Penjara Berdinding Mewah

Pernah dengar cerita pejabat atau pengusaha jatuh miskin..?. Bukan cerita lama di negeri kita pejabata atau pengusaha demikian, jangankan jatuh miskin, parah lagi semua sia-sia dan masuk bui dan stress berat. Banyak faktor yang menjadi penyebab, selain apes, jadi korban hingga sifat manusiawi yang tamak, serakah dan lain sebagainya. Tetapi tidak sedikit yang tetap berjaya walau dengan tetap apa adanya, kesederhanaan dan kejujuran.

Ada sebuah cerita, dari teman yang mendadak menjadi kaya. Teman ini bukan tiba-tiba dapat warisan dari jendral tujuh bintang MLM atau dapat undian dari bank, namun menjadi wakil rakyat. Sebuah jabatan yang berkedudukan terhormat, punya kuasa, dan wewenang yang orang lain tidak dimiliki. Singkatnya, setelah diangkat menjadi pejabat, seperti biasa segera mengeruk pundi-pundi rupiah agar segera balik modal. Modal dalam wujud mobil, rumah 3 lantai, toko dan usaha lainnya. Dalam jangka waktu kurang 5 tahun sudah berdiri rumah megah, mobil mewah, dan investasi usaha lain.

Sungguh perubahan yang drastis, akhirnya waktu berlalu dan saatnya pemilihan ulang. Kali ini kompetisi semakin ketat dan modal semakin besar. Maka sedikit demi sedikit, mobil di jual, toko-toko sudah di gadaikan dan rumah menjadi barang jaminan. Akhirnya untang tak dirain bencana datang bertubi. Gagal terpilih menjadi wakil rakyat, mobil melayang, toko jadi milik orang dan rumah jadi barang sitaan. Mengenaskan, dan kembali hidup serba pas-pasan.

Teringat saat saya dan teman-teman jalan tiba-tiba di belakang ada klakson mobil dan lambaian tangan keluar dari jendela. Sang pejabat dengan mobil barunya barusan lewat. Saat bertandang kekediamannya, hanya segelas air mineral dan teras depan rumah yang menaungi. Sambutan sederhana dan apa adanya disaat berjaya, seolah ada pagar-pagar pembatas. Dahulu jauh kebelakang, sama-sama jalan menyusuri trotoar, makan lesehan dipinggir jalan, atau bercengkrama di ruang tamu yang begitu hangat. Semua berubah drastis disaat kekuasaan, wewenang dan uang berdatangan.

Sebuah analogi sederhana muncul, dari deretan cerita tersebut. Mengapa dia gagal, mengapa dia kembali jatuh miskin?. Sebuah kesimpulan kecil muncul disaat tembok rumah 3 lantai, mobil mewah dan investasinya berteriak ”akulah dinding pembatas yang rapuh”. Dia terlalu banyak menciptakan dinding-dinding daripada membangun jalan. Dia lupa berjalan dengan siapa disaat hendak menjadi pejabat dengan memanjakan diri dari dalam kabin roda empatnya. Dia membatasi diri dengan rumah mewah, dan orang lain cukup teras kecilnya saja. Dinding pembatas sudah dibangun sedemikian kokoh dan tebal akhirnya runtuh ditangan juru sita, dan jalanan yang seharusnya dibangun kini sirna entah kemana.

Mereka yang hidup dengan terlalu banyak membangun tembok buat dirinya dan sedikit membuka pintu untuk membangun jalan, berakhir dalam pembatas yang runtuh tanpa ada jalan keluar yang saling menghubungkan. Banyak pejabat yang banyak membangun tembok daripada jalan dan berakhir dengan kehancuran. Bagi mereka yang selalu membangun jalan penghubung akan terus berjalan, beinteraksi dengan semua pihak dan terus berjalan. Membangun relasi, silaturahmi memperkokoh perjalanan daripada dinding mewah yang memenjarakan diri dalam kehancuran.

salam
DhaVe

14 thoughts on “Penjara Berdinding Mewah

  1. sulisyk said: butuh pejabat yg punya hati nurani dan moral tinggi, tp saat ini pejabat spt ini susah dicari spt mencari jarum dlm tumpukan jerami

    masalhnya sekarang jarum dan jeraminya juga gak ada,,,,sangat susah Om…

  2. rembulanku said: mugo2 ana pejabat sing macasing luwih apik yen ana calon wakil rakyatmak sliwer maca *ngacung jempol*

    sik..sik pejabat lagi kursus internet loh… di belikan letop mahal-mahal tapi gak bisa make… tapi semoga masih bisa baca yah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s