Menulis dan Membaca, Masuk dalam Daftar Sembako

Menulis, siapa saja bisa melakukan asal tidak buta aksara dan angka. Di media apapun bisa melukan kegiatan yang berkenaan dengan huruf dan angka. Sejak jaman nenek moyang kita dahulu sudah mulai menulis, walau hanya dalam bentuk simbol-simbol yang pada akhirnya disepakati bentuk aksara yang universal, walau tetap saja ada tulisan sesui dengan budaya setempat. Menjadi kendala sekarang, semua orang bisa menulis tetapi enggan, ada juga yang hobi nulis namun enggan membagikannya, dan akhirnya biasa membagikannya namun enggan membaca tulisan orang lain.

Berkembangnya teknologi, semakin memudahkan orang untuk menulis, membagi hingga membaca tulisan orang. Katakanlah lewat media internet, melalui blog orang bisa nulis sambil jongkok ditoilet lalu mengunggah hasil inspirasinya dalam blog pribadinya. Dari bertapa di toilet, orang juga bisa membaca tulisan seseorang, dan betapa mudahnya fasilitas tersebut. Menulis memang hobi yang tidak bisa dipaksakan, kecuali saat ujian yang mau tidak mau harus menulis.

Menulis kata orang adalah bakat, memang ada benarnya juga, namun tak semunya bisa dibenarkan begitu saja. Bisa karena bisa, lewat latihan yang rutin, banyak membaca, banyak bergaul dengan sesama sahabat mesin ketik maka bisa menjadi penulis yang berbakat. Menulis ibarat mencurahkan karakter dan kepribadian seseorang dalam bentuk huruf dan angka yang terangkai menjadi kata dalam untaian kalimat. Mungkin seorang psikikolog akan susah menilai seseorang berdasar tulisan tangan, karena orang jarang nulis dikertas, sekarang kebanyakan nulis diatas key board. Mungkin lewat kalimat, paragraf, diksi dan alur bisa diketahu orang macam apa yang menulis, tanpa harus narsis.

Dari sekian banyak pengguna media tulis ”ponsel, komputer, komputer jinjing, ipad dsb” yang bisa terhubung dengan internet, tidak banyak yang mengapresiasi tarian penannya dalam bentuk tulisan. Beragam alasan muncul, tidak bisa nulis ”emang buta huruf”, malas nulis ”seolah pekerjaan berat”, malu nulis ”seperti wajahnya keliatan kalo kurang ganteng”, atau tidak ada ide ”emang sebelumnya punya ide”. Beragam alasan muncul dan menjadi hambatan orang untuk menulis. Mungkin jika mereka yang hobir berbalas pesan singkat, bbm-an kalau dikumpulkan tulisannya dari pagi hingga malam bisa menjadi satu prosa utuh, tinggal disunting sana-sini.

Menulis ibarat bercerita, berkhayal, nggombal, bermain, bertualangan atau apalah, tetapi dalam format tulisan yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk kalimat yang utuh dan saling terkait. Memang semua butuh proses dan tidak serta merta bisa menulis dengan baik. Latihan dan banyak belajar dari tulisan orang, akan sangat membantu proses tersebut. Tentu saja, nulis tidak asal nulis dan percumah kalau tulisan hanya untuk catatan pribadi, maka bagikanlah agar mencapat apresiasi banyak orang. Beragam media sudah menyediakan menu untuk menampung cecoretan kita, baik dari jejaring pertemanan, blog, atau laman milik penerbit media digital.

Menulis di dunia maya ibarat karma, semakin banyak kita membaca dan mengapresiasi karya orang, maka karya kita juga demikian. Walau acapkali menjadi ”silent reader” tanpa meninggalkan jejak, setidaknya sudah mengapresiasi karya orang. Menjalin pertemanan yang positif dan sehat menjadi pendukung, karena merekalah yang akan mengkonsumsi karya-karya kita, siapa lagi kalau bukan mereka?. Mengharapkan orang nyasar yang klik di google, jangan berharap mesin pencari tersebut mengarahkan ke kita ”anda sedang tidak beruntung”.

Menulis yang menjadi gaya hidup, membuat orang akan terus berpikir dan mengasah otak. Sebelum menggombal lewat tulisan, tentu saja harus mencari inspirasi ”brain storming” lalu merangkai dan siap untuk dieksekusi. Bagi mereka yang biasa menulis dan sehari saja tidak memengang mesin ketik, seolah ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ide-ide yang sudah diubun-ubun sangat meriasaukannya karena tidak ada pelampiasan, dan jika dibiarkan bisa menjadi penyakit dan membuat tersiksa dan otak menjadi tumpul. Kurang afdol jika ditangan kita ada ponsel pintar yang bisa untuk menulis namun tidak digunakan, betapa kasihannya teknologi yang tercipta tersebut. Menulis, membaca jadikan gaya hidup untuk terus mengasah otak, menjadikan kita cerdas dan tetap menjadi bijak dalam bersikap. Ibarat sembako ”sebelas bahan pokok” dan menjadi menu wajib untuk menulisa dan membaca.

6 thoughts on “Menulis dan Membaca, Masuk dalam Daftar Sembako

  1. Menarik nih…..Aku banyak memiliki cerita pengalaman hidup, tapi sayang aku tidak pandai untuk menulisnya, pertama karena takut salah tulis dan yg lainnya tdk bisa menyusun kata-kata dan kalimat yg bagus.Thanks ya Mas.

  2. rudal2008 said: Menarik nih…..Aku banyak memiliki cerita pengalaman hidup, tapi sayang aku tidak pandai untuk menulisnya, pertama karena takut salah tulis dan yg lainnya tdk bisa menyusun kata-kata dan kalimat yg bagus.Thanks ya Mas.

    hajar saja Om…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s