Esemka, kiranya tak Jadi Derita Bangsa

Heboh mobil buatas siswa SMK semakin meluas dan menjadi trend pembicaraan otomotif hingga politik. Diawali keputusan Walikota Solo mengganti mobil dinasnya dengan Esemka, walau harus ngandang kembali karena beberapa persyaratan yang belum terpenuhi. Nada serupa juga terjadi dengan Bupati Karanganyar, Ketua DPR RI hingga ahli telematika Roy Suryo juga sudah memesan Esemka. Masyarakat tak mau ketinggalan melewatkan momment tersebut untuk memesan mobil Esemka. Mobil yang dibanderol dibawah 100 juta, menarik pihak pemerintah dan masyarakat sebagai alat transportasinya.

Sungguh apresiasi yang positif bagi industri otomotif dalam negeri, terlebih siswa-siswa SMK sebagai produsennya. Saat ini seolah mata tertuju pada mobil buatan pelajar tersebut, karena adanya dukungan dari beberapa pejabat tinggi negeri ini yang mengapresiasi. Bak gayung bersambut, seolah jajaran plat merah akan segera berpindah pada mobil karya anak bangsa. Tidak menutup kemungkinan plat hitam dan kuning juga akan ikut menyemarakan, entah plat hijau ikut atau tidak…?.

Melihat pasar otomotif dalam negeri, sepertinya Indonesia adalah pasar prospektif untuk industri otomotif. Bentang alam yang luas dan mbilitas menuntut penyediaan sarana transportasi yang mencukupi. Dengan kisaran harga dibawah 100 juta, sepertinya sebagian besar rakyat Indonesia mampu untuk membeli, walau harus tutup lobang gali sumur alias kredit. Jangankan mobil dibawah 100juta, diatas harga tersebut saja terbeli, entah bagaimana caranya yang penting punya. Lupakan urusan membayar dan nanti digunakan untuk apa, yang penting ada, walau keluar saat kondangan saja. Sifat konsumtif, prestis dan masalah status sosial seakan menjadi faktor pendukung industri otomotif tersebut.

Hanya berandai-andai saja, katakanlah mobil Esemka jadi diproduksi masal, kemungkinan harga akan semakin murah dan terjangkau. Bilamana mobil tersebut dibeli oleh guru-guru SMA, SMP, SD, SMK siapakah sekolahan menyediakan lahan parkir. Andaikata pejabat negeri ini berduyun-duyun membeli produk dalam negeri maka semakin padat saja parkiran perkantoran, belum lagi mobil dinasnya. Masyarakat juga tak mau kalah, bahkan bisa membeli lebih dari satu, siapakah jalan-jalan dinegeri ini untuk menampung roda 4 yang semakin murah dan melimpah. Lihat saja daya dukung jalan kita sudah penuh dengan mobil yang tak murah, nah bagaimana jika ada mobil murah.?. Sungguh tak terbayangkan konsekwensi logis dampak dari industri otomotif yang murah meriah dan terjangkau.

Dari segi ekonomi, mungkin akan sangat menguntungkan karena kemajuan bidang industri. Dari prestis dan gengsi negara jelas terangkat, karena mampu berdiri diatas mobil buatan sendiri. Terlebih dari sisi nasionalisme, dengan perwujudan cinta produksi Indonesia. Pakah terpikir dampak lingkungan dengan pencemaran, daya dukung jalan, ketersediaan bahan bakar, kesemrawutan jalanan, pelanggaran lalulintas hingga kecelakaan. Masih banyak dampak yang harus terpikirkan jika industri otomotif ini tak terkendalikan nantinya.

Pertanyaan kritis muncul, dengan memesan mobil dinas buat pejabat? apa tidak menambah anggaran dan mau dikemanakan mobil yang sudah ada?. Bolehlah untuk menambah armada, bukan berarti mengada-ada, jangan-jangan jadi lahan baru untuk proyek korupsi. Banyak kepentingan bermunculan dari wacana Esemka, dari mulai merakyat, cinta produk dalam negeri, pertumbuhan industri otomotif, cari muka, dan masih banyak lagi yang lain. Setidaknya harus dipikirkan juga, apa dampak yang nantinya timbul dari mobilisasi produk dalam negeri. Bijak dalam menyikapi tentunya lebih baik daripada terbawa kondisi yang belum jelas arah dan tujuannya. Setidaknya SMK sudah menyediakan alternatif pilihan buat bangsa ini lewat karya nyata anak bangsa, dan tidak ingin produk buatan mereka memperpuruk kondisi ibu pertiwi. Bagimana jika pejabat naik plat kuning, ojek atau angkutan umum lainya, lebih merakyat, murah meriah dan sekali-kali merasakan derita kecopetan dan melihat lebih dekat derita rakyat.

14 thoughts on “Esemka, kiranya tak Jadi Derita Bangsa

  1. dhave29 said: Setidaknya harus dipikirkan juga, apa dampak yang nantinya timbul dari mobilisasi produk dalam negeri.

    kayaknya latah beberapa pejabat yang mau cari muka jelang 2014.. :)padahal coba dipikirkan juga untuk dipasarkan di luar negeri, ya..

  2. dhave29 said: Setidaknya harus dipikirkan juga, apa dampak yang nantinya timbul dari mobilisasi produk dalam negeri.

    susah kalo apa apa dah dibawa ke politikrame rame pesen juga kadang bukan beneran pengin dukungtapi justru lagi cari dukungan biar dianggap peduliwah kacaw indonesia raya…semoga beneran maju deh anak anak kita..

  3. rawins said: susah kalo apa apa dah dibawa ke politikrame rame pesen juga kadang bukan beneran pengin dukungtapi justru lagi cari dukungan biar dianggap peduliwah kacaw indonesia raya…semoga beneran maju deh anak anak kita..

    Nah itu maslahnya Mas…. ada udang dibalik glepung… semoga benar dan tulus mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s