Udara dan Aroma Kepalsuan di Ibu Kota

Biasa hidup serakah dan berkelimpahan, tiba-tiba harus berbagi dan berebut serta merasakan ketidaknyamanan. Sungguh sulit disaat harus berada dihabitat baru yang memaksa secepatnya beradaptasi atau harus menyingkir atau tersingkir. Biasa hidup di alam pedesaan, naik gunung, tinggal diatas ketinggian 1500mdpl, bebas polusi sungguh habitat yang cocok bagi saya. Bagaimana jika suatu saat dihadapkan dengan habitat yang sama sekali bertolak belakang dengan lokasi keseharian, ibarat siksa dunia.

Suatu saat harus turun gunung untuk menghadiri pertemuan. Berada di ketinggian tak lebih dari 100mdpl, dipusat kota, udara panas dan sangat kontras dengan kampung halaman. Disebuah hotel, ibarat dunia sintetis yang saya rasakan. Pendingin ruangan seolah memanjakan saya dengan suhu 20-24C, dan aroma ruangan seperti dirumah sendiri. Namun itu hanya sesaat dan selanjutnya hanya rasa pening di kepala dan hendak muntah, mungkin aroma udara yang asing dan suhu yang selalu berubah dengan cepatnya. Saat keluar ruangan, seolah tubuh seperti masuk angin, dari udara dingin tiba-tiba panas menyengat.

Kepalsuan berlanjut saat masuk di Mall yang besar. Awalnya terkesima dengan ruangan yang besar, tata lampu yang baik dan sirkulasi udara yang nyaman. Akhirnya masuk di sebuah ruangan yang luas, dan banyak orang disana. Leher seolah tercekik dan kepala seperti dihimpit yang membuat pusing. Pujasera adalah dapur dan ruang makan raksasa. Api menggila untuk memanaskan makanan cepat saji, bertarung dengan nafas-nafas kelaparan dan kekenyangan. Entah berapa CO2 yang dihasilkan dan berapa O2 yang dibuat rebutan.

Hidup dipegunungan, memaksa tubuh memiliki hemoglobin yang banyak guna mengikat O2 sebanyak-banyaknya didalam lingkungan dengan udara tipis. Nah saat turun gunung, hemoglobin yang banyak seolah menjadi racun, bukan O2 yang diikat, namun gas-gas beracun yang masuk dan meracuni. Berjaya di gunung dan terkapar di mall, itu yang terasa. Entah mengapa tubuh menjadi lemah, kepala pusing dan mata berkunang-kunang dan hendak muntah. Kondisi ini terbalik disaat mengantar teman dari Ibu kota, saat hendak mendekati ketinggian 3000an mdpl tubuh mereka seperti saya saat masuk mall di tambah menggigil.

Cukup dan jangan lama-lama dalam kotak beton yang bertingkat-tingkat dan berjubel manusia. Berbagi dan berebut oksigen sungguh mengerikan. Mungkin bagi yang terbiasa akan teradaptasi sehingga akan sangat nyaman tinggal disana, tetapi mahluk asing seperti saya sangat tidak nyaman disana. Mungkin teman saya hanya orang-orang kampung yang jauh dari hingar bingar kota dan bebas polusi.

Entah mengapa keputusan untuk sedikit menjauh dari modernisasi berbau polusi menjadi pilihan. Oksigen melimpah, udara bersih, hawa sejuk, nuansa hening dan damai mungkin itu yang menjadi pertimbangan. Tetapi jangan keliru, dibalik serba keterbatasan dari modernisasi sudah bisa diimbangi teknologi komunikasi yang kadang membuat iri orang. Dinginnya udara dan sejuknya hawa jika tersampaikan rekan di ibu kota sana bisa membuat iri. Saya mau menjadi orang yang serakah… sendiri menikmati keindahan alam, menhirup udara segar sebnyak mungkin, dan berbagi setelah saya kembali..

Advertisements

35 thoughts on “Udara dan Aroma Kepalsuan di Ibu Kota

  1. rengganiez said: Dan waktu berjalan cepat di ibukotah..pfiuhh besok dah senen lg 😦

    Memang beda yah tinggal di ibukota ma pedesaan…larass pengennya jg tinggal di daerah pegunungan tp rejekinya masih nemplok di ibukota…hehe yah paling bwt refresing saja klu pas ruwet ma rutinitas sesekali nginep di puncak hehehe

  2. rengganiez said: Dan waktu berjalan cepat di ibukotah..pfiuhh besok dah senen lg 😦

    Akupun ingin jadi orang serakah, Dhave Serakah ingin memiliki udara yang bersih dan segar, tapi juga rejeki seperti yang diperoleh di dalam kotak-kotak beton di ibu kota πŸ™‚

  3. rengganiez said: Dan waktu berjalan cepat di ibukotah..pfiuhh besok dah senen lg 😦

    pengen mencicipi keindahan alam, naik gunung seperti mas danang.. Tapi apa mau di kata, aku fobia ketinggian.Pernah naik gunung bromo, naik bisa turunnya gak. Ampe pusing yg bawa aku. Hehehe

  4. rengganiez said: Dan waktu berjalan cepat di ibukotah..pfiuhh besok dah senen lg 😦

    Memang benar mas Dhave. Hidup di desa, di gunung jauh lebih enak dalam arti mendapat udara segar, suasana yang tenang dan juga tempat yang indah. Tapi bapa sih memang terpaksa sudah hidup di Jakarta hampir 40 tahun. Jadi diseneng-senengkan saja, he, he,he!

  5. rengganiez said: Dan waktu berjalan cepat di ibukotah..pfiuhh besok dah senen lg 😦

    mgkn aku kudu harus bersyukur ya tinggal di bali, bisa dibilang bali cukup kota, tapi lahan terbuka jg gak jauh dr tengah kota, msh terasa udara segar apalagi yg tinggal dipinggiran..

  6. larass said: Memang beda yah tinggal di ibukota ma pedesaan…larass pengennya jg tinggal di daerah pegunungan tp rejekinya masih nemplok di ibukota…hehe yah paling bwt refresing saja klu pas ruwet ma rutinitas sesekali nginep di puncak hehehe

    nah itu yang harus dikerjar mba

  7. chris13jkt said: Akupun ingin jadi orang serakah, Dhave Serakah ingin memiliki udara yang bersih dan segar, tapi juga rejeki seperti yang diperoleh di dalam kotak-kotak beton di ibu kota πŸ™‚

    mari kita serakah…. πŸ˜€

  8. lugusekali said: pengen mencicipi keindahan alam, naik gunung seperti mas danang.. Tapi apa mau di kata, aku fobia ketinggian.Pernah naik gunung bromo, naik bisa turunnya gak. Ampe pusing yg bawa aku. Hehehe

    wadooh…berat kalo sudah fobia

  9. hardi45 said: Memang benar mas Dhave. Hidup di desa, di gunung jauh lebih enak dalam arti mendapat udara segar, suasana yang tenang dan juga tempat yang indah. Tapi bapa sih memang terpaksa sudah hidup di Jakarta hampir 40 tahun. Jadi diseneng-senengkan saja, he, he,he!

    sikon yang memaksa ya Om….

  10. pennygata said: mgkn aku kudu harus bersyukur ya tinggal di bali, bisa dibilang bali cukup kota, tapi lahan terbuka jg gak jauh dr tengah kota, msh terasa udara segar apalagi yg tinggal dipinggiran..

    yups..syukur….apa yang ada dah Bu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s