Pasaran ABG Prematur

Bayi normalnya lahir pada usia kandungan 9 bulan 10 hari, itu menurut teorinya. Apabila kurang dari waktu tersebut, bisa dikatakan bayi lahir belum pada waktunya, alias prematur. Angka 9 bulan 10 hari, seolah sudah menjadi konsensus dan diterima sebagai standar, padahal ada yang lahir duluan atau bahkan lewat. Berbagai konsekwensi bermunculan disaat waktu yang dijadikan patokan itu tidak terpenuhi secara sempurna, tetapi kembali ke individu masing-masing. Nah berbicara bayi, cukup sampai disini, sekarang membicarakan pertumbuhan prematur, alias belum waktunya.

Bisa dikatakan masa petumbuhan prematur, karena belum waktunya sudah ada difase tersebut. Tidak usah membicarakan teknis fisiologi manusia, karena akan sangat kompleks, tetapi analogi dari sebuah realita sosial yang sangat memprihatinkan. Katakanlah remaja-remaja atau ABG saat ini seolah produk-produk karbitan dengan hasil prematur, walau tidak semuanya demikian. Jika dibandingkan dengan jaman-jaman 10 atau 20 tahun kebelakang ada perbedaan yang nyata. Entah itu terkait langsung dengan fisiologis ”gizi, hormon”, psikologis, lingkungan atau budaya modernisasi.

ABG jaman sekarang sudah berani blak-blakan didepan umum tanpa ragu, tanpa malu seolah memamerkan sesuatu. Anak seumuran SMP, SMA layaknya saya waktu duduk di bangku SD kelas 1 atau 2. Jam kecil saya, ada yang namanya ”pasaran” sebuah permainan yang pura-pura menjadi ayah, ibu, anak lalu main masak-masakan. Memainkan perannya sendiri beserta aktivitasnya, dengan memanggil ayah, ibu, nak. Selesai ”pasaran” kembali menjadi pribadi masing-masing, tetapi ABG saat ini main ”pasarannya” beneran.

Pasaran bagi ABG sekarang tidak hanya main-main tetapi betulan. Jika melihat survey, yang mengatakan 90% sudah tidak perawan, atau 50% sudah pernah ML apa tidak mengejutkan. Bedanya, saya hanya bermain ”pasaran” sedang ”pasaran” ABG kali ini benar-benar sudah pasaran, karena fenomena ini merata dibeberapa kota besar. Tidak usah melongok jauh-jauh ke area privat mereka, lihat saja ABG yang sedang kasmaran di kafe, mall atau taman-taman kota. Tak ubahnya mereka sedang main ”pasaran” seperti memanggil pasangannya dengan sebutan ”ayah, bunda, papa, mama”. Jika di tilik, hubungan mereka hanyalah pacaran, tetapi dengan ekspresi seolah sudah menjadi pasangan suami istri. Entah apakah akan berlanjut ke pelaminan, atau hanya sekedar ”Surti Tejo” kata groub band Jamrud.

Entah siapa yang mengajarkan ABG yang main ”pasaran” beneran, tetapi pasti ada yang mereka tiru. Perkembangan dunia hiburan, baik dari media masa atau tempat-tempat umum ”mall, taman kota” ikut memberikan andil. Pergaulan yang tak terkendali, seolah memberikan kebebasan buat mereka untuk ”pasaran”. Situs jejaring sosila tak kalah menjadi media curahan ekspresi mereka untuk saling mengumbar kemesraan didunia maya, belum lagi di dalam ponsel mereka, dijamin lebih ”semriwing” dan hot.

Tidak bisa dihindari dan dipungkiri, remaja-remaja prematur ini memang sedang mencari jati diri dengan beragam ekspresinya. Mungkin waktu mereka kecil tidak ada kesempatan main ”pasaran” bersama teman-teman sebayanya, sehingga dilampiaskan saat mereka tumbuh besar dengan cara yang salah. Rasa malu, sungkan, takut tak dihiraukan lagi, karena gelora amsara masa remaja. Tidak heran, jika banyak remaja yang hamil, aborsi, bahkan ada yang nikah tanpa ada restu orang tua. Suatu saat saya pernah memergoki ABG SMP yang sedang ”pangkon” si cowok memangku cewek dibalik semak-semak. Mereka bukannya pergi malah ganti posisi membelakangi saya, sehingga saya yang sungkan harus mengambil langkah mundur. Pertama saya heran, tetapi seiring waktu menjadi fenomena yang biasa saja. Lihat saja di tempat-tempat wisata, katakanlah pantai, air terjun, hutan kota yang ada semak-semak privat, semua bebas tanpa ”tedeng aling-aling”.

Kata orang tua ”pipis saja belum lempeng sudah pacaran” justru dengan pacaran ”melempengkan jalan pipis” sahut anak muda. Dimana peranan orang tua, pemuka agama, pendidik dan pihak-pihak terkait. Hotel-hotel melati begitu mudahnya diakses dengan harga pelajar, pengelola wisata seolah bersimbiosis mutualisme, yang penting semua senang. Sebenarnya tidak ada yang dirugikan, dari ABG prematur tersebut, namun dampak akan muncul disaat norma itu ternodai oleh perbuatan kelewat batas. Hamil, aborsi, ketangkap pihak berwajib, pemerkosaan, pelecehan, eksploitasi, penjualan ABG dan lain sebagainya adalah konsekwensi yang harus dihadapi. Nah jika dampak negatif tersebut terjadi, saling tuding bermunculan mencari kambing hitam. Perut sudah membuncit, sekolah kacau, masa depan tidak jelas, keluarga malu, mungkin kata terakhir adalah sesal.

Paling manjur, mungkin menanamkan rasa malu, harga diri dan logika kepada ABG efek dari permainan ”pasaran”. Memberikan solusi kegiatan positif, dengan tetap memberikan kesempatan untuk berekspresi dengan cara yang benar dan sesuai tatanan norma. Tidak ada yang melarang untuk mengungkapkan perasaan dengan beragam ekspresi, namun jika tempat dan waktunya benar akan terasa indah. Jadi ABG layaknya bermain ”pasaran” sesuai dengan umurnya, jangan sampai kelewatan, atau resiko ditanggung penumpang. Peran semua pihak untuk mendampingi ”pasaran” agar tidak kelewatan dengan tetap memberikan kebebasan yang bertanggung jawab.

14 thoughts on “Pasaran ABG Prematur

  1. rembulanku said: nyawang ABG pasaran mung isa mlongo thok

    Mbaca artikel nya om dhave.. Aku brasa tambah tua e… Dulu, pas jaman aku, masih SMP aja masih suka maen tanah.. Eh skrg, pacaran kalah mesra sama mbak2nya yg udah berumur.. Masya allaaaaahhh.. Ckckckck *geleng2*

  2. mahasiswidudul said: Mbaca artikel nya om dhave.. Aku brasa tambah tua e… Dulu, pas jaman aku, masih SMP aja masih suka maen tanah.. Eh skrg, pacaran kalah mesra sama mbak2nya yg udah berumur.. Masya allaaaaahhh.. Ckckckck *geleng2*

    baguslah kalo sudah asdar hehehe…..sudah tua ya…

  3. siasetia said: mas dhave lagi di mall ya? liat para ABG? mo kenalan po?

    Jawa Pos hari ini:Anak SMP (bukan SMA) 56% pacaran dengan berpelukan, meraba, berciuman dan 14% koresponden sudah melakukan hubungan sexual secara aktif (ada yang hanya berhenti kalo si cewe menstruasi), lokasi mereka melakukan: di kamar mandi (sekolah / cafe!), dsb. Kata penelitinya: kalo SMP udah gini, gimana yang SMA.Dan aku mikirnya: laaah, kalah ama anak SMP…… *peace*, hahahahaha!!!

  4. laurentiadewi said: Jawa Pos hari ini:Anak SMP (bukan SMA) 56% pacaran dengan berpelukan, meraba, berciuman dan 14% koresponden sudah melakukan hubungan sexual secara aktif (ada yang hanya berhenti kalo si cewe menstruasi), lokasi mereka melakukan: di kamar mandi (sekolah / cafe!), dsb. Kata penelitinya: kalo SMP udah gini, gimana yang SMA.Dan aku mikirnya: laaah, kalah ama anak SMP…… *peace*, hahahahaha!!!

    hahaha…..SMA pasti sudah mahir dan Mahasiswa sudah beranak 4 hahaha”geleng-geleng saja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s