Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Tanya Keluar Uang

Ada pepatah mengatakan ”malu bertanya sesat di jalan”, sebuah pesan agar tidak gengsi bertanya jika memang tidak tahu. Namun, bagaimana jika ”banyak bertanya, memalukan” atau ”bertanya kelihatan bodohnya”. Saat ini sepertinya, malu bertanya sesat dijalan, sebab banyak tanya malah tersesat dijalan. Coba saja iseng, saat jalan-jalan di ibu kota kita yang konon orangnya sudah acuh tak acuh. Katakanlah kita tanya tempat atau lokasi tertentu, jawaban menyayat hati yang harus diterima ”ngapa lu tanya gue.. noh…sono noh kalo mau tanya…” nunjuk pos polisi. Mungkin jika anda bertanya di desa saya, bukan jawaban yang didapat, tetapi mungkin malah diantar sampai dilokasi yang kita tuju.

Rasa trauma itu bertambah saat bertandang ke ibu kota. Saat itu tiba di salah satu terminal yang terkenal akan preman-premannya, makan sikap santun dan tenang mungkin bisa jadi solusinya. Muter kesana kemari, tak ketemu juga bisa yang akan mengantar saya ke tujuan. Akhirnya bertanya pada seorang bapak-bapak, dan gayung bersambut, akhirnya dijawab sekaligus diantar menuju bus yang saya maksut. AKhirnya ketemu juga dengan busnya, lalu ucapan terimakasih kulayangkan dengan senyuman, tapi apa daya saat kaki melangkah masuk pintu bus, tangan ditarik bapak tersebut. Tak kira mau ngajak salaman, ternyata minta uang lelah dan rokok. Dengan santai saya jawab ”maaf pak saya gak lelah, lagian muter nie terminal 5 putara juga gak capek, karena saya mau naik gunung, lagian saya juga gak merokok”. Tapi apa boleh buat, 5000perak melayang juga, dan kesimpulannya malu bertanya sesat dijalan, banyak tanya keluar uang.

Berbeda jauh saat dilokasi yang saya tuju, yakni sebuah air terjun yang konon jarang dikunjungi orang. Air terjun yang terletak di lereng gunung yang mungkin susah dijangkau, sehingga tidak banyak dikunjungi orang. Dengan bantuan GPS dan peta, kaki ini melangkah dijalan setapak yang biasa digunakan penduduk mencari kayu. Ditengah jalan, ketemu dengan salah satu pemuda kampung lantas ditanya ”mau kemana, dengan siapa dll”, dan saya jawab apa adanya. Lantas dia menawarkan diri untuk mengantar saya ke lokasi. Dalam hati, ditarik bayaran juga gak masalah, daripada ilang di hutan gunung. Akhirnya sampai juga di lokasi yang ternyata cukup jauh juga. Singkat cerita akhirnya pulang dan masih bersama pemuda kampung tersebut. Saat masuk di kampung, tangan ini di tarik ”terlintas kejadian diterminal”, namun tiba-tiba sirna ”mari mas mampir dulu dirumah saya, kita minum dulu”. Akhirnya sampai disebuah rumah sederhana dan disambut ramah oleh tuan rumahnya, tak berapa lama keluar minuman teh panas yang cocok dengan hawa pegunungan. Saya kira bertandang ini sudah cukup, dan saatnya pulang, lagi-lagi tangan ini di tarik, rasa curiga muncul kembali, namun sirna begitu ”mas mari makan dulu seadanya”. Perut kenyang, badan hangat dan masih diberi buah-buahan khas sana sebagai bekal dijalan, bahkan tawaran menginap dan diantar sampai dijalan raya harus saya tolak, karena lebih dari cukup bahkan lebih saya telah mendapatkan segalanya.

Dalam perjalanan pulang terpikir, ”gak bakalan lagi tanya-tanya bahkan diantar orang saat diterminal” dan ”pasti aku bakalan minta antar teman digunung dan suatu saat harus menginap dirumahnya”. Wajah mencurigakan begitu terlihat diwajah-wajah manusia-manusia lapar dibawah sana yang semuanya serba uang, namun wajah ketulusan begitu terpancar dari orang-orang kampung yang penuh dengan keiklasan. Namun, telor-telor ayam dengan warna dan ukuran yang sama, begitu lepas 21 hari menetas akan mengasilkan bulu ayam yang berbeda, begitu juga dengan manusia yang jauh lebih beragam.Memang malu bertanya sesat dijalan, banyak tanya harus keluar uang.

35 thoughts on “Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Tanya Keluar Uang

  1. Jadi pengen tinggal di desa, jadi inget juga MasDhave pernah nulis orang desa dan orang kota yang rumahnya mewah serta sederhana.Terlepas dari komentar di atas, kali ini saya mau protes dan NESU πŸ˜€ siapa yang akhir bulan mau hunting enggak ngajak2 saya?

  2. anazkia said: Jadi pengen tinggal di desa, jadi inget juga MasDhave pernah nulis orang desa dan orang kota yang rumahnya mewah serta sederhana.Terlepas dari komentar di atas, kali ini saya mau protes dan NESU πŸ˜€ siapa yang akhir bulan mau hunting enggak ngajak2 saya?

    desa Petronas,,,,,hehehhehehe :pwah…wah….sapa nie yang mbocorin yah…. njawil juragane gethuk apa yang lagi megang ember di tamas sari…..?

  3. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    hahaha,,,,,,lumayan mas,,,,,”air terjun kono kui….” sambil nunjuk 3 bukit….lemes mas…..lemeees……lemeees….suer dah…. “kono kui…” yang bikin lemes….

  4. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    Di kota kita memang harus pinter2 melihat situasi, kepada siapa kita harus bertanya, waspada dan selalu siap menghadapi kemungkinan itu yang harus kita miliki, salaman salamun selamet wae hahahaha

  5. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    nanyanya pada orang yang salahhh hehehe..lha wong kemarin saya ke terminal pulogadung kebingungan, nanya ke bapak2..malah dianter sampe depan loket..balasannya ucapan terimakasih saja πŸ™‚

  6. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    pas ngebolang di wsb, tanya ke pak ojeg, malah diajak kenalan.. Horok.. Piye jal??

  7. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    permisi mas…mau nanya……*eh..ntr..kudu bayar ga nih?*

  8. rawins said: tanya di kampung emang ga bayar, tapi kadang nyebelin juga…”deket mas paling juga sekilo lagi…”mlaku 2 jam belom nyampe juga…

    alhamdulillah tiap nanya gak pernah dipungut bayaran. Mungkin karena wajahku nyeremin kali ya? Hahahaha

  9. sulisyk said: Di kota kita memang harus pinter2 melihat situasi, kepada siapa kita harus bertanya, waspada dan selalu siap menghadapi kemungkinan itu yang harus kita miliki, salaman salamun selamet wae hahahaha

    nah itu intinya….cari selamet

  10. rengganiez said: nanyanya pada orang yang salahhh hehehe..lha wong kemarin saya ke terminal pulogadung kebingungan, nanya ke bapak2..malah dianter sampe depan loket..balasannya ucapan terimakasih saja πŸ™‚

    beruntunglah dirimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s