Pak Guru Mantan Bajingan

Nasib seseorang memang tak ada yang menduga, bisa saja semua terbalik gara-gara bumi ini bulat. Semua bisa berubah seiring wakti, begitu juga dengan faktor-faktor pendukungnya. Ada yang bernasib apes, ada yang untung, tetapi jika factor luck dikatakan penentunya, tidak juga karena keberuntungan adalah perpaduan kesempatan dan kecakapan dalam memanfaatkan. Kata orang Jawa ”wolak-walik ing jaman” semua serba terbalik dan seolah tak berjalan sesuai dengan iramanya, namun itulah warna-warni kehidupan.

Pagi yang cerah, sambil menikmati udara pagi, tanpa sadar hanya saya yang masih menikmati liburan. Suara klakson motor terdengar dari belakang, sesosok manusia menghampiri dibalik helm full face-nya. Ah ternyata teman sekolah SMP dulu, yang sekarang sudah mengenakan pakaian safari dan tas jinjing. Ternyata dia sudah jadi pak Guru, terkejut sekaligus tak percaya dia menjadi pendidik. Bukan masalah melihat kenyataan sekarang, tetapi jika melihat beberapa tahun kebelakang sungguh mengerikan. SMP tinggal kelas sekali, seharusnya kakak kelas menjadi teman sebangku. Nakal, bengal dan kurang ajar, sayapun sampai muak dibuatnya. Masuk SMA tak jelas sekolah atau tidak sama saja, pamit sekolah ternyata cuma nangkring diwarung, untung beda sekolahan walau sama-sama nongkrongnya. Saat masuk kuliah lebih tak jelas lagi, bahkan lebih parah sebelumnya. Rokok, miras, perempuan sudah menjadi agenda rutin, bahkan narkoba mungkin jadi jajanannya sesehari. 6 tahun bersyukur tidak ketemu, namun pagi ini akhirnya bertemu juga, namun dengan 180 derajat sepertinya.

Cerita mulai mengalir tentang perubahan kebejatannya hingga sekarang berubah menjadi Guru SD kelas 3. Luka-luka bekas sayatan gara-gara narkoba murahan masih nampak membekas, walau samar, tatoo gambar angsa atau naga sudah tidak jelas, seiring bekas luka yang tertoreh. Mata merah yang dulu saban hari selalu melotot mencari pinjaman duit dengan mulut bau alkohol dan rokok, kini sudah bersinar dengan mulut berbusa memberi petuah. Berawal disaat teman perempuannya hamil dan terpaksa menikah lalu selang 3 bulan keluar si jabang bayi yang telah menyadarkannya. Sisa kuliah dengan jatah 7 tahun dikebut dalam 1,5 tahun demi gelar sarjana dengan IPK pas mepet.

Karir kerja diawali saat ikut bapaknya yang Kepala Sekolah menjadi guru bantu. Dari pengalaman kebejatan, cerita pahit masa lalu acapkali menjadi bahan perenungan dan menginspirasi dalam mengajar, dan berharap kelak tak mengikuti jejak masa lalu gurunya. Kini sudah diangkat menjadi pegawai tetap di yayasan tempat dirinya mengajar, sekaligus menggantikan peran bapaknya yang pensiun. Dalam benaknya, banyak penyesalan, mengapa berubah setelah semua terjadi, andai dulu tak hancur mungkin tak ada perbaikan dan sekarang lebih hancur.

Cerita ringan ini mengingatkan pada kisah beberapa tahun yang lalu dan nyaris bertolak belakang. Teman yang di sekolah terkenal sangat religius, ibadah tak pernah telat, aktivis keagamaan, idola para cewek religius juga, kebanggaan guru-guru, panutan sesama teman, kini harus meringkuk di bui. Kepercayaan yang diberikan pihak sekolah disalah gunakan, kunci ruangan-ruangan digunakan untuk menggasak apa saja yang bisa diamankan. Sosok religius itu kini menjadi orang misterius karena tak ada yang tahu, hanya beberapa saja yang mendengar desas-desus dia kena kasus. Akhirnya berakhir dilembaga pemasyarakatan, dan mungkin disana ia bisa mengamalkan ajaran agamanya untuk berdakwah.

Wolak-walik ing Jaman, nasib seseorang yang berubah, bukan masalah jaman tetapi kemauan pribadi. Bajingan kelas tempe saja berubah gara-gara ada malaikat kecil buah hubungan terlarang, dan srigala berwajah rasul gara-gara melihat gemerlapnya dunia. Semua berubah, dan yang menentukan nasib yang diri sendiri. Tuhan tak pernah menakdirkan, tetapi hanya menggariskan kehidupan, dan manusia iti sendiri yang membawa garis tersebut mau lurus, bengkok, atau putus-putus. Semua di tangan kita ”sana pergi muridmu menunggu…”.

8 thoughts on “Pak Guru Mantan Bajingan

  1. m4s0k3 said: pertanyaannya adalah: mending pernah bandel atau pernah baik? heherenungan yang mantap. makasih, mas🙂

    bahan cerita pas mudik ya mirip2 kayak gini..dulu si A gini, sekarang gitu..dulu B parah banget, sekarang alim banget..banyak kisah yang berubah

  2. rengganiez said: bahan cerita pas mudik ya mirip2 kayak gini..dulu si A gini, sekarang gitu..dulu B parah banget, sekarang alim banget..banyak kisah yang berubah

    yah wolak-walik ing jaman mBa..bumi itu bunder…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s