the case of Wikipedia, it’s rather hard to decide whether to accept the data or not. I mean, everybody can actually edit it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s