Petani Takdir Kemiskinan

Petani, selalu identik dengan kemiskinan, melarat dan ekonomi lemah. Stigma negatif ini seolah selalu menghantui dan menjadi mimpi-mimpi buruk yang selalu menjadi kenyataan. Mungkin hanya sedikit petani yang sukses dan menjadi kaya, tetapi selebihnya selalu mengisi peran kaum miskin dalam sandiwara kehidupan. Jika dicermati, sebanarnya petani memiliki jalan untuk menjadi kaya atau terangkat kehidupannya, namun posisilah yang tetap menahan petani pada level kemiskinan.

Petani, seolah rerumputan dalam piramida makanan yang tidak punya daya membela diri, bertahan atau setidaknya posisi tawar yang baik bagi para level diatasnya. Level diatas petani adalah mereka yang memanfaatkan barang dan jasa dari petani, bisa tuan tanah, juragan, tengkulak atau bahkan konsumen dari produk pertanian. Contoh sederhana yang membuat petani tetap bertahan dipiramida terbawah adalah saat kita membeli langsung dari petani. Katakanlah saat musim durian, harga durian dipasaran perkilo 10ribu, tetapi dari petani bisa 5ribu. Sangat sederhana, tetapi petani tidak bisa berbuat apa-apa daripada duriannya busuk tidak laku.

Lain kasus dengan para ”penebas” atau tengkulak yang membeli hasil pertanian dengan sistem ijon. Contoh ijon atau tebas, membeli 1 pohon durian saat berbunga atau berbuah saat masih kecil. Dengan jam terbang yang tinggi, penebas bisa menaksir kira-kira berapa harga 1 pohon durian lalu mengajukan penawaran paling rendah. Setelah sepakat, uang muka dibayar dan setelah panen usai baru dilunasi. Petani seolah tak punya posisi tawar, karena tidak bisa memasarkan, tidak bisa mengetahu harga pasar dan memang membutuhkan uang karena sudah tidak ada pilihan.

Hidup ditengah keluarga petani, tidak asing lagi dengan sistem ijon atau tebas. Pohon alpukat disamping rumah, dilego 300ribu saja saat menunjukan buah-buah yang masih kecil. Baru saja, tengkulak datang lalu panen alpukat, hampir 3 karung penuh berisi alpukat-alpukat ukuran besar. Iseng-iseng tanya berapa harga perkarung, ”sekitar 400-500ribu”, katkanlah perkarung 400 ribu maka 1,2juta ditangan, belum lagi buah yang belum dipetik. Hampir 4 kali lipat dari harga sebenarnya, perbedaan yang sangat signifikan. Jadi teringat pertama kali menanam alpukat 20 tahun yang lalu, dan kini sudah menghasilkan buah-buah yang istimewa, namun sayang jatuh ditangan orang yang salah.

Jika mentalitas pembeli yang tak berpihak pada petani dan menekankan pada prinsip ekonomi untuk mengejar keuntungan belaka, maka terjadilah ketimpangan. Pohon alpukat yang seharusnya memberi imbal hasil 1 juta lebih kepada empunya, namun hanya 1/3nya saja, sedangkan sisanya milik pedagang. Memang petani tidak ditakdirkan untuk kaya sepertinya, tetapi pedagang dengan segala cara kelicikan, keculasan, ketamakan, keserakahan telah merenggut hak-hak yang seharusnya milik petani. Mereka yang menumbuhkan kembangkan tanaman hanya mendapat porsi yang sedikit daripada mereka yang memutar uang untuk mencari keuntungan.

Ketidakperpihakan pelaku ekonomi kepada petani semakin menekan kehidupan laskar cangkul dan sabit. Semua sektor pendukung pertanian, dari pupuk, bibit, obat-obatan hingga pemasaran sudah ditangan kaum kapitalis, sedang petani hanyalah mesin-mesin bernyata yang diberangus untuk menjadi kaya. Kelompok tani yang seharusnya melindungi petani, seolah hanyalah paguyuban orang-orang bernasib sama karena dipermainkan sistem oleh mereka yang dilevel atas. Koperasi, seolah berdiri menjadi monopoli hasil pertanian, dengan dalih menstabilkan harga, ternyata ada udang dibalik batu. ”Tidak bisa menjual XXX jika tidak lewat koperasi” andai kata lewat koperasi harganya rendah, mau tidak mau daripada membusuk.

Ini hanyalah keluh kesah menjadi anak petani melihat realita yang ada. Solusi yang bijak mungkin menjadi petani-petani yang cerdas dan mandiri. Katakanlah dari mulai pengolahan tanah dengan memakai pupuk buatan sendiri, lalu mengelola hasil pertanian dengan cara sendiri atau lebih ekstrimnya proteksi sebagai tameng untuk meningkatkan posisi tawar. Jika petani bersatu satu visi dan misi, kaum-kaum kapitalis bisa dilempar menjadi pupuk. Namun, itu ide hanyalah sebuah imajinasi belaka, karena petani tidak memiliki pemikiran dan takdir yang sama. Kesimpulan terakhir adalah ”mas alpukat pohon sebelahnya saya belu 1 juta”, ”ah maaf pak kalau tidak 4 juta ndak saya kasih, atau biar rontok dan dimakan burung”, ”1,5 juta mas…”, ”4 juta ya 4 juta..! atau rontok”, ”naik dah 1,7 juta”, ”4juta atau gigimu yang rontok oleh cangkulku ?”.

6 thoughts on “Petani Takdir Kemiskinan

  1. Menarik sharingnya, Petani selalu menerima resiko dari semua harga di pasaran dan kebanyakan rugi jika dibandingkan dgn usaha mereka dalam waktu menanamnya.Lebih banyak pengeluaran dari pada pemasukan.Monopoli bisnis semakin menigkat di tanah air, membeli dgn harga murah dan menjual dgn harga yg mahal.Kadang petani kalau kehabisan bibit, untuk mendapatkan bibit yg baru dia harus membeli dgn harga yg mahal dari para calo/castumernya. Kalau sistim Tebas juga harus menerima resiko dari keadaan alam yg selalu berubah.

  2. rudal2008 said: Menarik sharingnya, Petani selalu menerima resiko dari semua harga di pasaran dan kebanyakan rugi jika dibandingkan dgn usaha mereka dalam waktu menanamnya.Lebih banyak pengeluaran dari pada pemasukan.Monopoli bisnis semakin menigkat di tanah air, membeli dgn harga murah dan menjual dgn harga yg mahal.Kadang petani kalau kehabisan bibit, untuk mendapatkan bibit yg baru dia harus membeli dgn harga yg mahal dari para calo/castumernya. Kalau sistim Tebas juga harus menerima resiko dari keadaan alam yg selalu berubah.

    Betol Om… realitaini sangat memprihatinkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s