Soto Ember Anti Pecah

Makanan enak, apakah itu? apakah paling banyak digemari, banyak dikonsumsi, banyak dibeli, atau itu hanya sebatas selera pribadi masing-masing orang. Mungkin bagi pecinta durian, ibarat memakan buah surgawi, tetapi yang anti durian akan seolah aroma neraka. Kembali pada selera, sebab ujung-ujungnya enak adalah selera. Faktor lain yang membuat makananan itu enak, karena lapar, rasa, aroma, penyajian atau mungkin penasaran saja ”belum eneg”. Ngobrolin penampilan dalam penyajian makanan, teringat bagaimana master juru masak dalam menghias makanan. Dengan garnis, maka makanan yang sederhana, mungkin tidak enak menjadi menggugah selera makan. Memang dari mata bisa langsung turun ke perut.

Pengalaman-pengalaman unik ini seolah membuat nafsu makan hilang gara-gara penampilan. Entah mengapa, gara-gara tampilan ini nafsu makan hilang, padahal tidak ada yang berubah dari makanan tersebut, baik rasa, aroma dan nutrisi, tetapi masalahnya adalah persepsi. Pemikiran dan sudut pandang inilah yang menghancurkan selera makan, sehingga mood baik ini langsung luntur dan hanyut tertelah otak kotor.

Suatu ketika beli soto di sudut jalan. Sebuah warung kecil yang sudah menjadi langganan banyak orang sudah berjubel yang mengantri. Duduk dikursi sambil menunggu semangkok soto yang hangat dan beraroma sedap. Akhirnya datang juga dan tanpa basa-basi sendok ini berjalan otomatis memindahkan material dalam mangkok menuju mulut. Tiba-tiba pada suapan yang kelima, ada yang aneh nie didalam mulut. Keras, bulat, kecil dan memanjang, akhirnya telunjuk dan jempol masuk ke mulut guna melakukan penyelidikan. Busyet sebuah peniti menjadi pelengkap dalam semangkok soto. Sepintas terpikir, untung gak tertusuk, untung gak ketelan dan untung hanya peniti. Mencoba menghibur diri dengan ”si untung” tetapi otak ini berkata lain ”jangan-jangan habis buat korek kuping”. Sendok dilipat, bayar dan pergi.

Dilain tempat, sehabis turun gunung dan beristirahat disebuah warung kecil. Salah satu diantara 20 dari kami pesan ”bu mie instant 20 bu”, ”baik mas” jawab ibu penjual. Sambil menunggu mie instant, kami ngobrol ngalor ngidul. Akhirnya pesanan datang juga, tumpukan piring menghampiri kami. Dasar perut memang lapar, seolah tak sabar menunggu mie rebus yang dipesan. Akhirnya datang juga, namun diluar dugaan dan memang itu kenyataan. 20 bungkus mie direbus jadi satu dalam panci besar, setelah masak lalu dipindahkan dalam ember hitam. Ember bertuliskan ”Anti Pecah” seolah mangkok raksasa dan memaksa kami swalayan dengan piring masing-masing untuk menakar 1 piring untuk 1 bungkus mie. Karena lapar apa boleh buat, sikat dan hajar saja. Namun disisa-sisa penghabisan, terpikir ini ember bekas untuk apa ya?. Mungkin habis buat cuci piring, rendam pakaian, atau untuk apa. Belum selesai makan, tiba-tiba terdengar suara bayi nangis dan ternayata anak dari penjual mie tersebut. Dibali kamar terdengar ”nduk ntuh popok adik di ganti, pakaian yang kena eek taruh aja di ember ntar ibu yang nyuci”. Ehmmmm langsung kenyang seketika.

Parah lagi saat pesat kepala binatang hewan mamalia. Ada seorang teman dari salah satu pulau di Indonesia. Waktu itu kita dari tempat pemotongan hewan, dan sepakat membeli 2 kepala binatang mamalia. Kebetulan waktu itu saya jadi tukang potongnya. Maksudnya yang mbersihin kepala dan memotong-motong sebelum di masak. Nah saat mutilasi dilakukan, teman berkata ”heh sini..itu telinga kasih saya”. Maka telinga saya potong untuk diberikan pada teman tadi. Dengan sigap teman tersebut melemparkan dalam bara api, yang terlintas di otak saya ”owh telinganya di bakar”. Beberapa saat kemudian , dia minta kecap dan garam, lalu menungkan dalam piring. Telinga yang tadi dimasukan dalam bara api diambil dalam keadaan setengah hangus. Seperti makan rujak, maka daun telingan dicocol dalam kecap dan garam lalu ”kriuuk..kriuuuk..kriuk” yang terdengar. Itu baru telingan, kemudian berlanjut pada lidah. Busyet habis ini saya yang dimakan.

Persepsi, apalah itu bentuknya adalah buah dari pikiran yang acapkali menjadi bayang-bayang bencana. Nafsu makan dan mood ini gara-gara otak kotor yang mikir yang aneh-aneh. Insiden peniti, ember anti pecah dan daun telinga, mungkin akan mulus jika penyajian yang manis, sehingga otak kotor itu tidak muncul. Jika perut ingin selamat dan nafsu terjaga, letakan dan istirahatkan otak agar menjadi kenyang.

salam

DhaVe

Advertisements

38 thoughts on “Soto Ember Anti Pecah

  1. dhave29 said: Sendok dilipat,

    Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

  2. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    peniti?Jangan2 penglaris. . .*otak curiga*

  3. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    peniti?Jangan2 penglaris. . .*otak curiga*

  4. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    uwaah begitu keras nya kehidupan hahaa..tapi jadi seru akhirnya ya mas…

  5. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    weleh…. mosok yo ning ember? mbok mending2 ning panci ae tho…

  6. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    wah keren tuh mie instannyamie rebus asam manis asin asem namanya…

  7. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    Jadi ingat Suzzana. :p

  8. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    mie instan rasa eek =))

  9. pennygata said: Dulu tante aku pernah nemu didapurnya tukang sate yg dia beliin, ada segala macem pernak perniknya tikus mati, dr ekor, sisa kaki, sisa kepala dll.. Sejak itu tanteku ndak doyan sate..

    wuahahhaha….. lebih gawat ikuh 😦

  10. slamsr said: bwahaha mampir ke mekdi atau kaefsi aja masbwahahahaha masih mbayangin anak yg popoknya direndam di ember…*langsung pengen muntah*

    Mas Dhave, ditanyain penggemar ada twitter, gak? 😀

  11. slamsr said: bwahaha mampir ke mekdi atau kaefsi aja masbwahahahaha masih mbayangin anak yg popoknya direndam di ember…*langsung pengen muntah*

    Eh, daku mampir ke sini gegara dimention sama as Slamet di twitter :Dkalau mienya bekas rendaman lap petronas piye, Jal? 😛

  12. slamsr said: bwahaha mampir ke mekdi atau kaefsi aja masbwahahahaha masih mbayangin anak yg popoknya direndam di ember…*langsung pengen muntah*

    Kemarin perasaan aku buka empi, kok kelewat catatan ini, yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s