Semarang, 1001 Kelenteng dan Akulturasi Budayanya

Semarang, sebagai pusat ibukota Jawa Tengah memiliki sejarah yang panjang dalam perkembangannya hingga saat ini. Pada abak ke 8 masehi, kawasan yang bernama Pragota, kini bernama Bergota adalah pesisir berupa pulau-pulau kecil yang masuk dalam kekuasaan Mataram Kuno. Pada abad ke 15 seorang yang dikenal sebagai Pangeran Made Pandan, yang dikenal sebagai Sunan Pandanaran 1, melakukan syiar agama Islam di daerah Pergota. Sering dengan waktu, daerah Pergota semakin ramai dan dan semakin banyak penduduknya. Didaerah tersebut juga terdapat sebuah pohon asam (Tamarindus indica), yang kini menjadi nama Semarang yang berasal dari kata Asem dan Arang. Seiring berkembangnya waktu, semarang mengalami perubahan drastis. Dahulu semarang adalah kota pelabuhan dan pesisirnya dengan kanal-kanal yang saling menghubungkan. Terbukti pada tahun 1405 Laksamana Cheng Ho menyandarkan kapalnya di daearah sekitar pasa Bulu (sebelah utara Tugu Muda). Tempat pendaratannya tersebut lalu didirakan Masjid dan Kelenteng, yang saat ini terkenal dengan Sham Poo Kong, atau kuil Gedong Batu.
Mungkin ikon kota Semarang saat ini adalah, Gereja Blenduk, Tugu Muda atau Lawang Sewu, namun bagi anak Muda mungkin yang menjadi ikon adalah kawasan Simpang Lima. Namun jika ditelusur jauh kebelakang, Tugu Muda dan Lawang Sewu belum ada kisahnya, terlebih lagi dengan kawasan Simpang Lima. Mungkin akan terlalu jauh jika sejarah Semarang di mulai dari abad 8M, namun ada sebuah penggalan sejarah yang kini masih ada bukti keberadaanya, walau jaman telah menggilas masa lalu. Sebuah peninggalan sejarah masa lalu yang sampai saat ini masih tetap lestari dan layak di kunjungi adalah kawasan Pecinan. Bangunan dan budaya seperti tidak banyak berubah, dan tak berbeda dengan kawasan-kawasan Pecinan di tempat lain, seperti Petak 9 di Jakarta.
Kawasan Pecinan di Semarang terletak di dekat kota Lama denga ikon Greja Blenduk atau Polder Tawangnya. Lebih tepatnya didekat Pasar Johar, Semarang jika ingin memasuki kawasan Pecinan. Di awali dari gang Lombok, sebuah jalan yang tak asing bagi orang Semarang. Gang kecil yang berada di tepi sungai menjadi salah satu akses masuk kedalam kawasan Pecinan. Saat memasuki Gang Lombok, yang pertama kali dilihat adalah sebuah replika Kapal Kayu yang bersandar di Sungai. Namun jauh lebih Manarik lagi ada sebuah Kuil yang konon menjadi kuil induk kuil di Semarang. Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng yang menyiratkan napas Budhisme. Klenteng Tay Kak Sie menjadi simbol heroisme etnis Cina di Semarang atas perlawanan terhadap penjajahan dan menjadi simbol perlawanan ketamakan saudagar Yahudi yang dulu menguasai Klenteng Sam Poo Kong. Di gang Lombok juga terdapat makanan khas Kota Semarang. Lumpia di gang Lombok sangat terkenal, sehingga tidak salah berwisata sekaligus sejenak menikmati sajian kulinernya.
Kultur budaya etnis Ting Hoa begitu kental disini, dari mulau ritual ibadah di Klenteng, perayaan dan seremoni hari-hari tertentu hingga masalah bahasa. Mungkin jika kita masuk dalam kawasan Pecinan Semarang, tak bedanya kita ada di negeri seberang sana. Bahasa aseli tetep di pertahankan dan menjadi media komunikasi, begitu juga dengan bangunan-bangunan rumah maupun klenteng. Patung-patung yang penuh makna filosofi hingga bau wangin hio menghiasi sudut demi sudut kawasan Pecinan.
kawasan Pencinan bisa dikatakan kawasan dengan 1001 Klenteng, sebab hampir disetiap titik-titik atau Gang terdepat kelenteng. Ada 11 klenteng besar di Semarang, 10 di antaranya berada di kawasan Pecinan, yaitu Klenteng Hoo Hok Bio, Siu Hok Bio, Tay Kak Sie, Kong Tik Soe, Tong Pek Bio, Liong Tek Hay Bio, Hok Bio, See Hoo Kong, Wie Wie Kiong, dan Klenteng Grajen. Sedang Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. Setiap bangunan Kelenteng mempunyai cerita historisnya masing-masing, begitu juga dengan makna filosofi disetiap bangunannya.
Berbicara kawasan pecinan mungkin tak akan ada habisnya di bahas, apalagi denga Kelenteng-kelentengnya. Sedikit keluar dari kawasan Pecinan, namun tetap dengan nuansa Tiong Hoa. Ada 2 buah kelengteng yang wajib menjadi tujuan kunjungan, yakni Kuil Gedong Batu dan Watu Gong. Kuil Gedong Batu yang di kenal dengan Sampoo Kong adalah Klenteng yang paling istimewa. Sebuah bangunan dengan simbol akulturasi budaya; Tri Dharma, Budha dan disekitarnya terdapat makam Islam. Akulturasi 3 budaya masa lalu yang terus ada hingga saat ini, sebagai bukti bahwa jaman dulu toleransi beragama dan hidup berdamping itu ada. Tujuan terakhir ada Budha Ghayaa, sebuah kuil Budha yang menjulang tinggi. Terletak di Watu Gong semarang, sebuah kuil dengan pohon Bodi yang rimbun. Walau sebagai tempat ibadah, kuil ini bisa di kunjungi siapa saja dan terbuka untuk umum. Semarang, nuansa 1001 kelenteng yang tak akan habis di gerus jaman. Budaya masa lalu membuka tabir tentang peradaban jaman dulu dan kini membuka cakrawala untuk menuju esok hari yang lebih baik.
Salam
DhaVe

41 thoughts on “Semarang, 1001 Kelenteng dan Akulturasi Budayanya

  1. slamsr said: baru tahu kalo dulu cheng ho mendarat di deket pasar bulu..ini dapet cerita sejarah dari mana mas dhave?

    dari google hehehe…. ada kok sejarahnya… gedong batu ada relief dan ceritanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s