Buah Lokal, Serasa di Negeri Orang

Indonesia adalah negara megabiodiversitas untuk flora dan fauna. Posisi yang strategis ditepat katulistiwa dan berdasar sejarah, sebagian adalah pecahan dari benua Australi. Sebagai negara dengan tingkat keragaman yang tinggi, ibarat kekayaan yang tidak bisa diukur. Flora atau tumbuh-tumbuhan adalah yang tertinggi keragamannya begitu juga dengan jumlahnya. Lebih spesifik lagi tentang bebuahan asli Indonesia, yang sangat tinggi keragamannya. Tak terhitung lagi banyaknya jenis buah, dari penjuru tanah air. Namun menjadi ironis, mengapa bangsa kita seolah tak mau peduli dengan buah lokal dan lebih memilih buah mancanegara. Sebuah ancaman bagi diversitas buah lokal disaat buah impor semakin tak terkendali dipasaran.

Bersyukurlah kita sudah menjadi remaja sekitar 20 tahun yang lalu, atau kita yang tinggal didesa yang sedikit terpencil. Sesuatu yang disyukuri karena bisa menikmati buah aseli tanah air. Apakah ada yang masih ingat buat Duwet (EUGENIA CUMINI), buah yang berwarna ungu kemerahan, dengan rasa sepat manis?. Mungkin saat ini sudah sangat jarang ditemui, tetapi dibeberapa kampung masih cukup melihmpah. Dahulu buah ini sangat populer, bentuknya yang mirip anggur dan bisa membuat lidah berwarna ungu membuat anak-anak senang. Buah yang dipercayai sebagai obat Diabetes Militus kini banyak dicari seiring banyaknya penderita penyakit tersebut. Potensi lain buah Duwet adalah sebagai sumber antioksidan dari kandungan betakaroten, antosianin dan betalanin dari warna-warna yang dimilikinya. Buah potensial sebagai obat dan pewarna alami, sekarang sangat susah mendapatkannya, karena tidak mampu bersaing dipasaran.

Hilangnya buah-buah eksotik, seiring tergusurnya buah-buah lokal. Masyarakat sekarang enggan makan buah lokal, dan memilih buah luar negeri apalagi yang berlabel Bangkok. Jika semua sudah berlabel Bangkok, sudah dijamin buah yang berkwalitas. Thailand memang surganya buah, pemuliaan tanaman ada disana baik dengan perkawinan silang atau dengan GMO ”Genetic Modified Organism”. Buah hasil rekayasa para pemulia tanaman, menghasilkan buah-buah yang unggul, rasa lebih enak, ukuran lebih besar, tahan penyakit, berbuah lebih cepat dan keunggulan lainya yang mampu mendepak buah lokal.

Buah lokal dengan beragam potensinya seolah tak bisa berkutik dari buah-buahan pendatang. Belum lagi usai dengan yang berbau Bangkok, muncul buah Made In China dengan keunggulan harga yang lebih murah dan kwalitas yang tak jauh beda dengan Bangkok. Pasar yang berbicara, maka pilihan segera pindah mana yang lebih menguntungkan, murah meriah, enak dan dapat banyak. Buah lokal makin terdesak dipasaran dan seolah tak lagi menunjukan eksistensinya sebagai penduduk aseli, jika mereka bisa bicara pasti akan berkata ”seolah hidup dinegara orang”.

Panca Indera, terutama Lidah memang tak bisa bohong berkaitan dengan rasa, buah impor memang jauh memiliki nilai tambah dibanding buah lokal. Selain rasa dan harga, mengkonsumsi buah impor juga meningkatkan gengsi. Masak orang kaya makan Jambu Klutuk ”jambu biji”, enakan Jambu Bangkok, atau enakan Durian Montong daripada durian biasa yang bijinya gede daging buahnya tipis. Ditengah-tengah himpitan produk asing, dimana kekuatan buah-buah lokal?. Banyak petani yang mengganti tanaman lokal dengan menebang lalu mengganti dengan buah manca yang lebih unggul. Memang segi kwalitas dan kwantitas buah lokal ada level dibawah, namun jika ditilik dari sejarah dan plasma nuftahnya buah lokal adalah kekayaan yang tidak ternilai. Buah lokal sudah ada jauh sebelum buah pendatang ini hadir, singga lebih tahan banting dengan kondisi lingkungan tropis, dan belum tersentuh teknologi rekayasa genetika.

Mangga, durian, jambu dan beragam bebuahan boleh berlabel Bangkok atau didatangkan dari China, namun buah aseli Indonesia juga tetap harus dilestarikan apapun keadaannya. Jangan sampai suatu saat kita ingin menikmati Ciplukan harus pergi ke Belanda yang memiliki taman Botany dan koleksi tanaman tropis yang besar. Sebenarnya potensi buah lokal tak kalah denga buah-buah impor, tetapi pasar telah merubah stigma masyarakat bahwa yang lebih besar, yang manis, enak, murah itu yang baik dan ada dibuah asing, padahal hasil rekayasa Genetika ”GMO”. Sebagai wujud cinta tanah air yang katanya punya slogan ”cintailah produk-produk dalam negeri” buktikan tetap bangga dengan apa yang negeri ini miliki. Kekayaan bukan dihitung dengan ukuran lebih besar, manis, enak, murah, tetapi dari keberagamannya. Durian boleh montong, tetapi Indonesia punya durian Petruk, Sumatra, Kali Bawang, Dasa Muka dan varietas-varietas dari beragam daerah, jika itu dimuliakan maka menjadi unggul dinegeri sendiri. Lestarikan juga buah-buah yang kini semakin langka, kelak anak cucu kita biar bisa menikmati dengan makan langsung, bukan melihat dimuseum.

14 thoughts on “Buah Lokal, Serasa di Negeri Orang

  1. laurentiadewi said: Hebatnya tulisanmu itu, ada bau ilmiah yang disampaikan dengan ringan, jadi ga berasa baca jurnal, walau pemilihan katanya cukup EYD, haha

    ehehe…. sebagian dari “transfer knowledge” kepada sesama dengan latar belakang berbeda…makasih mBa….

  2. asasayang said: aq kangen duwet ma ceplukan

    buah lokal emang lebih mahal mas, tetapi untuk buah duwet di gunungpati masi ada banyak, didepan rumah dan di sawah maisih ada, yang jarang sekarang malah buah murbei.. dan apa itu buah ciplukan *beda jebolan*

  3. asasayang said: aq kangen duwet ma ceplukan

    yg lokal yg lebih joss malah dikalahkan buah import yg kadang cuman penampilan thok yg menarikjeruk lokal lebih berair dan manis ketimbang jerukyg rupanya oranye menyala itu dengan packing yah wah

  4. slamsr said: buah lokal emang lebih mahal mas, tetapi untuk buah duwet di gunungpati masi ada banyak, didepan rumah dan di sawah maisih ada, yang jarang sekarang malah buah murbei.. dan apa itu buah ciplukan *beda jebolan*

    mahal,,,, adalah harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang layak diapresiasi,,,,wah panen duwet undang saya mas…. ciplukan,,,, tanya mbah gugel dah hehehe :p

  5. rembulanku said: yg lokal yg lebih joss malah dikalahkan buah import yg kadang cuman penampilan thok yg menarikjeruk lokal lebih berair dan manis ketimbang jerukyg rupanya oranye menyala itu dengan packing yah wah

    BMW…. bodi mengalahkan wuisinya…. mba…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s