Raja tak Seperti WC Umum

Pepatah mengatakan ”tamu adalah raja, pembeli adalah raja” jadi dengan kata lain, konsumen adalah raja. Namanya raja, tau sendiri, semua harus serba benar dan pelayanan harus maksimal. Andaikata di sebuah istana atau kerjaan, maka rajanya cukup satu saja sehingga akan dengan mudah melayani dan mengerti selerannya. Nah bagaimana jika rajanya banyak dengan selera yang berbeda, maka bersiap pusing tuju keliling dan nikmati puyer dari bintang tuju.

Sebagai penyedia jasa di bidang dokumentasi ibarat melayani raja-raja dengan selera beraneka macam. Raja yang meminta dan raja yang membayar, apapun permintaannya harus ditururti. Yang namanya penjual jasa, apabila kena komplain tentusaja akan ”galau” kata anak jaman sekarang dan bisa berpengaruh terhadap reputasi.

Suatu saat mendapat tugas untuk motret dokumentasi acara. Katakanlah acara tersebut sebuah seminar dalam ruangan yang besar. Yang terekam diotak fotografer saat itu adalah bagaimana mengabadikan setiap momment yang terjadi dan merekamnya dalam setaip gambar. Tidak ada kata pengulangan, dan ”one shoot one kill” alias sekali jadi. Akhirnya selesai juga acaranya dan saatnya menyerahkan file-file yang sudah terpilih. Dalam hati sepertinya puas, karena semua momment terekam dengan baik dan tak ada satupun yang terlewat. Namun, Raja kali ini berkata lain dengan nada tidak puas. Satu persatu file diperiksa lalu di zoom sampai detail-detailnya dan keluar kalimat ”apa ini tidak jelas, orang dibelakang kabur, ini gelap, ini tidak fokus orangnya” dan lain sebainya.

Dimata tukang foto, semua bisa dikoreksi, gelap terangnya, warna dan macem-macemnya. Namun, momment tidak bisa di koreksi, dari sekian banyak orang, Raja ini minta semua senyum, melek dan menghadap kamera dan semuanya kelihatan jelas dan detail. Dalam hati, ngimpi kali ya, ini gambar hanya bisa diambil dengan pencahayaan yang baik dan semua orang di arahkan. Yang menjadi heran lagi, kenapa di zoom sampai ukuran terbesar, dan bilang tidak jelas, apakah akan di cetak ukuran 3x4m.?. Jika hanya di cetak hanya ukuran 4-5R, makan ukuran gambar dengan kamera 12MP sudah sangat mumpuni.

Nyleneh lagi dengan Raja sehari, alias acara pernikahan. Prinsip fotografer adalah mengabadikan tiap momment, yang cantik makin cantik yang jelek tidak keliatan jelek-jelek amat. Sebuah tantangan bagaimana mencari sudut pandang agar gambar tersebut pas dan enek dipandang mata. Komposisi, pola, pencahayaan, gaya dan lain sebagainya harus segera terpikirkan. Usai pengambilan gambar harus ada pengeditan sebelum turun cetak. Nah usai dicetak, ditaruh dialbum dan bersiap mempersembahkan kepada raja.

Lembaran foto dalam album dilihat, dibolak-balik dengan dahi mengkerut seolah tidak ada senyum yang mengembang. Lalu ada sebuah klaim ”kenapa ini belakangnya kabur..?”, ”oh ini agar obyeknya, maksut saya mempelai berdua saja yang kelihatan dan orang-orang yang berlalu lalang dibelakangnya tidak kelihatan, sehingga gambar tidak kacau”. Gelengan kepala menandakan ketidak puasan, seolah ini kamera udik yang tidak bisa merekam semua yang ada. Inti yang ditangkap dari komplain ini adalah semua kelihatan jelas, tidak ada yang perlu di kaburkan, di gelapkan atau dihilangkan, pokoknya semua kelihatan. Jadi buat apa membawa lensa mahal dengan diafragma bukaan lebar, namun raja adalah raja.

Sang Raja belum kelar ngamuk-ngamuknya, isi kerjaan ikut nimbrung juga. Ibarat menjadi tersangka ditengah hakim-hakim dan algojo yang siap merajam dengan mulut-mulut singa. ”gimana sih mas, kok saya kelihatan gemuk”, ”loh make up saya kok jelek, padaha; saya di salon mahal”, ”lah aku kok kelihatan tua begini” dan masih banyak lagi. Inti yang bisa disimpulkan, semua ingin tampil cantik, menawan dan mempesona. Yang badannya bongsor kaya lele dumbo gimana dibuat langsing seperti ikan pesut, yang kulitnya hitem dibuat seperti girl band asal korea, yang memang tua keriput pengin kaya Mallinda Dee. Sungguh keluarga ini memang unik, bahkan foto dengan tampilan hitam putih agar terlihat elegan dan dramatis disemprot habis-habisan. Intinya mereka mau, warna-warni, meriah dan sedikit norak. Baiklah, saya ulang edit dan cetaknya sesuai permintaan dan mohon bersabar beberapa hari. Akhirnya lipstik merah menyala, badan sedikit di lonjongin, kulit hitam diusek-usek biar putih, nenek peot dibedakin jadi muda lagi, kasih bunga warna-warni, back ground ganti taman di eropa dan savana diafrika.

Selera apapun bentuknya, entah itu perfect, norak, atau apa adanya tergantung pribadi masing-masing. Dari selera sebuah gambar bisa diketahui seberapa besar orang itu tahu bagaimana gambar ini diambil lalu diproses beserta tingkat kesulitan dan nilai seninya. Bagi yang modal hajar saja tak peduli dengan urusan fotografer yang penting saya kelihatan cantik, ganteng, gagah, tidak gemuk dan kulit putih tanpa melihat takdir dalam dirinya. Namun dengan teknologi yang ada, semua bukan masalah yang sulit, karena olah digital bisa menjawab. Yang punya jerawat sebesar biji jagung bisa dihilangkan, yang UGM ”untu gede merongos” bisa disamarkan, yang punya berat badan berlebih bisa dikurusin dikit, yang berkulit hitam bisa dikasih lulur, bahkan ada yang minta rambut buat kepalanya dengan jidat lampu taman pun siap dilayani. Raja-raja yang aneh dan selera yang unik yang tidak seperti WC, sebab WC aja ada yang umum tetapi meraka tidak umum alias tidak lazim. Pembeli adalah raja..

salam

DhaVe

16 thoughts on “Raja tak Seperti WC Umum

  1. kadang2, sebelum motret, ngobrol dulu dengan yg empu-nya. jadi kita bisa ‘tangkap’ apa yg dia inginkan. Tapi emang tricky ya. harus pinter2 menangkap apa yang tersirat dibalik yang tersurat.. halah..

  2. ariesnawaty said: kadang2, sebelum motret, ngobrol dulu dengan yg empu-nya. jadi kita bisa ‘tangkap’ apa yg dia inginkan. Tapi emang tricky ya. harus pinter2 menangkap apa yang tersirat dibalik yang tersurat.. halah..

    lah itu yang serba tersirat tanpa tersurat wadah….puyeng kan,,,,, kadang mereka mau tapi tidak tahu hahahha itu tantangannya

  3. ariesnawaty said: kadang2, sebelum motret, ngobrol dulu dengan yg empu-nya. jadi kita bisa ‘tangkap’ apa yg dia inginkan. Tapi emang tricky ya. harus pinter2 menangkap apa yang tersirat dibalik yang tersurat.. halah..

    wakakaka diusek usek je ….hahahaha nek aku difoto koyok opo yo wes nggene iki rupaku🙂

  4. ariesnawaty said: kadang2, sebelum motret, ngobrol dulu dengan yg empu-nya. jadi kita bisa ‘tangkap’ apa yg dia inginkan. Tapi emang tricky ya. harus pinter2 menangkap apa yang tersirat dibalik yang tersurat.. halah..

    hahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s